• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Thursday, June 25, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

AS Akui Tatanan Dunia Lama Sudah Berakhir, Rusia dan China Perlu Diwaspadai

by Redaksi Asiatoday
September 14, 2023
in News
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Menlu AS: Kami Bersama ASEAN Hadapi Arogansi China di Laut China Selatan

Menteri Luar Negeri AS, Antony Blinken. Dok

ASIATODAY.ID, WASHINGTON – Amerika Serikat (AS) akhirnya mengakui bahwa tatanan dunia lama telah berakhir.

Menteri Luar Negeri (Menlu) AS, Antony Blinken mengklaim dunia saat ini sedang bertransisi ke tatanan diplomatik baru.

Menurut Blinken, Washington harus memimpin dalam mengatasi meningkatnya ancaman dari Rusia dan China dengan bekerja sama dengan sekutu-sekutunya untuk membangun kepercayaan di antara negara-negara yang tidak menerima sistem lama.

RelatedPosts

Middle East Conflict Exposes Southeast Asia’s Energy Vulnerability

MSCI Keeps Indonesia in Emerging Market Club but Flags Transparency Risks in Stock Market

Indonesia Yet to Decide 2026 Nickel Output Levels as Market Speculation Grows

“Satu era telah berakhir, era baru telah dimulai, dan keputusan yang kita ambil sekarang akan membentuk masa depan selama beberapa dekade mendatang,” ujar Blinken pada Rabu (13/9/2023) dalam pidatonya di Universitas John Hopkins di Washington.

Dia mengatakan, “Tatanan pasca-Perang Dingin berakhir ketika stabilitas geopolitik yang relatif stabil selama beberapa dekade telah digantikan oleh persaingan yang semakin ketat dengan kekuatan otoriter.” Yakni, kekuatan-kekuatan tersebut dipimpin oleh Rusia dan China, menurut Blinken.

Dia menambahkan, “Perang agresi Rusia di Ukraina adalah ancaman yang paling mendesak dan paling akut terhadap tatanan internasional.” China merupakan tantangan jangka panjang terbesar, menurutnya, karena China ingin membentuk kembali tatanan internasional dan mengembangkan kekuatan ekonomi, diplomatik, militer, dan teknologi untuk mewujudkan hal tersebut.

“Beijing dan Moskow bekerja sama untuk membuat dunia aman bagi otokrasi melalui kemitraan ‘tanpa batas’ mereka,” tegas Blinken.

Blinken mengklaim Rusia dan China telah menggambarkan tatanan yang ada sebagai “pemaksaan Barat,” namun sistem tersebut berakar pada nilai-nilai universal dan diabadikan dalam hukum internasional.

Ironisnya, dia juga menuduh kedua negara tersebut percaya negara-negara besar dapat “mendiktekan pilihan mereka kepada negara lain,” tuduhan yang semakin banyak dilontarkan terhadap Washington.

“Saat Beijing dan Moskow di seluruh dunia mencoba mengubah atau meruntuhkan pilar-pilar sistem multilateral, ketika mereka secara keliru mengklaim tatanan tersebut ada hanya untuk memajukan kepentingan Barat dengan mengorbankan kepentingan negara lain, negara-negara dan rakyat global akan berdiri dan berkata, ‘Tidak, sistem yang Anda coba ubah adalah sistem kami. Ini demi kepentingan kami,’” klaim Blinken.

Blinken menyatakan AS akan memimpin “dari posisi yang kuat” terutama karena “kerendahan hati” yang dimilikinya.

Dia menambahkan, “Kami tahu bahwa kami harus mendapatkan kepercayaan dari sejumlah negara dan warga negara yang tidak dapat dipenuhi oleh banyak janji-janji yang diberikan oleh tatanan lama.” Aliansi akan menjadi kunci keberhasilan Washington, menurut Blinken.

Dia mengklaim hanya beberapa tahun setelah kemampuan dan relevansi NATO dipertanyakan secara terbuka, blok militer Barat telah menjadi “lebih besar, lebih kuat, lebih bersatu dari sebelumnya.”

“Konflik Rusia-Ukraina membuktikan serangan terhadap tatanan internasional di mana pun akan merugikan orang di mana pun,” ungkap Blinken.

Dia menambahkan AS bertujuan memastikan Ukraina mengalahkan Rusia dan keluar dari konflik sebagai “demokrasi yang dinamis dan sejahtera.” (ATN)

Simak Berita dan Artikel yang lain di Google News

Tags: Indo Pasifik
No Result
View All Result

Terbaru

  • Middle East Conflict Exposes Southeast Asia’s Energy Vulnerability
  • MSCI Keeps Indonesia in Emerging Market Club but Flags Transparency Risks in Stock Market
  • Indonesia Yet to Decide 2026 Nickel Output Levels as Market Speculation Grows
  • Indonesia Unveils 30 Million Carbon Credits in Bid to Become Global Carbon Market Powerhouse
  • ADB Unleashes $100 Million Digital Bond to Power Asia’s Next Economic Revolution
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.