ASIATODAY.ID, HANOI – Pandemi Covid-19 belum berlalu, jutaan orang di Vietnam kini harus menghadapi bencana alam banjir dan tanah longsor.
Menurut Palang Merah Vietnam, bencana alam tahun ini merupakan yang terburuk di negeri itu sepanjang dekade terakhir.
Selama Oktober ini, banjir dan tanah longsor di sejumlah wilayah di Vietnam telah menewaskan lebih dari 100 orang. Banyak dari korban tewas adalah prajurit Vietnam, dengan puluhan lainnya masih dinyatakan hilang.
“Ke mana pun kami pergi, rumah-rumah serta berbagai ruas jalan serta infrastruktur terendam banjir,” kata Palang Merah Vietnam, dilansir dari BBC, Rabu (21/10/2020).
Sejumlah wilayah di Vietnam, terutama di bagian pusat, terus diguyur hujan deras dalam beberapa pekan terakhir. Hujan diperkirakan terus mengguyur Vietnam dalam beberapa hari ke depan, yang dikhawatirkan memperparah situasi di lapangan.
“Banjir mematikan ini merupakan salah satu yang terburuk dalam beberapa dekade terakhir,” kata Presiden Masyarakat Palang Merah Vietnam, Nguyen Thi Xuan Thu.
“Bencana alam ini menghancurkan kehidupan jutaan orang yang sudah menderita akibat pandemi covid-19,” sambungnya.
Sejauh ini banjir di Vietnam telah merendam setidaknya 178 ribu rumah dan menghancurkan berbagai hasil panen. Hampir 700 ribu hewan juga mati atau tersapu banjir di tengah guyuran hujan deras.
“Kami berusaha semaksimal mungkin untuk menyalurkan bantuan dengan kapal, atau via udara dan darat. Bantuan berupa makanan, air bersih, terpal, dan barang esensial lainnya,” kata Thu.
Federasi Palang Merah Internasional (IFRC) mengatakan, ratusan ribu orang di Vietnam membutuhkan penampungan darurat, air minum yang aman, dan makanan demi mencegah krisis kemanusiaan.
“Musibah banjir ini akan mendorong jutaan orang ke jurang kemiskinan,” ujar petinggi IFRC, Christopher Rassi.
Sejauh ini, IFRC telah menyalurkan dana bantuan sebesar USD325 ribu atau setara Rp4,7 miliar untuk Vietnam. (ATN)
