ASIATODAY.ID, JAKARTA – China menguasai hampir 80 persen Industri Nikel di Indonesia. Mengapa hal itu terjadi?
Menurut Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Bahlil Lahadalia, pengelolaan nikel di Indonesia dikuasai asing, khususnya China disebabkan oleh banyak hal.
Bahlil mengungkapkan, saat ini proyek smelter nikel yang didominasi sejumlah perusahaan asal China karena orang-orang di Indonesia tidak bisa memiliki smelter sendiri. Padahal soal nikel, Indonesia termasuk negara yang memiliki cadangan besar.
Menurut Bahlil, salah satu sebab yang krusial ialah dukungan perbankan.
Di Indonesia, perbankan hanya mau membiayai jika pengusaha lokal mempunyai modal inti atau ekuitas di atas 30-40 persen.
Idealnya kata Bahlil, perbankan nasional hanya mempersyaratkan ekuitas sekitar 10-20 persen, sebab untuk membangun satu line itu butuh investasi sekitar US$200-250 juta.
“Kalau sistem perbankan kita tidak memberikan kelonggaran kepada pengusaha-pengusaha nasional, khususnya yang pribumi, bagaimana bisa bangun smelter,” kata Bahlil di kompleks DPR RI baru-baru ini.
Dilain pihak, ekuitas yang diberikan perbankan asing hanya sekitar 10 persen dengan bunga yang kecil. Karena itulah, hilirisasi di Indonesia didominasi dan dikuasai asing.
“Inilah masalahnya, kemudian kita ribut, kenapa asing semua yang ambil bahan baku kita. Mereka ini melakukan investasi, anehnya, kita punya duit tapi kita bikin standby loan (SBL) untuk kredit konsumsi, bukan produktif,” jelas Bahlil.
“Tentunya ini masalah besar yang harus dibereskan. Saya sudah bicara berkali-kali, selama ini tidak kita ubah, kita tidak akan punya smelter di republik ini,” tandasnya. (ATN)
Simak Berita dan Artikel yang lain di Google News
