• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Thursday, June 11, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home Business

China Kuasai Industri Nikel di Indonesia, Mengapa Terjadi?

by Redaksi Asiatoday
December 20, 2022
in Business
Reading Time: 1 min read
A A
0
Lemhanas Tinjau Investasi Smelter Nikel di Sulawesi

Kawasan industri PT Virtue Dragon Nickel Industrial Park (VDNIP) di Kecamatan Morosi, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara (Sultra). Dok

ASIATODAY.ID, JAKARTA – China menguasai hampir 80 persen Industri Nikel di Indonesia. Mengapa hal itu terjadi?

Menurut Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Bahlil Lahadalia, pengelolaan nikel di Indonesia dikuasai asing, khususnya China disebabkan oleh banyak hal.

Bahlil mengungkapkan, saat ini proyek smelter nikel yang didominasi sejumlah perusahaan asal China karena orang-orang di Indonesia tidak bisa memiliki smelter sendiri. Padahal soal nikel, Indonesia termasuk negara yang memiliki cadangan besar.

RelatedPosts

Indonesian Cooperatives Minister Backs Cooperative-Led Sugarcane Downstreaming

Indonesia Moves to Control Global Nickel Pricing With New National Minerals Exchange

Indonesia Centralizes Strategic Commodity Exports Under Single-State Gateway

Menurut Bahlil, salah satu sebab yang krusial ialah dukungan perbankan.

Di Indonesia, perbankan hanya mau membiayai jika pengusaha lokal mempunyai modal inti atau ekuitas di atas 30-40 persen.

Idealnya kata Bahlil, perbankan nasional hanya mempersyaratkan ekuitas sekitar 10-20 persen, sebab untuk membangun satu line itu butuh investasi sekitar US$200-250 juta.

“Kalau sistem perbankan kita tidak memberikan kelonggaran kepada pengusaha-pengusaha nasional, khususnya yang pribumi, bagaimana bisa bangun smelter,” kata Bahlil di kompleks DPR RI baru-baru ini.

Dilain pihak, ekuitas yang diberikan perbankan asing hanya sekitar 10 persen dengan bunga yang kecil. Karena itulah, hilirisasi di Indonesia didominasi dan dikuasai asing.

“Inilah masalahnya, kemudian kita ribut, kenapa asing semua yang ambil bahan baku kita. Mereka ini melakukan investasi, anehnya, kita punya duit tapi kita bikin standby loan (SBL) untuk kredit konsumsi, bukan produktif,” jelas Bahlil.

“Tentunya ini masalah besar yang harus dibereskan. Saya sudah bicara berkali-kali, selama ini tidak kita ubah, kita tidak akan punya smelter di republik ini,” tandasnya. (ATN)

Simak Berita dan Artikel yang lain di Google News

No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia Seeks Global Investment to Transform National Park Conservation
  • The Hidden Cost of Indonesia’s Nickel Boom: Deaths, Pollution, and Rights Violations
  • ADB Approves $750 Million for Strategic Türkiye Rail Link Connecting Europe and Asia
  • World Bank and Japan Launch New Push to Secure Global Critical Minerals Supply Chains
  • Indonesia-EU Trade Deal Set for 2027, Opening Tariff-Free Access for Most Exports
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.