• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Friday, June 5, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

China: NATO Penyebab Perang Rusia-Ukraina

by Redaksi Asiatoday
March 10, 2022
in News
Reading Time: 1 min read
A A
0
China: NATO Penyebab Perang Rusia-Ukraina

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Zhao Lijian. Dok

ASIATODAY.ID, BEIJING – China menuduh NATO yang dipimpin oleh Amerika Serikat (AS) telah mendorong ketegangan antara Rusia dan Ukraina ke “titik puncak.”

Demikian pernyataan yang dikeluarkan oleh juru bicara Kementerian Luar Negeri China Zhao Lijian.

Pada jumpa pers harian, dia mendesak AS untuk menanggapi kekhawatiran China dengan serius dan menghindari merusak hak atau kepentingannya dalam menangani masalah Ukraina dan hubungan dengan Rusia.

RelatedPosts

Indonesia: UN Experts Condemn Military Trial in Acid Attack Case Targeting Human Rights Defender Andrie Yunus

Indonesia’s Rupiah Hits Record Low as OECD Warns Economy Is Falling Behind Vietnam

Indonesia’s Massive Free Meals Program Set to Reach 85 Million Beneficiaries

Dia juga mengatakan China menentang sanksi dan pembatasan sepihak oleh AS, dan mendesak agar kebijakan Washington terhadap Ukraina dan Rusia tidak boleh merugikan hak serta kepentingan China.

“China akan mengambil semua tindakan yang diperlukan untuk secara tegas membela hak-hak perusahaan dan individu China,” kata Zhao seperti dikutip dari CNA, Kamis (9/3/2022).

Sebelumnya, Menteri Perdagangan AS Gina Raimondo mengatakan kepada New York Times, perusahaan China yang menentang pembatasan AS terhadap ekspor ke Rusia dapat terputus dari peralatan dan perangkat lunak Amerika yang mereka butuhkan untuk membuat produk mereka.

Dalam sebuah wawancara yang diterbitkan pada hari Selasa, Raimondo mengatakan, AS pada dasarnya dapat “menutup” Semiconductor Manufacturing International Corp (SMIC) atau perusahaan China mana pun yang menentang sanksi AS dengan terus memasok chip dan teknologi canggih lainnya ke Rusia.

Washington juga mengancam akan menambahkan perusahaan ke daftar hitam perdagangan jika mereka menghindari pembatasan ekspor baru terhadap Rusia, karena hal itu meningkatkan upaya untuk menjaga beragam teknologi keluar dari negara yang menginvasi Ukraina bulan lalu.

“Jika AS mengetahui bahwa perusahaan seperti SMIC menjual chipnya ke Rusia, kami pada dasarnya dapat menutup SMIC karena kami mencegah mereka menggunakan peralatan dan perangkat lunak kami,” kata Raimondo.

SMIC sendiri tidak segera menanggapi permintaan komentar terkait hal itu. (ATN)

Tags: Krisis Ukraina
No Result
View All Result

Terbaru

  • Global Markets Warn Indonesia’s Nickel Industry: Prove It’s Green or Risk Losing Access
  • Indonesia: UN Experts Condemn Military Trial in Acid Attack Case Targeting Human Rights Defender Andrie Yunus
  • Indonesia’s Rupiah Hits Record Low as OECD Warns Economy Is Falling Behind Vietnam
  • Indonesia’s Massive Free Meals Program Set to Reach 85 Million Beneficiaries
  • Corruption Scandal Hits Indonesia’s Free Meals Program as Former Nutrition Chiefs Are Jailed
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.