• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Thursday, June 4, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

Covid-19 Merebak di Beijing, Ikan Salmon Ditarik dari Pasaran

by Redaksi Asiatoday
June 16, 2020
in News
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Covid-19 Merebak di Beijing, Ikan Salmon Ditarik dari Pasaran

Ikan Salmon. Ilustrasi

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Merebaknya kasus Covid-19 di Beijing berdampak terhadap impor Ikan Salmon di negeri itu. Hal ini terjadi setelah jenis ikan ini disebut sebagai sumber penyebaran virus mematikan itu.

Kondisi tersebut memberi pukulan bagi sejumlah eksportir besar seperti Denmark, Norwegia dan Australia.

Tumpukan salmon yang memenuhi rak-rak supermarket di seluruh kota besar China telah disingkirkan, sementara para ahli kesehatan memperingatkan untuk tidak mengonsumsi makanan laut yang kaya omega-3 ini.

RelatedPosts

Indonesia: UN Experts Condemn Military Trial in Acid Attack Case Targeting Human Rights Defender Andrie Yunus

Indonesia’s Rupiah Hits Record Low as OECD Warns Economy Is Falling Behind Vietnam

Indonesia’s Massive Free Meals Program Set to Reach 85 Million Beneficiaries

Boikot itu terjadi setelah pemimpin pasar buah dan sayuran terbesar di kota itu, Xinfadi, tempat yang diyakini menjadi asal penyebaran baru virus corona, mengatakan bahwa virus ini ditelusuri ke papan pemotong yang digunakan oleh penjual ikan salmon impor.

Melansir Bloomberg, Selasa (16/6/2020), pakar senior di Komisi Kesehatan Nasional Zeng Guang mengatakan bahwa belum diketahui apakah virus tersebut ditularkan oleh manusia ke salmon atau salmon-lah yang terlebih dahulu terjangkiti.

Dia memperingatkan agar masyarakat Beijing tidak memakan salmon mentah atau membeli makanan laut impor untuk saat ini.

Secara terpisah, Kepala ahli epidemiologi dari Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit China Wu Zunyou mengatakan bahwa virus itu dapat bertahan di permukaan makanan beku hingga tiga bulan dan mencurigai barang-barang yang terkontaminasi sebagai sumber penyebaran virus.

Meski tidak jelas apakah virus tersebut dapat benar-benar ditularkan melalui makanan beku yang kemudian dicairkan, perkembangan ini mencerminkan tumbuhnya kekhawatiran di China atas kebangkitan kasus infeksi corona di Beijing.

Kasus baru virus corona di Beijing dilaporkan mencapai hampir 100 orang selama akhir pekan. Bangkitnya kasus Covid-19 di ibu kota China yang berpopulasi lebih dari 20 juta orang ini pun mengancam terganggunya normalisasi kehidupan dan bisnis sehari-hari setelah China memadamkan epidemi pertamanya beberapa bulan lalu.

Kasus-kasus baru Covid-19 kini telah menyebar ke pasar lain dan lebih dari dua puluh kompleks perumahan di kota tersebut diisolasi pada Senin (15/6/2020).

Sekolah dasar untuk siswa kelas satu sampai tiga menunda dimulainya kembali kegiatan belajar di kelas-kelas dan siswa sekolah menengah didorong untuk belajar dari rumah.

Sementara itu, pejabat pemerintah setempat berlomba untuk melacak orang-orang yang telah mengunjungi atau melakukan kontak dengan pasar Xinfadi.

Langkah boikot untuk salmon menjadi pukulan lain bagi para eksportir makanan laut ke China, setelah pandemi Covid-19 menyebabkan penjualan dalam empat bulan pertama tahun ini turun lebih dari 30 persen.

Sebelum krisis, empat eksportir terbesar menurut data bea cukai China – Chile, Norwegia, Australia, dan Kepulauan Faroe Denmark – mencatat pertumbuhan permintaan menjadi USD686 juta tahun lalu karena meningkatnya pendapatan kelas menengah dan peralihan gaya hidup yang lebih sehat.

Di sisi lain, situasi tersebut mendorong saham produsen babi naik pada perdagangan Senin (15/6/2020). Saham Jiangxi Zhengbang Technology Co. melonjak 6,9 persen di Shenzhen dan Wens Foodstuffs Group Co naik 3,8 persen.

“Kenaikan ini kemungkinan didorong oleh ekspektasi bahwa permintaan daging itu akan meningkat karena konsumen menghindari makanan laut,” ujar Analis KGI Securities Co. di Shanghai, Ken Chen. (ATN)

Tags: BeijingChinaChina VirusCoronavirusCOVID-19Ikan Salmon
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia: UN Experts Condemn Military Trial in Acid Attack Case Targeting Human Rights Defender Andrie Yunus
  • Indonesia’s Rupiah Hits Record Low as OECD Warns Economy Is Falling Behind Vietnam
  • Indonesia’s Massive Free Meals Program Set to Reach 85 Million Beneficiaries
  • Corruption Scandal Hits Indonesia’s Free Meals Program as Former Nutrition Chiefs Are Jailed
  • Indonesian Nickel Downstreaming: IPIP Pomalaa Urged to Avoid IMIP and IWIP Pitfalls
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.