• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Wednesday, June 17, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home STUDY AND ENVIRONMENT

Efek Perubahan Iklim, Dunia Terancam Krisis Pangan di 2040

by Redaksi Asiatoday
September 14, 2021
in STUDY AND ENVIRONMENT
Reading Time: 1 min read
A A
0
Indonesia Darurat Kekeringan, Puluhan Ribu Jiwa di Cilacap Krisis Air Bersih

Kekeringan ekstrem. Dok

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Chatham House, sebuah lembaga independen yang berbasis di London, Inggris mengungkapkan bahwa krisis pangan dunia bisa terjadi pada 2040 seiring pertumbuhan populasi dunia dan dampak perubahan iklim.

Pasalnya, dampak iklim yang parah akan terjadi pada 2040 jika negara-negara tidak mengurangi emisi, menurut laporan lembaga itu.

Hasil tanaman pokok diperkirakan akan menurun hampir sepertiga pada 2050 kecuali emisi dapat dikurangi secara drastis dalam 10 tahun ke depan. Sementara itu, petani perlu menanam hampir 50 persen lebih banyak makanan untuk memenuhi permintaan global.

RelatedPosts

IPB Expert: Nickel Mining in Halmahera Threatens Marine Ecosystems and Coastal Livelihoods

Ceria Corp, Indonesia’s Green Nickel Pioneer, Restores 200 Hectares of Former Mine Land Through ESG Initiatives

Indonesia Seeks Global Investment to Transform National Park Conservation

Laporan Chatham House akan digunakan untuk pertemuan kepala negara sebelum Konferensi Perubahan Iklim PBB (COP26) pada Oktober di Glasgow.

Harga pangan mendekati level tertinggi dalam satu dekade terakhir yang didorong oleh gangguan pada rantai pasok akibat pandemi dan cuaca ekstrem. Harga gandum melonjak selama musim panas karena kerugian panen oleh beberapa eksportir terbesar.

“Kami dapat memperkirakan harga seluruh makanan pokok akan naik signifikan. Kami juga memperkirakan akan terjadi kekurangan pangan di beberapa bagian dunia,” kata kepala penelitian Daniel Quiggin, sebagaimana dilaporkan Bloomberg, Selasa (14/9/2021).

Dalam penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa proporsi lahan pertanian akan terdampak oleh kekeringan hingga 32 persen per tahun. Kerugian juga akan terjadi sebanyak 10 persen atau lebih dari produksi jagung di empat negara eksportir teratas pada 2040-an.

“Tanaman utama dari gandum hingga kedelai dan beras cenderung mengalami penurunan hasil secara tajam karena kekeringan dan periode pertumbuhan yang lebih pendek,” kata Quiggin. (ATN)

Tags: Chatham HouseClimate ChangeKrisis PanganPerubahan Iklim
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia–Germany Set to Accelerate Economic and Industrial Alliance
  • Indonesia and Germany Deepen Strategic Partnership Amid Global Uncertainty
  • Danantara Raises US$1.5 Billion as Global Investors Flock to Indonesia Bond Offering
  • SMK and Moellhausen Encourage Local Indonesian Brands Expand into Global Markets
  • Student Protests Spread Across Indonesia, Pressure Mounts on Prabowo Government
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.