• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Thursday, June 4, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

Erdogan Marah, Dua Markas Militer AS di Turki Terancam Ditutup

by Redaksi Asiatoday
December 16, 2019
in News
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Erdogan Marah, Dua Markas Militer AS di Turki Terancam Ditutup

Presiden Turkiye, Recep Tayyip Erdogan. ist

ASIATODAY.ID, ANKARA – Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan marah besar dan mengancam akan menutup dua markas militer strategis milik Amerika Serikat di Turki. Ancaman dilayangkan usai AS menyinggung soal sanksi ekonomi terkait Turki yang membeli senjata buatan Rusia.

“Jika diperlukan, kami dapat menutup Incirlik dan juga Kurecik,” tegas Erdogan dalam saluran televisi A Haber, dilansir dari AFP, Minggu (15/12/2019). Dua markas militer itu berdiri di wilayah pesisir yang berdekatan dengan perbatasan Suriah.

Erdogan telah berulang kali mengungkapkan wacana menutup kedua markas militer itu di masa lalu. Biasanya wacana tersebut terucap saat Turki dan AS bersitegang.

RelatedPosts

Indonesia: UN Experts Condemn Military Trial in Acid Attack Case Targeting Human Rights Defender Andrie Yunus

Indonesia’s Rupiah Hits Record Low as OECD Warns Economy Is Falling Behind Vietnam

Indonesia’s Massive Free Meals Program Set to Reach 85 Million Beneficiaries

Angkatan Udara AS menggunakan pangkalan di Incirlik untuk melancarkan serangan terhadap kelompok militan Islamic State (ISIS) di Suriah. Sementara pangkalan di Kurecik dipakai sebagai stasiun radar NATO.

Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu juga telah menyinggung mengenai wacana penutupan kedua markas militer AS pekan kemarin. Merespons ancaman sanksi baru dari AS, Cavusoglu menegaskan bahwa penutupan kedua markas “dapat benar-benar dilakukan.”

Turki menghadapi ancaman sanksi ekonomi dari AS atas keputusannya membeli sistem pertahanan misil S-400 buatan Rusia. Pembelian tetap dilakukan meski Turki mendapat peringatan dari AS.

Jumat kemarin, Turki memanggil Duta Besar AS usai Senat di Washington mengakui pembunuhan warga Armenia di tahun 1915 sebagai genosida. Undang-undang pengakuan tersebut belum ditandatangani Presiden AS Donald Trump.

Armenia mengklaim 1,5 juta orang tewas dalam pembantaian di tahun 1915. Sementara Ankara menyebut angka kematian jauh lebih rendah, dan sejumlah warga Turki juga tewas kala itu. (ATN)

,’;\;\’\’
Tags: Amerika SerikatErdoganKerjasama Indonesia-TurkiTurki
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia: UN Experts Condemn Military Trial in Acid Attack Case Targeting Human Rights Defender Andrie Yunus
  • Indonesia’s Rupiah Hits Record Low as OECD Warns Economy Is Falling Behind Vietnam
  • Indonesia’s Massive Free Meals Program Set to Reach 85 Million Beneficiaries
  • Corruption Scandal Hits Indonesia’s Free Meals Program as Former Nutrition Chiefs Are Jailed
  • Indonesian Nickel Downstreaming: IPIP Pomalaa Urged to Avoid IMIP and IWIP Pitfalls
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.