ASIATODAY.ID, JAKARTA – Konsep Indo-Pasifik yang digagas inisiasi Indonesia sudah diadopsi outlooknya di dalam tubuh ASEAN. Namun saat ini, ada konsep serupa yang diajukan oleh negara lain. Konsep serupa itu digagas oleh Amerika Serikat (AS), Jepang, India dan Australia.
Menurut Duta Besar Republik Indonesia untuk Inggris Rizal Sukma, konsep yang disuguhkan Indonesia berbeda.
“Manifestasi dari gagasan Indo-Pasifik mereka kan bikin quad. Ini sifatnya lebih ke strategis dan militer,” terang Dubes Rizal Sukma di CSIS, Jakarta, Rabu (28/8/2019).
“Di lain pihak kan ada visi Tiongkok mengenai tatanan di kawasan, seperti BRI (Belt and Road Innitiative), connectivity dan segala macam. Jadi seperti ada kompetisi mengenai outlook,” tegasnya.
Dubes Rizal mengatakan, satu gagasan ingin mengesampingkan pihak lain. Sementara gagasan lain terlihat ingin menjadi kekuatan yang berpengaruh di kawasan. Menurutnya ASEAN tidak nyaman dengan kondisi perang memperebutkan pengaruh itu.
“ASEAN Outlook Indo-Pasific menjembatani perbedaan dua visi tatanan regional yang berbeda ini. Jadi semacam tempat pertemuan, kita tetap ingin menjadi sentral,” jelas Rizal.
Rizal mengungkapkan, sentralitas ASEAN tidak dalam pengertian militer, tetapi semua proses untuk saling memahami dan kerja sama dilakukan melalui proses lembaga-lembaga di kawasan yang bertumpu di kawasan. Satu-satunya lembaga yang belum dimanfaatkan dengan baik adalah East Asia Summit (EAS) atau KTT Asia Timur.
“East Asia Summit sangat potensial untuk menjadi platform menerjemahkan outlook Indo-Pasifik ASEAN itu tadi,” tegasnya.
“Ketika kita bicara Indo-Pasific Outlook, pada dasarnya bagaimana memastikan kita mengelola persaingan Amerika dengan Tiongkok ini. Cuma secara resmi tidak disebutkan hal itu, makanya tidak ada di dokumen ASEAN Indo-Pasific Outlook,” jelasnya.
Rizal memandang, Indonesia bersama ASEAN tidak reaktif menghadapi persaingan, tetapi juga inisiatif. Intinya, tidak cukup menanggapi perkembangan dari eksternal namun langsung bereaksi.
“Hal tersebut harus diubah demi menggapai cita-cita poros maritim dunia Indonesia dengan mempertimbangkan kondisi yang terjadi di kawasan saat ini,” tandasnya. (AT Network)
,’;\;\’\’
