• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Friday, June 5, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

Geopolitik ASEAN Bergejolak, Pemulihan Ekonomi dan Konflik Teritorial Jadi Tantangan

by Redaksi Asiatoday
June 26, 2020
in News
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Geopolitik ASEAN Bergejolak, Pemulihan Ekonomi dan Konflik Teritorial Jadi Tantangan

Aktivitas Angkatan Laut Amerika Serikat makin intensif di Laut China Selatan. Ist

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Negara-negara di Asia Tenggara kini tengah menghadapi dua tantangan besar. Selain pandemi Covid-19 yang belum usai, situasi geopolitik kawasan juga kian memanas, menyusul naiknya tensi konflik antara Amerika Serikat dan China di Laut China Selatan.

Pemerintah Indonesia mendesak negara di Asia Tenggara untuk mengambil peran nyata dalam memperbaiki kondisi geopolitik dunia di tengah pandemi Covid-19.

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengungkapkan, dunia termasuk negara di kawasan ASEAN saat ini menghadapi tantangan besar dalam penanganan dampak sosial dan ekonomi dari Covid-19.

RelatedPosts

Indonesia: UN Experts Condemn Military Trial in Acid Attack Case Targeting Human Rights Defender Andrie Yunus

Indonesia’s Rupiah Hits Record Low as OECD Warns Economy Is Falling Behind Vietnam

Indonesia’s Massive Free Meals Program Set to Reach 85 Million Beneficiaries

Pesimisme terhadap multilateralisme, terlihat semakin besar. Selain itu, terjadi pelanggaran pada rule-based order yang juga memperburuk situasi.

“Dengan kondisi perubahan geopolitik saat ini, presiden Jokowi menekankan pentingnya peran ASEAN dalam menavigasi perubahaan ini,” kata Retno melalui keterangan secara virtual, Jumat (26/6/2020), usai mendampingi Presiden Joko Widodo dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN atau ASEAN Summit ke-36.

Salah satu isu panas yang terjadi di antara kawasan adalah soal Laut China Selatan. Kendati Indonesia bukan termasuk claimant state (negara yang mengklaim) wilayah tersebut, pemerintah Indonesia khawatir hal ini akan mengganggu stabilitas keamanan di tengah pandemi.

Indonesia meminta seluruh anggota ASEAN menghormati hukum internasional yang berlaku, termasuk Unclos 1982.

Indonesia meyakini, sudah lebih dari 5 dekade ASEAN memiliki pondasi yang cukup kuat sebagai komunitas di dalam menghadapi berbagai perubahan yang ada selama ini.

Untuk itu, Indonesia mengusulkan kepada kepala negara anggota ASEAN untuk memperkuat kerja sama percepatan pemulihan ekonomi ASEAN.

Penekanan pertama, pengaturan mengenai ASEAN travel koridor, terutama untuk perjalanan bisnis esensial yang dilakukan secara hati-hati, terukur, dan bertahap.

“ASEAN travel koridor ini selain penting untuk percepatan ekonomi ASEAN, dapat menunjukkan arti strategis dari komunitas ASEAN baik di kawasan maupun di mata dunia internasional,” tuturnya.

Kedua, perlu adanya penguatan konektivitas digital, terutama fasilitasi e-commerce, e-health, e-learning termasuk perluasan akses UMKM untuk masuk ke platform digital.

ASEAN Summit atau KTT ASEAN ke-36 diselenggarakan pada Jumat, 26 Juni 2029 secara virtual. Sebagai Ketua Asean 2020, Perdana Menteri Vietnam Nguyen Xuan Phuc memimpin upacara pembukaan.

Perhelatan antara 10 anggota ASEAN ini akan membahas utamanya pengelolaan risiko kesehatan masyarakat dan menghidupkan kembali ekonomi sampai ditemukan vaksin atau pengobatan yang efektif.

Pelu Cara Baru

Sementara itu, Presiden Filipina Rodrigo Duterte meminta ASEAN mencari cara-cara inovatif untuk menyelesaikan sengketa Laut China Selatan.

Duterte, dalam pidatonya pada KTT ASEAN ke-36, menyatakan ketegangan di antara negara yang bersengketa di Laut China Selatan harus dikurangi.

Dia mengatakan tindakan provokatif hanya bisa memicu permusuhan di wilayah tersebut.

“Kita juga tidak boleh mengabaikan kepentingan strategis di Laut China Selatan. Kita harus menemukan cara-cara inovatif dan fleksibel untuk mencapai tujuan bersama,” kata Duterte di Manila.

Duterte mendesak para pemimpin ASEAN untuk mengakui bahwa masih ada “insiden yang mengkhawatirkan” di Laut China Selatan.

“Kami menyerukan kepada para pihak-pihak terkait untuk menahan diri dari upaya meningkatkan ketegangan dan mematuhi aturan di bawah hukum internasional, terutama UNCLOS 1982,” serunya.

Brunei, Malaysia, Filipina, dan Vietnam merupakan negara yang mengklaim sebagian Laut China Selatan.

Sementara China mengklaim sebagian besar wilayah laut itu masuk sebagai teritori negaranya.

Negosiasi antara ASEAN dan China masih berlangsung untuk menyusun finalisasi Code of Conduct untuk mempromosikan perdamaian dan stabilitas di perairan bersengketa itu. (ATN)

Tags: KTT ASEANKTT ASEAN ke-36Laut China SelatanResesi Ekonomi
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia: UN Experts Condemn Military Trial in Acid Attack Case Targeting Human Rights Defender Andrie Yunus
  • Indonesia’s Rupiah Hits Record Low as OECD Warns Economy Is Falling Behind Vietnam
  • Indonesia’s Massive Free Meals Program Set to Reach 85 Million Beneficiaries
  • Corruption Scandal Hits Indonesia’s Free Meals Program as Former Nutrition Chiefs Are Jailed
  • Indonesian Nickel Downstreaming: IPIP Pomalaa Urged to Avoid IMIP and IWIP Pitfalls
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.