• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Friday, June 5, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home STUDY AND ENVIRONMENT

Google Manfaatkan Teknologi untuk Selamatkan Bumi dari Kepunahan

by Redaksi Asiatoday
June 6, 2020
in STUDY AND ENVIRONMENT
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Google Manfaatkan Teknologi untuk Selamatkan Bumi dari Kepunahan

Salah satu kantor Google. Ist

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Momentum Hari Lingkungan Hidup Sedunia kian menggugah kepedulian berbagai kalangan untuk mengambil peran menyelamatkan bumi dari kerusakan, salah satunya Google.

Raksasa teknologi itu menyampaikan bahwa teknologi dapat dimanfaatkan untuk membantu dalam melindungi keanekaragaman hayati di dunia, terutama dari ancaman kepunahan.

Salah satunya, melindungi spesies laut dengan memanfaatkan teknologi komputasi awan, seperti yang telah dilakukan Google sejak 2016. Pada tahun tersebut, bersama dengan Oceana dan SkyTruth, Google meluncurkan Global Fishing Watch.

RelatedPosts

Securing Carbon Credits for Smallholder Farmers

Indonesia Faces Methane Emergency as ASEAN and South Korea Launch $20 Million Climate Waste Initiative

AMAN and UNESCO Lead Safety Training for Indigenous Women Journalists in Makassar

Platform ini untuk meningkatkan kesadaran terhadap industri perikanan serta mendorong kebijakan ramah lingkungan melalui transparansi.

Global Fishing Watch mengombinasikan teknologi komputasi awan dengan data satelit, dan menyediakan pandangan global terkait aktivitas penangkapan ikan komersial.

Selain itu, teknologi juga dapat dimanfaatkan untuk melindungi hutan tropis yang mengalami deforestasi, menyebabkan 17 persen emisi karbon global. Teknologi TensorFlow digunakan oleh Rainforest Connection untuk mencegah pembalakan liar di hujan hujan tropis di seluruh dunia.

Rainforest Connection menempatkan platform machine learning open-source karya Google tersebut dalam versi lama di atas pohon guna merekam suara di hutan sehingga dapat melatih sistem machine learning guna mengenali suara gergaji mesin dari berbagai suara di hutan.

Selain itu, deforestasi penyebab 17 persen emisi karbon global turut mendorong peningkatan pengawasan guna mengurangi risiko deforestasi tersebut. Pada tahun 2013, Google bekerja sama dengan peneliti di University of Maryland meluncurkan Global Forest Watch.

Sebagai informasi, Global Forest Watch merupakan peta yang mengautentikasikan luas hutan secara global serta perubahannya, mulai dengan data dari tahun 2000. Teknologi Google lain untuk membantu mengurangi emisi karbon yaitu Environmental Insights Explorer.

Teknologi ini merupakan alat online yang dibuat melalui kolaborasi dengan Global Covenant of Mayors for Climate & Energy (GCoM). Hingga saat ini, alat online tersebut telah tersedia di 120 kota di seluruh dunia, dan dirancang untuk memudahkan pemerintah dalam mengakses dan menindaklanjuti himpunan data baru terkait iklim.

Dan untuk memvisualisasikan perubahan iklim, dari penggambaran data aktual dan prediksi peningkatan tinggi permukaan laut, hingga data interaktif guna menampilkan dampak kenaikan suhu, Google bekerja sama dengan UNFCCC dalam inisiatif bertajuk Heartbeat of the Earth, ditujukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap dampak perubahan iklim.

Dengan berbagai teknologi yang dikembangkan dan dihadirkannya, Google berharap dalam turut berkontribusi dalam menjaga kelestarian alam di seluruh dunia. (AT Network)

Tags: Climate ChangeClimate CrisisClimate EmergencyGlobal Fishing WatchGlobal Forest WatchGoogleHari LingkunganRainforest ConnectionSave Earth
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia: UN Experts Condemn Military Trial in Acid Attack Case Targeting Human Rights Defender Andrie Yunus
  • Indonesia’s Rupiah Hits Record Low as OECD Warns Economy Is Falling Behind Vietnam
  • Indonesia’s Massive Free Meals Program Set to Reach 85 Million Beneficiaries
  • Corruption Scandal Hits Indonesia’s Free Meals Program as Former Nutrition Chiefs Are Jailed
  • Indonesian Nickel Downstreaming: IPIP Pomalaa Urged to Avoid IMIP and IWIP Pitfalls
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.