• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Friday, June 5, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home GREEN ENERGY

IEA: Demi Energi Bersih, 80 Juta Kilometer Jalur Transmisi Listrik harus Diganti

by Redaksi Asiatoday
October 19, 2023
in GREEN ENERGY
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Indonesia Bangun 25 Sistem Smart Grid Hingga 2024

Jaringan Listrik. Dok

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA) menyerukan agar pemerintah di dunia menambah atau mengganti sekitar 80 juta kilometer jalur transmisi listrik atau saluran udara tegangan tinggi (SUTET) pada tahun 2040 untuk memberi jalan bagi energi bersih dari sumber energi baru dan terbarukan.

Jumlah ini hampir setara dengan panjang jaringan listrik yang ada di seluruh dunia saat ini.

Menurut IEA, pembangunan jalur transmisi yang luar biasa di seluruh dunia ini akan membutuhkan investasi tahunan lebih dari US$ 600 miliar (Rp 9.400 triliun) per tahun hingga 2030.

RelatedPosts

Bpfilters Launches Innovative B50 Biodiesel Filter Product

Indonesia Launches Asia’s Largest Cooperative-Based Renewable Energy Initiative

ASEAN Power Grid Gets Real: ADB Unleashes New Fund to Fast-Track Regional Energy Integration

Hal ini juga akan membutuhkan perubahan dalam cara jaringan listrik di setiap negara dioperasikan dan diatur.

“Kemajuan energi bersih baru-baru ini yang kita lihat di banyak negara adalah luar biasa dan merupakan alasan untuk optimisme, tetapi bisa terancam jika pemerintah dan bisnis tidak bekerja sama untuk memastikan jaringan listrik dunia siap untuk ekonomi energi global baru yang sedang muncul dengan cepat,” kata Direktur Eksekutif IEA, Fatih Birol, dalam pernyataan tertulis yang diterbitkan, Rabu (18/10/2023).

Saat ini, ada 1.500 gigawatt proyek energi bersih terbarukan dalam “tahap pengembangan lanjut” yang menunggu untuk terhubung ke jaringan listrik di seluruh dunia.

Bill Gates, pendiri Microsoft dan investor iklim, dalam bukunya, “How to Avoid a Climate Disaster,” mengatakan, sebagai gambaran, sebuah kota berukuran sedang memerlukan satu gigawatt listrik, kata dia.

IEA mengatakan bahwa 1.500 gigawatt proyek energi bersih terbarukan yang menunggu untuk terhubung ke jaringan listrik adalah lima kali lipat dari total tenaga angin dan surya yang ditambahkan di seluruh dunia pada tahun 2022.

Permintaan akan listrik akan terus meningkat ketika lebih banyak sektor ekonomi global beralih ke tenaga listrik.

Selain itu, jaringan listrik dibangun untuk mengalirkan listrik dari lokasi pembakaran bahan bakar fosil ke tempat di mana listrik tersebut dibutuhkan. Saat dunia bertransisi ke ekonomi energi bersih, jaringan listrik akan semakin harus berjalan dari tempat pembangunan pembangkit listrik tenaga angin dan surya ke tempat di mana listrik digunakan.

Jika jaringan listrik tumbuh lambat, maka hampir 60 miliar ton emisi karbon dioksida ekstra (tambahan) akan dilepaskan antara tahun 2030 dan 2050. Ini setara dengan jumlah emisi yang telah dilepaskan oleh sektor energi di seluruh dunia selama empat tahun terakhir, kata IEA.

IEA menyebut skenario ini sebagai “Grid Delay Case”.

Dalam kasus ini, suhu rata-rata global pada tahun 2050 akan meningkat lebih dari 1,5 derajat celsius di atas tingkat pra-industri yang ditetapkan sebagai target iklim dalam Perjanjian Iklim Paris 2015. Bahkan akan ada kemungkinan melebihi 2 derajat.

Salah satu tantangan adalah jalur transmisi memerlukan waktu yang lama untuk dibangun. Membangun jalur transmisi baru memerlukan waktu antara lima hingga 15 tahun, termasuk perencanaan dan izin.

Sebaliknya, proyek energi terbarukan baru memerlukan waktu antara satu hingga lima tahun, dan infrastruktur baru untuk mengisi daya kendaraan listrik memerlukan waktu kurang dari dua tahun.

Oleh karena itu, IEA menyarankan investasi dalam peningkatan dan pertumbuhan infrastruktur jalur transmisi harus dilakukan sekarang atau akan menjadi faktor yang lebih besar dan lebih membatasi dalam rencana global dekarbonisasi.

“Memastikan bahwa negara berkembang memiliki sumber daya yang mereka butuhkan untuk membangun dan memodernisasi jaringan listrik adalah tugas penting bagi komunitas internasional,” kata Birol dalam pernyataan tertulis. (AT Network)

Simak Berita dan Artikel yang lain di Google News

Tags: Green EnergyInternational Energy Agency
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia: UN Experts Condemn Military Trial in Acid Attack Case Targeting Human Rights Defender Andrie Yunus
  • Indonesia’s Rupiah Hits Record Low as OECD Warns Economy Is Falling Behind Vietnam
  • Indonesia’s Massive Free Meals Program Set to Reach 85 Million Beneficiaries
  • Corruption Scandal Hits Indonesia’s Free Meals Program as Former Nutrition Chiefs Are Jailed
  • Indonesian Nickel Downstreaming: IPIP Pomalaa Urged to Avoid IMIP and IWIP Pitfalls
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.