• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Friday, June 5, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

Imbas Covid-19, Negara-negara Miskin Menjerit dan Tuntut Pembebasan Utang

by Redaksi Asiatoday
April 16, 2020
in News
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Imbas Covid-19, Negara-negara  Miskin Menjerit dan Tuntut Pembebasan Utang

Salah satu gerakan yang disuarakan oleh Jubilee Debt. Dok

ASIATODAY.ID, LONDON – Pandemi global wabah coronavirus (Covid-19) membuat negara-negara miskin di dunia menjerit karena tidak mampu membayar utang.

Adalah kelompok kampanye dan badan amal sosial yang menyerukan agar Dana Moneter Internasional (IMF), Bank Dunia (World Bank), pemerintah negara G20 dan kreditor swasta untuk membantu negara-negara termiskin di dunia dengan membatalkan pembayaran utang.

Pasalnya, negara – negara miskin kini terancam mengalami kebangkrutan akibat dampak pandemi Covid-19.

RelatedPosts

Indonesia: UN Experts Condemn Military Trial in Acid Attack Case Targeting Human Rights Defender Andrie Yunus

Indonesia’s Rupiah Hits Record Low as OECD Warns Economy Is Falling Behind Vietnam

Indonesia’s Massive Free Meals Program Set to Reach 85 Million Beneficiaries

Kampanye pembebasan utang yang dipelopori oleh organisasi Jubilee Debt yang berbasis di Inggris, dilakukan sehari sebelum jadwal pertemuan kelompok kerja negara G20 yang bertugas untuk menangani pandemi coronavirus untuk negara-negara berkembang.

Jubilee Debt mendesak pembatalan segera pembayaran utang negara-negara miskin untuk sisa tahun ini, termasuk kepada kreditor swasta. Diperkirakan jumlah utang yang harus dibebaskan mencapai USD25 miliar atau USD50 miliar jika diperpanjang untuk 2021.

Jubilee Debt juga menyerukan pembatalan utang atau tambahan bantuan keuangan agar bebas dari persyaratan kebijakan ekonomi seperti penghematan, termasuk mendorong agar kelompok negara G20 mendukung aturan darurat yang dapat mencegah negara-negara miskin dituntut oleh kreditor swasta.

“Negara-negara berkembang sedang dilanda goncangan ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan pada saat yang sama menghadapi keadaan darurat kesehatan yang mendesak,” kata Direktur Jubilee Debt, Sarah-Jayne Clifton.

Para pemerintah negara dan lembaga besar sudah mendorong beberapa langkah yang diminta oleh kelompok kampanye itu.

IMF menyediakan dana USD50 miliar dari fasilitas pembiayaan daruratnya, dan sekitar 80 negara telah meminta bantuan. Bank Dunia juga telah menyetujui paket tanggapan Covid-19 senilai USD14 miliar.

Lembaga itu juga bersama-sama mendorong kreditor resmi bilateral untuk memungkinkan negara-negara berpenghasilan rendah menangguhkan pembayaran cicilan utang mereka selama 14 bulan sejak awal Mei.

Namun, pesan dari badan amal dan kelompok kampanye yang disampaikan pada Selasa itu menggemakan keprihatinan pemerintah negara-negara Afrika baru-baru ini – bahwa dana yang disediakan IMF dan Bank Dunia itu tidak akan cukup membantu.

Ethiopia mengatakan dalam proposal yang diajukan sebelum pertemuan G20 bahwa Afrika saja kemungkinan membutuhkan dukungan dana sebesar 150 miliar dolar AS.

“Dari 69 negara berpenghasilan rendah yang kami bahas, setidaknya 45 dari mereka akan memerlukan dana darurat hanya untuk dapat melewati tahun 2020,” kata Mark Perera, manajer European Network on Debt and Development, salah satu kelompok yang terlibat dalam kampanye pembebasan utang itu, dilansir antara.

Ketika IMF dan Bank Dunia pada 1996 meluncurkan program keringanan utang bagi Negara Miskin Berutang Besar (Heavily Indebted Poor Countries/HIPC), negara-negara itu umumnya berutang uang ke negara-negara kaya dan lembaga multilateral.

Pemerintah, bank, dan perusahaan China meminjamkan USD143 miliar ke Afrika selama tahun 2000 hingga 2017, menurut Universitas Johns Hopkins. Sementara itu pemerintah Afrika juga telah mengambil utang internasional lebih dari USD55 miliar dalam dua tahun terakhir.

Kelompok kampanye pembebasan utang, yang penandatangannya termasuk lembaga seperti Oxfam dan Save the Children, juga menyerukan melalui PBB untuk penciptaan proses yang sistematis dan dapat ditegakkan untuk restrukturisasi utang negara. (ATN)

Tags: CoronavirusCOVID-19G20IMFPandemi GlobalWorld BankWorld Corona
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia: UN Experts Condemn Military Trial in Acid Attack Case Targeting Human Rights Defender Andrie Yunus
  • Indonesia’s Rupiah Hits Record Low as OECD Warns Economy Is Falling Behind Vietnam
  • Indonesia’s Massive Free Meals Program Set to Reach 85 Million Beneficiaries
  • Corruption Scandal Hits Indonesia’s Free Meals Program as Former Nutrition Chiefs Are Jailed
  • Indonesian Nickel Downstreaming: IPIP Pomalaa Urged to Avoid IMIP and IWIP Pitfalls
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.