• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Thursday, June 4, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

Indonesia, Filipina dan Taiwan Diintimidasi, AS dan UE Kecam China

by Redaksi Asiatoday
December 4, 2021
in News
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Indonesia, Filipina dan Taiwan Diintimidasi, AS dan UE Kecam China 1

Pergerakan kapal-kapal militer China di Laut China Timur. Dok PLA

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa (UE) mengecam agresivitas China di Laut China Selatan.

AS dan UE memandang China selalu mengambil langkah-langkah yang bersifat sepihak.

Mengutip Reuters, hal itu disampaikan oleh Wakil Menteri Luar Negeri AS, Wendy Sherman. Ia mengutarakannya saat bertemu Sekretaris Jenderal Layanan Tindakan Eksternal Eropa, Stefano Sannino di Washington, Kamis, (2/12/2021).

RelatedPosts

Indonesia: UN Experts Condemn Military Trial in Acid Attack Case Targeting Human Rights Defender Andrie Yunus

Indonesia’s Rupiah Hits Record Low as OECD Warns Economy Is Falling Behind Vietnam

Indonesia’s Massive Free Meals Program Set to Reach 85 Million Beneficiaries

“Mereka menyatakan keprihatinan yang kuat atas tindakan bermasalah dan sepihak China di Laut China Selatan dan Timur dan Selat Taiwan yang merusak perdamaian dan keamanan di kawasan itu dan berdampak langsung pada keamanan dan kemakmuran AS dan UE,” tulis pernyataan bersama itu, dikutip Jumat (3/12/2021).

Selain itu, keduanya juga mengaku prihatin dengan pelanggaran hak di China, termasuk penindasan terhadap minoritas agama di Xinjiang dan Tibet dan erosi otonomi di Hong Kong.

Meski begitu, AS dan UE mengatakan akan memperdalam kontaknya dengan China untuk mengelola apa yang disebut sebagai ‘persaingan sistemik’ dengan Beijing.

“Ini menekankan pentingnya AS dan UE mempertahankan kontak yang berkesinambungan dan dekat pada pendekatan kami masing-masing saat kami berinvestasi dan menumbuhkan ekonomi kami, bekerja sama dengan China jika memungkinkan dan mengelola persaingan dan persaingan sistemik kami dengan China secara bertanggung jawab,” jelas keduanya.

Dalam setahun, klaim maritim China memunculkan konflik dengan sejumlah negara. Terbaru, Negeri Tirai Bambu kembali mengalami konflik dengan Flipina setelah Manila menganggap bahwa pihak China melanggar batas teritorialnya LCS.

Tak hanya dengan Filipina, Beijing juga baru-baru ini dilaporkan mengirimkan protes kepada Pemerintah Indonesia. China meminta agar Indonesia menghentikan proyek pengeboran minyak di Laut Natuna dengan alasan bahwa wilayah itu masih merupakan teritorialnya.

“(Surat itu) sedikit mengancam karena itu adalah upaya pertama diplomat China untuk mendorong agenda sembilan garis putus-putus mereka terhadap hak-hak kami di bawah Hukum Laut,” kata Anggota Komisi I DPR RI, Muhammad Farhan, Rabu (1/12/2021).

Farhan kemudian menegaskan bahwa Indonesia tidak akan tunduk dengan hal itu. Pasalnya, wilayah pengeboran itu secara sah merupakan hak milik RI.

“Jawaban kami sangat tegas, bahwa kami tidak akan menghentikan pengeboran karena itu adalah hak kedaulatan kami,” tambahnya.

LCS merupakan jalur penting untuk sebagian besar pengiriman komersial dunia. Ini terletak di bibir lautan sejumlah negara termasuk ASEAN seperti Brunei, Kamboja, China, Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Taiwan, Thailand, dan Vietnam.

Lautan itu diyakini sebagai lautan yang kaya hasil alam, terutama migas dan ikan. Menurut CFR, di LCS ada sekitar 900 triliun kaki kubik gas alam.

Sumber lain dari American Security Project menyebutkan bahwa cadangan gas di LCS mencapai 266 triliun kaki kubik. Angka itu menyumbang 60% – 70% dari total cadangan hidrokarbon teritori tersebut.

China bersikukuh mengklaim sekitar 90% dari lautan itu dalam apa yang disebut sebagai “sembilan garis putus-putus” (Nine Cash Line )di mana mencakup area seluas sekitar 3,5 juta kilometer persegi (1,4 juta mil persegi).

Klaim tersebut telah menimbulkan ketegangan dengan sejumlah negara ASEAN dan melibatkan AS Masuk dengan dalih “kebebasan navigasi”. (ATN)

Tags: Blok NatunaIndo PasifikLaut China SelatanZEE Natuna Utara
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia: UN Experts Condemn Military Trial in Acid Attack Case Targeting Human Rights Defender Andrie Yunus
  • Indonesia’s Rupiah Hits Record Low as OECD Warns Economy Is Falling Behind Vietnam
  • Indonesia’s Massive Free Meals Program Set to Reach 85 Million Beneficiaries
  • Corruption Scandal Hits Indonesia’s Free Meals Program as Former Nutrition Chiefs Are Jailed
  • Indonesian Nickel Downstreaming: IPIP Pomalaa Urged to Avoid IMIP and IWIP Pitfalls
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.