• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Friday, June 5, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

Indonesia Hadapi Ancaman Bencana Geologi Paling Ekstrem  

by Redaksi Asiatoday
August 5, 2022
in News
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Indonesia Waspada, Gunung Anak Krakatau Alami Erupsi

Erupsi Gunung Anak Krakatau, di Selat Sunda, Provinsi Lampung. Foto PVMBG

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Indonesia menghadapi ancaman bencana geologi paling ekstrem baik letusan gunungapi, gerakan tanah, gempa bumi, dan tsunami.

Untuk meminimalir dampak bencana, Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia, selain melaksanakan kegiatan penyelidikan dan pelayanan di bidang ESDM, badan itu juga fokus melakukan kegiatan mitigasi bencana geologi.

Dalam enam bulan pertama tahun 2022, Badan Geologi telah memberikan berbagai rekomendasi kepada Pemerintah Daerah terkait potensi-potensi kebencanaan, baik letusan gunungapi, gerakan tanah, gempa bumi, dan tsunami.

RelatedPosts

Indonesia: UN Experts Condemn Military Trial in Acid Attack Case Targeting Human Rights Defender Andrie Yunus

Indonesia’s Rupiah Hits Record Low as OECD Warns Economy Is Falling Behind Vietnam

Indonesia’s Massive Free Meals Program Set to Reach 85 Million Beneficiaries

Sekretaris Badan Geologi Ediar Usman mengatakan, bahwa untuk melakukan mitigasi kebencanaan geologi, Badan Geologi melakukan pemantauan visual dan instrumental terhadap letusan gunungapi dan gerakan tanah. Sementara untuk potensi gempa bumi dan tsunami, Badan Geologi bekerja sama dengan Badan Meteorologi, Klimantologi, dan Geofisika (MBKG) dalam melakukan analisis geologi dan penanggulangannya.

“Semua data yang berkaitan dengan evaluasi geologi dan pemantauan terhadap potensi letusan gunungapi dan gerakan tanah disampaikan langsung kepada pemda dan juga pihak terkait lainnya di daerah. Selanjutnya data-data tersebut dapat disampaikan kepada masyarakat setempat,” ujar Ediar pada Konferensi Pers Informasi Kebencanaan Geologi Semester I Tahun 2022 secara daring, Kamis (4/8/2022).

Senada, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Hendra Gunawan menyampaikan bahwa informasi yang diberikan oleh Badan Geologi kepada Pemerintah Daerah sifatnya adalah rekomendasi.

“Badan Geologi selalu memberikan rekomendasi ke semua daerah di Indonesia. Kami memberikan peta potensi gerakan tanah, yakni daerah mana saja yang berpotensi terjadi gerakan tanah ke depan. Di awal bulan, rekomendasi selalu dikirimkan. Badan Geologi juga memberikan rekomendasi terkait tempat relokasi dan saran teknis kepada Pemerintah Daerah apabila terjadi gerakan tanah,” sambung Hendra.

Hendra pun mengimbau kepada Pemerintah Daerah untuk selalu mengikuti rekomendasi yang diberikan oleh Badan Geologi, supaya langkah-langkah mitigasi bencana geologi dapat berjalan optimal dan meminimalisasi jatuhnya korban jiwa dan harta benda.

“Badan geologi akan terus berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) karena penanggulangan bencana tidak dapat dilakukan sendirian. Selain itu, koordinasi juga dilakukan dengan BMKG dalam menangani mitigasi gerakan tanah maupun gempa bumi dan tsunami, di mana kami memerlukan data sekunder dari BMKG dan Badan Riset Nasional (BRIN). Kami berharap kerja sama berjalan dengan baik, sehingga menghindari adanya korban dan dapat mengantisipasi daerah-daerah yang berpotensi,” tegas Hendra.

Mitigasi Bencana Geologi Semester I 2022

Pada periode Januari hingga Juni 2022, terdapat 9 gunung api yang mengalami erupsi, baik eksplosif maupun efusif, yaitu: Gunungapi Dempo, Merapi, Semeru, Anak Krakatau, Ili Lewotolok, Soputan, Karangetang, Ibu, dan Dukono. Terdapat 2 gunung api yang erupsinya disertai awan panas, serta 3 gunung api yang aktivitasnya disertai guguran lava. Saat ini terdapat 5 gunung api dengan tingkat aktivitas Level III atau SIAGA, yaitu: Anak Krakatau, Merapi, Semeru, Ili Lewotolok dan Awu; 15 gunung api di Level II atau WASPADA; dan 48 gunung api di Level I atau NORMAL. Dan sebagai tambahan, pada tanggal 28 Juli 2022, tingkat aktivitas G. Raung yang berada di Provinsi Jawa Timur naik dari Level I (Normal) menjadi Level II (Waspada).

Selain itu, telah terjadi 10 kejadian gempa bumi merusak, yakni di Tobelo, Pandeglang, Kep. Talaud, Pasaman Barat, Sukabumi, Seram Barat, Kendari, Halmahera Utara, Maluku Barat Daya, dan Mamuju. Sebagai upaya mitigasi, Badan Geologi telah melakukan kegiatan tanggap darurat atau kaji cepat untuk memetakan dan menganalisis dampak gempa bumi serta memberikan rekomendasi teknis mitigasi bencana gempa bumi.

Selain gempa bumi, pada bulan Januari hingga Juni 2022 di seluruh Indonesia telah terjadi 318 kejadian gerakan tanah. Gerakan tanah adalah bencana geologi yang paling sering terjadi di Indonesia, khususnya di musim penghujan.

Untuk melakukan mitigasi terhadap bencana geologi, selama enam bulan pertama tahun 2022, Badan Geologi telah melakukan berbagai kegiatan terkait upaya mitigasi bencana geologi. Selain pemantauan gunung api, telah dilakukan juga 13 kegiatan Tanggap Darurat, pemetaan 1 Peta Kawasan Rawan Bencana (KRB) Gunung Api, pemetaan 2 Peta Geologi Gunung Api, dan 2 revisi Peta KRB Gunung Api.

33 rekomendasi terkait aktivitas gunung api di atas normal, 307 VONA, 2 instalasi peralatan pemantauan gunung api, dan 3 optimalisasi peralatan pemantauan gunung api.

Dalam mitigasi gempa bumi dan tsunami telah dilakukan 2 kegiatan Tanggap darurat, 7 kegiatan Pasca Bencana, 2 penyelidikan Mikrozonasi Gempa Bumi, pemetaan 1 Peta Kawasan Rawan Bencana (KRB) Gempa Bumi, pemetaan 1 Peta KRB Tsunami, 1 kegiatan sosialisasi, 1 optimalisasi peralatan monitoring sesar aktif, dan 22 rekomendasi.

Hendra menambahkan, upaya mitigasi bencana geologi ini di antaranya bermanfaat untuk memberikan arahan kepada Pemerintah Daerah dan memberi kepastian terkait tindak lanjut kebijakan Pemerintah Daerah dalam pemberian pelayanan kebencanaan. Selain itu juga terdapat rekomendasi pembangunan kembali daerah bencana dan lahan relokasi pasca bencana.

“PVMBG juga tetap melakukan pendampingan dalam penyusunan rencana kontingensi, edukasi kepada masyarakat, serta penyusunan kebijakan terkait tata ruang, peta risiko, dan lain-lain. Manfaat dari mitigasi bencana geologi akan semakin terasa dengan adanya penguatan jejaring kerja antar kementerian dan lembaga terkait, serta pemerintah daerah,” pungkas Hendra. (ATN)

Tags: Asia DisasterBencana GeologiMitigasi Bencana
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia: UN Experts Condemn Military Trial in Acid Attack Case Targeting Human Rights Defender Andrie Yunus
  • Indonesia’s Rupiah Hits Record Low as OECD Warns Economy Is Falling Behind Vietnam
  • Indonesia’s Massive Free Meals Program Set to Reach 85 Million Beneficiaries
  • Corruption Scandal Hits Indonesia’s Free Meals Program as Former Nutrition Chiefs Are Jailed
  • Indonesian Nickel Downstreaming: IPIP Pomalaa Urged to Avoid IMIP and IWIP Pitfalls
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.