• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Thursday, July 16, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

Indonesia harus Rebut Momentum dari Rivalitas Geopolitik Vaksin Barat dan Timur

by Redaksi Asiatoday
August 10, 2021
in News
Reading Time: 1 min read
A A
0
Indonesia harus Rebut Momentum dari Rivalitas Geopolitik Vaksin Barat dan Timur

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI, Airlangga Hartarto. Dok

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Rivalitas geopolitik global kini makin menajam.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan bahwa banyak negara di dunia termasuk Indonesia tengah menghadapi persaingan geopolitik baru antara Barat dan Timur di bidang vaksin Covid-19.

Persaingan tersebut terjadi antara Amerika Serikat (AS) (Barat) dan China (Timur).

RelatedPosts

Indonesia’s FFW 2026 Revives the Power of Film Criticism

Indonesia Enters Aircraft Carrier Era

Japan Ramps Up Ukraine’s Industrial Recovery with UNIDO Technology Partnership

“Dunia saat ini dihadapkan dengan persaingan Barat dan Timur yang baru, sesudah perang dagang, ini berlanjut pada geo-vaksin-politik,” kata Airlangga pada Pidato Kebangsaan Ketua Umum DPP Partai Golkar dalam rangka 50 tahun CSIS Indoneisa, Selasa (10/8/2021).

Menurut Airlangga, persaingan tersebut diimplementasikan dalam bentuk persyaratan mobilitas atau perjalanan. Dia mengatakan AS dan sekutunya mengesampingkan aturan yang ditetapkan oleh World Health Organization (WHO) dan World Trade Organization (WTO) soal vaksin Covid-19.

Adapun, vaksin yang diproduksi besar-besaran oleh AS adalah Pfizer/BioNTech dan Moderna, sementara China memproduksi Sinovac dan Sinopharm.

“Demikian pula untuk Timur, China melakukan retaliasi dengan persyaratan perjalanan menggunakan vaksin dari China,” tambahnya.

Airlangga memandang, Indonesia perlu mengambil langkah cepat dengan mendorong lahirnya industri vaksin mandiri buatan dalam negeri.

“Maka Indonesia perlu merespons dengan cepat dengan mendorong pembuatan vaksin mandiri,” tegasnya.

Di sisi lain, dia mengatakan pemerintah telah mengambil kebijakan untuk menekan laju penyebaran Covid-19 di masyarakat dengan menerapkan PPKM. Hingga saat ini Indonesia masih menjalani PPKM level 2, 3, dan 4, yang baru saja diperpanjang sampai dengan 16 Agustus mendatang.

Sebagai Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN), Airlangga juga menegaskan pentingnya mendorong percepatan vaksinasi.

Dia mengatakan upaya vaksinasi akan ditingkatkan hingga 2 sampai 2,5 juta per hari mulai dari Agustus ini.

“Program vaksinasi nasional terus digenjot dengan target 2 sampai 2,5 juta per hari sejak bulan Agustus. Kita dorong program memakai masker. Kita siapkan isolasi terpusat di setiap desa, keluarahan, dan kecamatan,” tandasnya (ATN)

Tags: Airlangga HartartoGeopolitikVaksin Covid-19
No Result
View All Result

Terbaru

  • Jakarta Museums Become SDGs Learning Hubs
  • Indonesia’s FFW 2026 Revives the Power of Film Criticism
  • Why North Bali Is Becoming the Favorite Destination for International Travelers
  • Danantara Powers Indonesia’s New Industrial Era
  • ITB-Vietnam CT Group Forge ASEAN Tech Alliance
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.