• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Friday, June 26, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

Indonesia Serukan agar UNCLOS 1982 Jadi Pedoman di Laut China Selatan

by Redaksi Asiatoday
July 16, 2020
in News
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Mengapa Laut Natuna Diincar Asing?

Patroli TNI Angkatan Laut di Laut Natuna Utara. Ist

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Dalam beberapa hari terakhir, ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan China di Laut China Selatan kian memanas. Awal pekan ini, Washington secara terbuka menegaskan menolak seluruh klaim China di perairan tersebut.

Merespons hal itu, Indonesia menegaskan sangat mengikuti ketegangan di perairan tersebut.

“Laut China Selatan yang stabil dan damai adalah harapan setiap negara di ASEAN. Menghormati hukum internasional termasuk UNCLOS 1982 merupakan kunci untuk membuat Laut China Selatan stabil dan damai,” kata Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Kamis (16/7/2020).

RelatedPosts

Indonesia Challenges Singapore and Dubai as It Unveils Ambitious Global Financial Center Strategy

New War on Corruption: Philippines Overhauls Public Finance System

Indonesia Expands De-Dollarization Drive, Targets India and South Korea for Local Currency Trade Deals

Retno mengatakan posisi Indonesia sudah jelas dan konsisten pada hak kedaulatan atas zona ekonomi eksklusif Indonesia. Menurut dia, ini sudah sesuai dengan UNCLOS 1982.

“Posisi ini juga didukung oleh pengadilan pada 2016,” tegasnya.

Indonesia juga menggarisbawahi pentingnya bagi semua negara untuk berkontribusi dalam pemeliharaan perdamaian dan stabilitas di Laut China Selatan.

“Indonesia menyerukan semua negara menahan diri dari tindakan yang dapat meningkatkan ketegangan di wilayah tersebut,” imbuhnya.

Awal pekan ini, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Mike Pompeo mengatakan bahwa negaranya tidak akan pernah mengakui klaim China, termasuk ‘sembilan garis putus’ (nine dash line) di Laut China Selatan.

Menurut AS, hal tersebut tidak sesuai dengan hukum internasional dan merugikan negara-negara di kawasan perairan tersebut, yaitu Asia Tenggara.

Pompeo mengatakan AS ingin memperjuangkan indo-Pasifik yang bebas dan terbuka. Pernyataan AS tersebut oleh China dianggap sebagai pembuat onar.

Menurut Beijing, mereka tidak pernah mengintimidasi negara-negara di kawasan. (ATN)

Tags: Laut China SelatanUNCLOSZEE Natuna UtaraZEEI
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia Accelerates US$20 Billion Masela Gas Project to Reinforce Energy Security Amid Global Turmoil
  • Indonesia Challenges Singapore and Dubai as It Unveils Ambitious Global Financial Center Strategy
  • Indonesia’s $100 Billion Nickel Bet Faces a New Threat as Global EV Battery Technology Shifts
  • U.S. Pushes Indonesia’s Nuclear Ambitions
  • New War on Corruption: Philippines Overhauls Public Finance System
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.