• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Thursday, June 4, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

Korban Perbudakan Seksual PD II di Filipina Desak Pemerintah Jepang Akui Kejahatan Perangnya

by Redaksi Asiatoday
February 3, 2023
in News
Reading Time: 1 min read
A A
0
Korban Perbudakan Seksual PD II di Filipina Desak Pemerintah Jepang Akui Kejahatan Perangnya

Aksi para wanita Filipina penyintas perbudakan seksual oleh militer Jepang semasa Perang Dunia (PD) II pada Selasa (31/1). Foto: tangkapan layar

ASIATODAY.ID, MANILA – Para wanita Filipina penyintas perbudakan seksual oleh militer Jepang semasa Perang Dunia (PD) II pada Selasa (31/1) mendesak pemerintah Jepang untuk mengakui kejahatan perangnya, menyelesaikan isu “wanita penghibur”(comfort women), dan berhenti “menghasut perang.”

“Sangat tidak adil di pihak pemerintah Jepang untuk terus menerus mengabaikan isu wanita penghibur Filipina. Mereka telah menderita cukup lama, lebih dari setengah abad menderita dalam keheningan, trauma yang mereka alami akibat kejahatan Tentara Kekaisaran Jepang yang menimpa ribuan wanita Filipina,” kata Sharon Cabusao-Silva, Direktur Eksekutif Lila Pilipina, dilansir Xinhua.

Lila Pilipina merupakan sebuah organisasi Filipina yang membantu para wanita yang dipaksa masuk ke rumah bordil militer Jepang dalam memperjuangkan keadilan. Hanya tersisa sedikit penyintas, mayoritas berusia 90-an tahun dan dalam kondisi sakit.

RelatedPosts

Corruption Scandal Hits Indonesia’s Free Meals Program as Former Nutrition Chiefs Are Jailed

Indonesian Nickel Downstreaming: IPIP Pomalaa Urged to Avoid IMIP and IWIP Pitfalls

Indonesia Accelerates OECD Membership Bid and Ratification of I-EU CEPA

Silva mengatakan bahwa Jepang harus mengakui trauma yang dialami para wanita korban kejahatan Tentara Kekaisaran Jepang.

Organisasi tersebut menambahkan bahwa Jepang “benar-benar mengabaikan” rekomendasi yang dibuat oleh negara-negara lain “agar Jepang pada akhirnya menyelesaikan isu yang berlarut-larut ini.”

“Sejarah, seharusnya, sesuai fakta yang terjadi, kita memiliki hak untuk mengetahui kebenaran dalam sejarah, dan kita akan berjuang. Kita akan melanjutkan perjuangan kita sampai akhir hayat untuk memastikan bahwa kita menjaga kebenaran dalam sejarah,” jelasnya.

Selama PD II, ratusan ribu wanita dan remaja perempuan dari China, Semenanjung Korea, Asia Tenggara, dan negara serta kawasan lainnya dipaksa menjadi budak seksual oleh militer Jepang dan mengalami kekerasan seksual yang mengerikan, baik secara mental maupun fisik. (AT Network)

Simak Berita dan Artikel yang lain di Google News

Tags: FilipinaHuman RightsJepangPerbudakan
No Result
View All Result

Terbaru

  • Corruption Scandal Hits Indonesia’s Free Meals Program as Former Nutrition Chiefs Are Jailed
  • Indonesian Nickel Downstreaming: IPIP Pomalaa Urged to Avoid IMIP and IWIP Pitfalls
  • Securing Carbon Credits for Smallholder Farmers
  • Indonesia Accelerates OECD Membership Bid and Ratification of I-EU CEPA
  • Indonesia Deepens Mineral Cooperation with China Amid Global Race for Critical Resources
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.