• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Thursday, June 4, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home STUDY AND ENVIRONMENT

Mengerikan, Planet Bumi akan Terpanggang Suhu Panas pada 2100

by Redaksi Asiatoday
August 27, 2022
in STUDY AND ENVIRONMENT
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Bumi Kian Menderita, Emisi Karbon Perparah Lubang Ozon di Antartika

Kerusakan lapisan ozon di atmosfer akibat pemanasan global dan perubahan iklim. Foto: German Aerospace Center

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Pemanasan di planet bumi diperkirakan akan mencapai titik paling mengerikan pada 2100.

Menurut penelitian dari jurnal Communications Earth and Environment, sebagian besar belahan dunia akan terpanggang panas ekstrem pada tahun itu.

Kondisi ini mungkin terjadi bahkan saat dunia berhasil membatasi pemanasan global hingga dua derajat Celcius di atas tingkat pra-industri.

RelatedPosts

Securing Carbon Credits for Smallholder Farmers

Indonesia Faces Methane Emergency as ASEAN and South Korea Launch $20 Million Climate Waste Initiative

AMAN and UNESCO Lead Safety Training for Indigenous Women Journalists in Makassar

Perkiraan menunjukkan daerah tropis dan subtropis termasuk anak benua India, sebagian besar Semenanjung Arab, dan sub-Sahara Afrika akan mengalami suhu panas yang berbahaya hampir setiap hari sepanjang tahun pada akhir abad ini.

Menurut laporan itu, daerah garis lintang tengah di seluruh dunia akan mengalami gelombang panas yang intens setiap tahun.

Salah satu yang menjadi contoh adalah Kota Chicago di Amerika Serikat (AS). Para peneliti memperkirakan peningkatan 16 kali lipat gelombang panas berbahaya pada akhir abad ini.

“Panas ekstrem berkontribusi pada penyakit kronis dan dikaitkan dengan hilangnya waktu kerja di luar ruangan secara teratur, dan memiliki potensi untuk mengancam kelayakhunian petak besar permukaan bumi jika emisi gas rumah kaca tidak dibatasi,” demikian laporan tersebut.

Kelompok paling rentan terhadap masalah kesehatan parah yang disebabkan oleh panas yang ekstrem adalah orang tua, orang miskin, dan pekerja luar ruangan.

“Tanpa langkah-langkah adaptasi, ini akan sangat meningkatkan kejadian penyakit terkait panas dan mengurangi kapasitas kerja di luar ruangan di banyak daerah di mana pertanian subsisten penting,” demikian studi tersebut.

2022 Tahun Panas dan Kekeringan Parah

Sementara itu, para ilmuwan mengatakan dunia sedang mengalami salah satu kekeringan paling meluas dalam beberapa dekade terakhir. Sejumlah wilayah bahkan memecahkan rekor. Kekeringan “kilat” yang terjadi secara tiba-tiba juga menjadi lebih umum.

“Ini adalah tahun yang cukup luar biasa untuk kekeringan di belahan bumi utara, dengan kekeringan panas yang hampir memecahkan rekor atau memecahkan rekor secara bersamaan dialami Amerika Utara, Eropa dan Mediterania, dan China,” kata Benjamin Cook, seorang ilmuwan senior dan peneliti kekeringan di Badan Antariksa Amerika Serikat, (NASA), dikutip BBC.

“Terlepas dari bagaimana perubahan iklim mempengaruhi kekeringan spesifik ini (tahun ini,” lanjutnya.

“Ini adalah peristiwa yang harus kita persiapkan seiring kita terus bergerak ke masa depan yang lebih hangat,” ujarnya.

Namun wilayah lain juga terkena dampak parah, termasuk Afrika Timur, Amerika Selatan, beberapa wilayah Asia dan beberapa bagian Australia.

Salah satu kawasan yang mengalami dampak terparah adalah wilayah Tanduk Afrika, tempat musim hujan tidak turun selama bertahun-tahun.

Situasi di kawasan itu menyebabkan keadaan yang disebut oleh Nuur Mohamud Sheekh, juru bicara blok perdagangan regional (IGAD), sebagai “kekeringan terburuk dalam 40 tahun”.

Dia berkata, keadaan itu berdampak pada ketahanan pangan bagi sekitar 50 juta orang.

Afrika menderita kekeringan lebih sering daripada benua lain, menurut laporan oleh Konvensi PBB untuk Memerangi Desertifikasi (UNCCD). Dari 134 kejadian kekeringan di benua itu antara tahun 2000 hingga 2019, 70 di antaranya terjadi di Afrika Timur.

China juga telah mengumumkan darurat kekeringan tahun ini, karena suhu yang terik telah mengeringkan beberapa sungai termasuk bagian dari Yangtze, sungai terpanjang ketiga di dunia.

Daya listrik yang dihasilkan di Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) provinsi Sichuan telah turun secara signifikan sehingga menyebabkan pemadaman.

Para pejabat pemerintahan seperti dikutip berbagai media mengatakan pengiriman dengan kapal kargo juga telah dihentikan di beberapa jalur air dan lebih dari dua juta hektar lahan pertanian di enam provinsi telah terdampak.

Menurut Layanan Pemantauan Atmosfer Copernicus, rekor curah hujan rendah telah terpecahkan di Eropa bagian barat. Sementara itu, negara-negara Asia Tengah seperti Afghanistan dan Iran sudah mengalami kondisi kekeringan parah selama lebih dari satu tahun sekarang.

Di belahan bumi selatan, Amerika Selatan sangat terpengaruh dalam beberapa tahun terakhir.

Menurut laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), kondisi kekeringan menyebabkan penurunan panen sereal 2020-2021 hampir 3%, sementara Cile bagian tengah telah mengalami “kekeringan besar” selama 13 tahun – yang terpanjang di kawasan itu selama satu millennium.

“Selain itu, kekeringan multi-tahun di Cekungan Parana-La Plata, yang terburuk sejak 1944, berdampak pada Brasil tengah-selatan dan sebagian Paraguay dan Bolivia,” kata laporan itu.

Di masa lalu, kekeringan biasanya berkembang dalam beberapa musim atau tahun, namun ini mulai berubah di banyak tempat.

Kombinasi curah hujan rendah dan panas ekstrem menyebabkan kekeringan yang terjadi dengan cepat, seperti yang terlihat di beberapa daerah musim panas ini di belahan bumi utara.

“Yang kita lihat sekarang adalah hal yang kita sebut kekeringan ‘kilat’,” terang Roger Pulwarty, ilmuwan senior di US National Oceanic and Atmospheric Administration.

“Ini bisa berlangsung hanya satu hingga tiga bulan tetapi jika terjadi pada puncak musim panen, atau risiko kebakaran hutan, mereka bisa sangat menghancurkan,” lanjutnya.

Titik panas yang rentan terhadap kekeringan kilat ada di Brasil, Sahel, Great Rift Valley, India, AS tengah, Rusia barat daya, dan China timur laut.

Dengan empat bulan tersisa sebelum akhir tahun, para ilmuwan mengatakan terlalu dini untuk mengatakan apakah kekeringan di 2022 akan lebih buruk daripada 2012, tahun terburuk dalam sejarah baru-baru ini.

Catatan dari abad ke-20 juga tidak sempurna, jadi sulit untuk mengatakan dengan tepat di mana peringkat kedua tahun dalam tabel liga kekeringan jangka panjang. Namun para ilmuwan mengatakan mereka elah menyaksikan salah satu peristiwa kekeringan paling luas dalam beberapa dekade. Dan prediksi masa depan juga tidak memberi semangat.

Para ilmuwan iklim sudah lama mengatakan bahwa pemanasan global akan meningkatkan risiko kekeringan di wilayah-wilayah yang rentan, akibat dari berkurangnya curah hujan, serta penurunan kelembaban udara dan tanah – dan mereka memperkirakan kekeringan akan menjadi lebih parah, dan lebih sering.

Menurut Drought in Numbers, sebuah laporan yang dibuat pada awal tahun ini oleh UNCCD, jika pemanasan global mencapai 3C pada 2100 – seperti yang diperkirakan, jika tingkat emisi saat ini tidak berkurang secara signifikan – kerugian akibat kegagalan panen dan konsekuensi ekonomi lainnya dari kekeringan bisa lima kali lebih tinggi daripada sekarang. (ATN)

Tags: Global WarmingKrisis IklimPemanasan GlobalSave Earth
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia: UN Experts Condemn Military Trial in Acid Attack Case Targeting Human Rights Defender Andrie Yunus
  • Indonesia’s Rupiah Hits Record Low as OECD Warns Economy Is Falling Behind Vietnam
  • Indonesia’s Massive Free Meals Program Set to Reach 85 Million Beneficiaries
  • Corruption Scandal Hits Indonesia’s Free Meals Program as Former Nutrition Chiefs Are Jailed
  • Indonesian Nickel Downstreaming: IPIP Pomalaa Urged to Avoid IMIP and IWIP Pitfalls
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.