ASIATODAY.ID, STUTTGART – Produsen otomotif Mercedes Benz menolak menjalankan seruan Pemerintah Jerman agar para pengusaha memutuskan hubungan dengan China apabila hubungan kedua negara semakin memburuk.
CEO Mercedes Benz, Ola Kalenius, memandang pasar China terlalu penting bagi industri otomotif.
Menurutnya, setiap negara memiliki pengaruhnya masing-masing terhadap industri otomotif.
“Sangat tidak mungkin untuk menghapus negara itu (China). Untuk meninggalkan China karena ada sesuatu yang terjadi di sana bukanlah jalan yang tepat,” kata Ola Kallenius dikutip dari Carscoops, Kamis (17/11/2022).
Pernyataan Ola Kalenius jelas sangat masuk akal dan bisa dimengerti. Pasalnya, China memiliki pasar otomotif terbesar dan sangat sayang bagi perusahaan untuk meninggalkannya.
Selain itu, penjualan mobil berlogo shooting star tersebut tergolong tinggi di China. Hasil penjualan kuartal ketiga tahun 2022 menunjukan 520.100 unit mobil yang dikirimkan oleh Mercedes-Benz, sekitar 206.800 unit terjual di China.
China juga telah menjadi pasar besar bagi Mercedes-Benz, bahkan tahun ini jauh lebih besar dibanding Eropa. Tahun 2020 saja saat pandemi Covid-19 masih sangat tinggi, Mercedes-Benz masih tetap bisa menjual sebanyak 774 ribu mobil mewah.
China merupakan mitra dagang bagi Jerman, terutama untuk industri otomotif yang menjadi andalannya. Namun hubungan kedua negara memburuk dalam beberapa tahun terakhir akibat kebijakan nol-COVID, meningkatnya ketegangan soal Taiwan, dan kekhawatiran masalah HAM di wilayah Xinjiang yang ditinggali mayoritas warga Muslim. (ATN)
Simak Berita dan Artikel yang lain di Google News
