ASIATODAY.ID, JAKARTA – Mixed Martial Arts (MMA) atau Beladiri Campuran kini makin berkembang di Indonesia.
Selain telah melahirkan sejumlah atlet berprestasi, MMA juga kini mulai digemari kalangan generasi muda.
Menurut Ahli Beladiri Campuran Indonesia, Jeremy Meciaz, sebelum terjun ke MMA, penting bagi setiap insan beladiri untuk memahami beberapa hal mendasar terkait olah raga ini. Berikut penjelasannya;
Apa Perbedaan Martial Arts Self Defense dan Martial Arts Combat Sport?
Martial Arts Self Defense adalah Beladiri yang bersifat Lite dan lebih berfokus untuk mempertahankan diri dari kejahatan yang bersifat praktis untuk membela diri.
“Biasanya beladiri seperti ini kebanyakan Beladiri Tradisional Seperti Karate, Wing Cun, Kungfu, Taekwondo, Pencak Silat, Aikido, Krav Maga, Eskrima. Dan juga dipertandingkan namun non combatan atau kebanyakan bersifat lite point dengan alat perlindungan lengkap,” jelas Jeremy Meciaz, Jumat (3/7/2020).
Sedangkan Martial Arts Combat Sport adalah Olahraga Beladiri Combatan yang bersifat Full Body Contact dan Beladiri Keras.
Sejauh ini Beladiri yang bisa di Kategorikan Combat Sport seperti Muay Thai, Kickboxing, MMA, Brazillian Jiu-Jitsu, Sanda & Boxing, Wrestling.
“Beladiri jenis ini lebih bersifat aggresor atau penyerang, jadi dikategorikan Beladiri berantem,” jelasnya.
Apakah beladiri Self Defense Martial bisa berkompetisi di ajang Combat Sport?
“Bisa, banyak dari mereka yang sudah mulai membuka wawasan dan membuka diri untuk belajar teknik hybrida meskipun kadang masih kurang sempurna dan terbawa teknik-teknik dan gaya mereka. Untuk itu, kami dari Predator MMA Indonesia menyarankan kepada insan-insan beladiri tradisional yang ingin memperdalam ilmu berantem (Combat Sport) bisa belajar dan gabung di fight camp beladiri combat sport yg sudah ada agar kematangan lebih sempurna apabila diarahkan dengan pelatih-pelatih dan Atlet-atlet MMA Berpengalaman,” imbuhnya.
Apa yang membuat MMA menjadi Lebih unggul dari Beladiri lain?
Jeremy Meciaz menjelaskan, MMA merupakan sebuah konsep Beladiri Campuran yang di kategorikan menjadi 4 jenis pertarungan yakni; Stand Up Fighting, Ground Fighting, Clinch Fighting, Submssion.
“Maka dengan kelengkapan teknik tersebut membuat Mixed Martial Arts (MMA) menjadi lebih unggul,” urainya.
Apakah bisa kita menghibridakan setiap Beladiri menjadi MMA?
“Tidak. Standart MMA mempunyai regulasi, uji kelayakan, efisiensi, keeffektifan dari beladiri yang dapat dihibridakan menjadi satu Konsep di olahraga MMA beserta transisinya
Dari hasil riset hanya kategori beladiri combat sport yang efektif dipadukan menjadi rangkaian di dalam pertarungan MMA,” jelasnya.
Apa itu transisi di dalam pertarungan MMA?
Karena 90 persen setiap jenis pertarungan dimulai dari posisi berdiri (Stand up Fighting) dan berakhir di bawah lantai (Ground Fighting) maka transisi menjadi penting untuk dipelajari bagaimana membawa seseorang kebawah lantai dan mengakhirinya.
“Maka digunakanlah (Clinch fighting) dan mengakhirinya dengan menghajar lawan ataupun melumpuhkan (submission),” ujarnya.
Dapatkah beladiri Self Defense dan Traditional berkompetisi di ajang MMA?
“Bisa asalkan membuka diri untuk belajar teknik-teknik Beladiri Combat Sport dan tidak fanatik terhadap satu beladiri saja,” imbuhnya. (ATN)
