ASIATODAY.ID, JAKARTA – Riset terbaru Morgan Stanley (MS) menyebutkan tren merger dan akuisisi (M&A) terkini menunjukkan bahwa Indonesia membuka lebih banyak peluang kepada bank asing.
Menurut Morgan Stanley, hal ini dapat mempercepat konsolidasi dan meningkatkan efisiensi, manajemen risiko dan dukungan permodalan yang mendorong penetapan ulang struktural.
“Dalam jangka pendek, hal ini akan mengurangi risiko layanan nasional bagi bank BUMN,” demikian hasil riset Morgan Stanley berjudul ‘M&A: Higher Foreign Participation to Enhance Capital Base and Efficienc’, dikutip Sabtu (8/8/2020).
Riset tersebut diprakarsai oleh Mulya Chandra, Yulinda Hartanto, Mia Nagasaka, Joon Seok.
Morgan Stanley menyebut merger dan akuisisi di industri perbankan Indonesia menjadi lebih aktif dengan akuisisi senilai Rp101 triliun atau setara dengan USD7 miliar yang terjadi sejak 2019 atau USD4,7 miliar per tahun.
Pada periode 2013 hingga 2018 lalu, akuisisi relatif lambat setelah peraturan pembatasan saham 40 persen di 2012.
“Dengan nilai total Rp54 triliun atau setara dengan USD3,6 miliar atau USD0,6 miliar per tahun. Bank asing mendominasi akuisisi di 2019 hingga 2020 dengan nilai saham 99 persen,” jelas Morgan Stanley.
Morgan Stanley meyakini akselerasi akuisisi belakangan ini didorong oleh regulator yang lebih akomodatif dengan kebijakan relaksasi permodalan dan juga minat tinggi dari investor asing.
Relaksasi terkini dari 40 persen kepemilikan saham, yang biasanya melibatkan merger tambahan setelah akuisisi, seharusnya mempercepat konsolidasi sistem perbankan.
“Morgan Stanley memperkirakan tren akan terus berlanjut, dan didukung oleh beberapa akuisisi potensial yang sedang dalam proses,” demikian riset tersebut.
Kemudian, pertumbuhan dan kondisi yang berbeda di beberapa kawasan regional tampaknya menjadi motivasi utama bagi bank asing untuk mengakuisisi bank di Indonesia, khususnya bank-bank Jepang dan Korea yang aktif melakukan M&A baru-baru ini. Hal ini didukung kondisi di mana bank-bank Indonesia terlihat lebih atraktif di tingkat regional.
“Dengan laju pertumbuhan majemuk tahunan (CAGR) untuk pinjaman 10 tahun sebesar 16 persen pada 2019, jika dibandingkan bank Jepang dan Korea dengan CAGR untuk pinjaman 10 tahun sebesar dua persen dan tujuh persen.
Net Interest Margin (NIM) perbankan Indonesia juga tinggi, yaitu mencapai 5,9 persen pada 2019.
“Atau lebih tinggi dibanding Jepang dan Korea sebesar 1,0 persen dan 1,9 persen. Namun, tidak ada jaminan bahwa semua akuisisi akan berhasil karena tergantung pada bagaimana pihak pengakuisisi beradaptasi dengan dinamika pinjaman dan pendanaan di Indonesia,” papar Morgan Stanley.
Morgan Stanley berharap partisipasi bank asing yang lebih tinggi dapat meningkatkan efisiensi di sistem perbankan, melalui peningkatan kompetisi domestik untuk diimplementasikan pada anak perusahaan Indonesia.
Sedangkan rasio biaya atau aset bank di Indonesia sebesar 3,3 persen pada 2019 perlu ditingkatkan.
Walaupun menurut Morgan Stanley rasio ini lebih tinggi dibandingkan dari bank Jepang dan Korea yaitu 0,7 persen dan 1,1 persen, Morgan Stanley berharap akusisi bank asing bisa mendorong penguatan basis modal dan likuiditas perbankan di Indonesia karena pengakuisisi asing umumnya merupakan bank yang paling solid di negara asalnya.
Morgan Stanley juga mengungkapkan, dalam jangka pendek, arah kebijakan regulator untuk membantu bank-bank kecil akan semakin jelas berkat keterlibatan investor asing. Artinya kekhawatiran pasar akan beban yang harus ditanggung bank-bank BUMN besar untuk mendukung bank-bank kecil Indonesia yang tidak terkait bisa mereda.
Dalam jangka panjang, bank yang lebih besar harus berupaya meningkatkan kapasitas untuk menghadapi persaingan lebih ketat dan juga untuk mengadopsi inisiatif digital, yang Morgan Stanley perkirakan dapat menurunkan rasio biaya atau aset dari 3,4 persen pada 2020 menjadi 3,1 persen pada 2025 untuk bank-bank di dunia.
Morgan Stanley juga menurunkan asumsi discount rate bagi bank berdasarkan dengan mempertimbakan kondisi risiko pasar dan layanan nasional yang lebih rendah.
Lebih lanjut, target harga meningkat menjadi 10-20 persen. Penerima utama dari manfaat dalam hal ini adalah Bank Mandiri, BRI, dan BNI. (ATN)
