• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Saturday, June 6, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

PBB Galang Kolaborasi Global Akhiri Krisis Politik di Myanmar

by Redaksi Asiatoday
March 16, 2021
in News
Reading Time: 1 min read
A A
0
PBB Galang Kolaborasi Global Akhiri Krisis Politik di Myanmar

Gelombang massa menentang kudeta militer di Myanmar. Dok

ASIATODAY.ID, NEW YORK – Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres menyerukan kolaborasi global untuk mengakhiri krisis politik di Myanmar.

Guterres tak menduga kekerasan di Myanmar yang dilakukan oleh rezim junta militer Myanmar tak terkendali. Ia mengungkapkan hal itu melalui akun Twitternya pada Selasa (16/2/2021).

“Saya mendorong komunitas internasional untuk bekerja secara kolektif dan bilateral untuk membantu mengakhiri penindasan di Myanmar,” tulisnya.

RelatedPosts

Indonesia’s $9 Million Immigration Scandal Tarnishes the Nation’s Global Reputation

Indonesia-Based International Love Scam Ring Busted After Stealing $2.5 Million From Victims

No Escape: Singapore Court Rejects Paulus Tannos’ Challenge, Extradition Looms

Juru Bicara PBB Stéphane Dujarric dalam pernyataannya mengatakan tindakan militer Myanmar yang membunuh demonstran, penangkapan sewenang-wenang, dan penyiksaan tahanan sangat melanggar HAM.

Junta militer Myanmar juga dianggap menentang seruan Dewan Keamanan PBB yang sudah meminta mereka untuk menahan diri, melakukan dialog, dan kembali ke jalur demokrasi Myanmar.

“Mendesak militer untuk mengizinkan kunjungan utusan khusus PBB sebagai elemen penting dalam menenangkan situasi dan menyiapkan mimbar untuk dialog dan kembali ke demokrasi,” ujarnya.

Dikutip dari CNA pada Selasa, sedikitnya 20 orang tewas di Myanmar pada Senin dalam unjuk rasa. Pasukan keamanan menembakkan gas air mata, senjata karet hingga senjata api untuk memukul mundur para demonstran di penjuru negeri.

Asosiasi Bantuan Tahanan Politik (AAPP), kelompok pengawas di Myanmar melaporkan jumlah korban tewas naik signifikan, menjadikan lebih dari 180 jiwa melayang sejak kudeta militer pada 1 Februari lalu.

Selain PBB, Amerika Serikat, China, dan Inggris mengutuk kekerasan yang memakan korban rakyat sipil di Myanmar.

“Junta menanggapi seruan untuk pemulihan demokrasi di Burma dengan peluru. Amerika Serikat terus meminta semua negara untuk mengambil tindakan konkret untuk menentang kudeta dan kekerasan yang meningkat,” kata juru bicara Departemen Luar Negeri AS Jalina Porter kepada wartawan pada hari Senin. (ATN)

Tags: Krisis Myanmar
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia’s $9 Million Immigration Scandal Tarnishes the Nation’s Global Reputation
  • Indonesia Centralizes Strategic Commodity Exports Under Single-State Gateway
  • Indonesia-Based International Love Scam Ring Busted After Stealing $2.5 Million From Victims
  • No Escape: Singapore Court Rejects Paulus Tannos’ Challenge, Extradition Looms
  • Indonesia’s Nickel Crisis Deepens: Weda Bay Mine Shutdown Puts 11,700 Jobs at Risk
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.