• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Friday, June 26, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home STUDY AND ENVIRONMENT

PBB : Krisis Iklim Kian Mengerikan, 7 Juta Kematian Prematur Terjadi Tiap Tahun

by Redaksi Asiatoday
December 4, 2019
in STUDY AND ENVIRONMENT
Reading Time: 2 mins read
A A
0
PBB : Krisis Iklim Kian Mengerikan, 7 Juta Kematian Prematur Terjadi Tiap Tahun

ASIATODAY.ID, MADRID – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyoroti dampak mengerikan dari perubahan iklim dan pemanasan global yang mengancam kehidupan manusia sudah di depan mata.

Peringatan itu disampaikan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Guterres menjelang konferensi iklim yang berlangsung di Madrid, Spanyol, Senin (2/12/2019).

“Selama berdekade-dekade, manusia telah berperang dengan planet (Bumi), dan saat ini planet sedang menyerang balik,” ujar Guterres, mengkritik kurangnya usaha komunitas global dalam memangkas polusi karbon.

RelatedPosts

Now for Climate: Young Indonesians Take Action for the Planet

As Heatwave Sweeps Europe, Study Warns of Growing Toll on Household Incomes

UNDP Hails Indonesia as Regional Model for Green Growth After High-Level Visit

“Saat ini kita sedang berhadapan dengan krisis iklim. Krisis ini tidak lagi jauh di seberang sana, tapi sudah ada di depan mata kita,” sambung dia, dilansir dari AFP, Rabu (4/12/ 2019).

Guterres menyinggung mengenai laporan baru PBB yang bahwa temperatur Bumi dalam lima tahun terakhir merupakan yang terpanas dalam sejarah.

“Bencana alam terkait iklim sudah semakin sering terjadi dan semakin mematikan serta destruktif,” sebut Guterres di Madrid saat menghadiri konferensi iklim COP25.

Menurutnya, situasi saat ini mengancam kesehatan manusia serta ketahanan pangan global secara umum. Ia juga menyebut bahwa polusi udara terkait perubahan iklim bertanggung jawab atas tujuh juta kematian prematur di muka Bumi pada setiap tahunnya.

Perjanjian Iklim Paris menyerukan adanya pembatasan pemanasan global di bawah dua derajat Celcius. Namun sejumlah studi terbaru menyebutkan bahwa suhu pembatasan idealnya adalah 1,5 derajat Celcius.

Laporan PBB berjudul UN Environment Programme pekan kemarin menyimpulkan bahwa emisi karbon dioksida harus turun sebanyak 7,6 persen per tahun untuk satu dekade ke depan agar target Perjanjian Iklim Paris dapat tercapai.

Bagi Guterres, 1,5 derajat Celcius adalah target yang mampu dicapai. Satu-satunya penghambat, sambung dia, adalah kemauan politik.

“Saya tekankan sekali lagi, bahwa upaya kita semua sejauh ini belum cukup. Para penghasil emisi terbesar di dunia belum melakukan kewajibannya dengan baik,” tegas Guterres, merujuk pada negara besar seperti Tiongkok dan Amerika Serikat. (ATN)

,’;\;\’\’
Tags: Climate CrisisClimate EmergencyKrisis IklimPerubahan IklimUN EnvironmentUnited Nations
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia Challenges Singapore and Dubai as It Unveils Ambitious Global Financial Center Strategy
  • Indonesia’s $100 Billion Nickel Bet Faces a New Threat as Global EV Battery Technology Shifts
  • U.S. Pushes Indonesia’s Nuclear Ambitions
  • New War on Corruption: Philippines Overhauls Public Finance System
  • Now for Climate: Young Indonesians Take Action for the Planet
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.