• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Friday, June 5, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home Business

Perdagangan Indonesia dan Swiss Surplus Rp10 Triliun Semester I/2021

by Redaksi Asiatoday
August 12, 2021
in Business
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Perdagangan Indonesia dan Swiss Surplus Rp10 Triliun Semester I/2021

Aktivitas ekspor dan impor di pelabuhan Swiss. Dok

ASIATODAY.ID, BERN – Indonesia capai surplus neraca perdagangan terhadap  Swiss di semester pertama (Januari – Juni 2021), yakni sebesar USD715,34 juta atau Rp 10,37 triliun.

Terjadi peningkatan nilai ekspor Indonesia ke Swiss pada hampir semua komoditas ekspor utama, kecuali untuk logam mulia, perhiasan/permata (HS71).​​

Ekspor logam mulia, perhiasan/permata (HS 71) mengalami penurunan yang cukup signifikan dari USD 1,04 miliar pada semester I-2020 menjadi USD 665,97 juta pada periode yang sama tahun ini. Penurunan ini mengakibatkan surplus neraca perdagangan Indonesia-Swiss mengalami penurunan dari Rp. 13.03 triliun pada semester 1-2020 menjadi Rp. 10.37 triliun pada periode yang sama tahun 2021.

RelatedPosts

Indonesia Centralizes Strategic Commodity Exports Under Single-State Gateway

Indonesia’s Nickel Crisis Deepens: Weda Bay Mine Shutdown Puts 11,700 Jobs at Risk

China’s Nickel Giants Look to Africa as Policy Uncertainty Puts Indonesia’s Dominance at Risk

Namun demikian, peningkatan cukup signifikan terjadi pada komoditas minyak atsiri, furniture (mebel), produk  tekstil rajutan dan alas kaki. Masing masing sebesar 36%, 22%, 17%, dan 15%.

Sepuluh komoditas ekspor utama Indonesia ke Swiss berdasarkan urutan nilai ekspor nya, yakni logam mulia, perhiasan/permata (HS 71), alas kaki (HS 64), produk tekstil bukan rajutan (HS 62), produk tekstil rajutan (HS 61), perlengkapan elektrik (HS 85), furnitur (HS 94), kopi (HS 0901), minyak atsiri (HS 3301.29), mesin turbin dan suku cadang (HS 84) serta kimia organik (HS 29).

Situasi pandemi global berdampak  cukup signifikan terhadap surplus perdagangan Indonesia-Swiss pada  semester I tahun ini. Swiss melakukan pelonggaran (relaksasi) kebijakan pembatasan kegiatan ekonomi/sosial sejak tanggal 26 Juni 2021.

Kementerian Koordinator Perekonomian Swiss (SECO) menyatakan pelonggaran tersebut telah memicu pemulihan ekonomi yang lebih cepat.

SECO memperkirakan PDB Swiss tahun 2021 meningkat 3,6% dari 3% perkiraannya di bulan Maret lalu. Ekonomi swiss diharapkan akan memasuki wilayah pertumbuhan positif sampai dengan akhir tahun 2021, setelah pada triwulan 1-2021 mengalami pertumbuhan negatif 0.5%. Demikian juga, pertumbuhan ekonomi Swiss di tahun 2020 turun hingga -2,9%.

Dubes RI untuk Swiss dan Liechtenstein, Muliaman Hadad, memperkirakan pada triwulan III dan IV tahun 2021, neraca perdagangan masih akan meningkat sebagaimana periode yang sama tahun lalu.

Relaksasi kegiatan masyarakat di Swiss akan mendorong peningkatan kegiatan perekonomian Swiss, sehingga diharapkan akan meningkatkan permintaan terhadap produk – produk Indonesia.

Hubungan Indonesia-Swiss telah semakin meningkat tidak saja antar pemerintah tetapi juga antar pebisnis, dan people-to-people. Tahun 2021 merupakan tahun perayaan peringatan 70 tahun hubungan Indonesia dengan Swiss, sejak dibukanya hubungan diplomatik kedua negara pada tahun 1951.

Indonesia menjadi salah satu negara prioritas Swiss melalui Indonesia Cooperation Programme 2021-2024, dengan dukungan dana senilai CHF 65 juta. Program tersebut di antaranya, fokus pada promosi “inclusive and sustainable development”, peningkatan perencanaan perkotaan (effective public institutions) dan pengembangan UMKM.

Selain itu, untuk membantu penanganan pandemi di Indonesia, Swiss telah mengirimkan bantuan melalui Swiss Humanitarian Aid (SHA) pada tanggal 24 Juli 2021, yaitu berupa 600 Portable Oxygen Concentrator, medical protective equipment dan perlengkapan medis lainnya, setara hampir CHF 1 juta.

Swiss merupakan investor terbesar kedua dari benua Eropa. Swiss menempati top 10 Foreign Direct Investment di Indonesia. Sesuai data Kementerian Investasi/BKPM, pada semester I-2021, nilai investasi Swiss di Indonesia senilai USD 469.5 juta dengan total 199 proyek.

Sebagai informasi, saat ini terdapat 150 perusahaan Swiss di Indonesia, yang juga telah menyerap 50 ribu tenaga kerja di Indonesia.

“Kemajuan yang sudah dicapai diharapkan akan terus meningkat dengan komitmen kedua negara terus memperkuat kemitraan, khususnya dalam hubungan ekonomi yang semakin erat serta komitmen dukungan Swiss dalam kemitraan ekonomi komprehensif setelah semua pihak ratifikasi Indonesia-EFTA CEPA. Perjanjian ini tidak hanya mencakup kerja sama perdagangan barang dan jasa, namun juga investasi,“ tambah Dubes Muliaman Hadad. (ATN)

Tags: Asia EropaKerjasama Indonesia-Swiss
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia Centralizes Strategic Commodity Exports Under Single-State Gateway
  • Indonesia-Based International Love Scam Ring Busted After Stealing $2.5 Million From Victims
  • No Escape: Singapore Court Rejects Paulus Tannos’ Challenge, Extradition Looms
  • Indonesia’s Nickel Crisis Deepens: Weda Bay Mine Shutdown Puts 11,700 Jobs at Risk
  • China’s Nickel Giants Look to Africa as Policy Uncertainty Puts Indonesia’s Dominance at Risk
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.