• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Saturday, June 20, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home Business

Permintaan Global Tumbuh, Indonesia Pacu Ekspor Rempah-rempah

by Redaksi Asiatoday
June 28, 2020
in Business
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Impor Turun Tajam, Ekspor Indonesia hanya Tumbuh 2 Persen di Februari 2020

Aktivitas ekspor dan impor di Pelabuhan Tanjung Priok. Ist

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Permintaan global terhadap produk rempah-rempah diproyeksikan semakin sejalan dengan meningkatnya industri makanan dan minuman, restoran, serta kosmetik.

Indonesia akan memanfaatkan ceruk pasar itu dengan berbagai strategi.

“Pemerintah terus melakukan berbagai terobosan untuk meningkatkan ekspor rempah di tatanan kehidupan normal baru saat ini,” kata Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Kasan melalui keterangan tertulisnya, Minggu (28/6/2020).

RelatedPosts

Trois Films and South Korea’s JJan E&M Forge Strategic Partnership in Film Industry

Indonesia–Germany Set to Accelerate Economic and Industrial Alliance

Danantara Raises US$1.5 Billion as Global Investors Flock to Indonesia Bond Offering

Menurut Kasan, kerja sama dengan negara tujuan ekspor perlu dilakukan lebih cepat untuk menangkal potensi peningkatan ekspor secara maksimal. Perdagangan tidak boleh berhenti karena alasan pandemi covid-19 yang merupakan momentum naiknya produk untuk menjaga imunitas tubuh.

“Langkah-langkah yang akan dilakukan Kemendag antara lain dengan melakukan pemetaan produk dan pasar ekspor, penguatan promosi dagang, pengembangan produk ekspor, dan penguatan sumber daya manusia (SDM),” ujar Kasan.

Direktur Pengembangan Produk Ekspor Kementerian Perdagangan Olvy Andrianita memaparkan bahwa  pada Januari-April 2020 nilai permintaan rempah tercatat sebesar USD218 juta. Angka tersebut meningkat sekitar 19,28 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Strategi yang akan diperkuat meliputi penguatan daya saing komoditas dengan memanfaatkan pasar ekspor luar negeri.

Teknisnya dilakukan dengan cara promosi, penetrasi, dan pengembangan komoditas. Kemudian memfasilitasi dunia usaha agar dapat dengan mudah menyertifikasi indikasi geografis, sertifikasi organik, serta sertifikasi halal ke negara tujuan ekspor.

“Upaya peningkatan perdagangan dilakukan melalui pengembangan sertifikasi produk dan peningkatan food safety dari tingkat petani. Sehingga, produk rempah harus dipastikan dahulu terbebas dari salmonella dan aflatoksin,” paparnya.

Selain itu, Indonesia perlu mengembangkan rempah organik lantaran tengah diminati oleh pasar Eropa. Penguatan lainnya juga perlu dilakukan dengan terus berpromosi produk rempah yang belum dikenal seperti kunci dan temulawak.

Penguatan jejaring perwakilan Indonesia di luar negeri dan perwakilan perdagangan baik Atase Perdagangan, Indonesian Trade Promotion Center (ITPC), dan Kantor Dagang Ekonomi Indonesia (KDEI) juga penting untuk dilakukan. Kemudian mengoptimalkan pemanfaatan resi gudang untuk menjaga kualitas produk yang disimpan.

“Untuk meningkatkan ekspor rempah, Pemerintah berupaya mendorong penetrasi ekspor ke negara nontradisional seperti Saudi Arabia, Uni Emirat Arab, dan Pakistan. Selain itu, rempah tanah air juga potensial diekspor ke Bosnia dan Eropa Timur,” ujar Olvy.

Indonesia berada pada peringkat enam dunia eskportir rempah dengan pangsa pasar 6,03 persen setelah India (pangsa pasar 18,75 persen), Tiongkok (14,25 persen), Vietnam (7,14 persen), Madagaskar (6,47 persen), dan Guatemala (6,37 persen).

Pada periode Januari-April 2020, nilai ekspor rempah Indonesia mencapai USD218,69 juta atau meningkat 19,28 persen dibandingkan periode yang sama 2019. Komoditas ekspor rempah utama Indonesia selama 2019 adalah lada (pangsa pasar 22,04 persen), cengkeh (16,65 persen), bubuk kayu manis (12,16 persen), vanila (10,42 persen), dan pala (10,09 persen).

Kelima produk ini merupakan komoditas utama rempah dengan jumlah pangsa pasar sebanyak 71,36 persen dari total ekspor rempah Indonesia di 2019.

Negara tujuan ekspor utama produk rempah Indonesia pada 2019 adalah Amerika Serikat dengan pangsa pasar 22,48 persen, India (15,54 persen), Vietnam (14,03 persen), Tiongkok (7,32 persen), dan Belanda (4,94 persen).

Sementara itu, sepanjang 2015-2019, ekspor rempah Indonesia ke pasar nontradisional menunjukkan tren pertumbuhan positif, antara lain ke Pakistan (tren 16,32 persen), Saudi Arabia (11,94 persen), Thailand (6,69 persen), Uni Emirat Arab (UAE) (37,06 persen), Kanada (1,68 persen), dan Brasil (9,07 persen). (ATN)

Tags: Ekspor Indonesia
No Result
View All Result

Terbaru

  • MSCI Flags Transparency Concerns, Indonesia Races to Reinforce Investor Confidence
  • Indonesia Regains Access to EU Aquaculture Market After Securing Regulatory Approval
  • ASEAN Offers Alternative to EU Integration Model and Shows Demand for Russia Ties
  • World Bank Injects $150 Million to Transform Rural Uzbekistan
  • ADB Injects $115 Million to Tackle Nepal’s Water and Sanitation Crisis
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.