• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Friday, June 26, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

Putra Perajin Batik Ini Bakal Jadi Menteri Pertanian?

by Redaksi Asiatoday
July 22, 2019
in News
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Putra Perajin Batik Ini Bakal Jadi Menteri Pertanian? 1

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Sudah beberapa kali, dalam sejumlah pesan berantai namanya selalu masuk dalam bursa calon kabinet. Kendati daftar kabinet yang tersebar ke publik itu selalu ada yang membantahnya.

Tapi putra seorang perajin batik pekalongan itu memang secara keilmuan dan kelembagaan layak untuk didapuk menjadi menteri.

Jabatannya sangat disegani. Masih muda. Belum profesor tapi sudah menjadi Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) untuk masa jabatan 2017-2022. 

RelatedPosts

New War on Corruption: Philippines Overhauls Public Finance System

Indonesia Expands De-Dollarization Drive, Targets India and South Korea for Local Currency Trade Deals

Indonesia Deepens Legal Alliance With Russia, Approves Extradition of Russian Citizen

Sebuah jabatan prestisius sekaligus amanah yang sangat berat dalam dunia pendidikan tinggi. 

Ya, dalam sebuah kesempatan Asiatoday.id sempat berbincang dengan Arif Satria yang dilantik menjadi rektor IPB, 15 Desember 2017.

Ayah dua anak kelahiran Pekalongan 17 September 1971 terpilih menjadi Rektor IPB melewati proses seleksi yang panjang. Dan diputuskan Majelis Wali Amanat IPB secara mufakat. “Ini sejarah karena selama ini penentuan rektor melalui mekanisme voting,” kata Arif. 

“Ini sekaligus juga amanah yang harus saya pertanggungjawabkan kepada IPB dan juga ke publik,” tambahnya.

Arif mengaku semasa kecil tak pernah bersentuhan dengan bidang pertanian. Maklum, mata pencaharian utama masyarakat di sana umumnya perajin, saudagar dan di pesisir sebagai nelayan.

Masuk IPB lewat Jalur Penelusuran Minat dan Kemampuan (PMDK) sebuah program penjaringan siswa berdasarkan peringkat di kelas yang dikembangkan rektor IPB yang juga ahli statistik, Andi Hakim Nasution.

Arif diterima di Jurusan Sosial Ekonomi (Sosek) dan melanjutkan master Sosiologi Pedesaan di kampus yang sama. Sedangkan doktoralnya di Marine Policy Kagoshima University, Jepang.

Masa kecil yang lebih banyak dihabiskan di pantai mengusik Arif hingga memutuskan mengambil doktor kelautan di Jepang. Arif bercerita, ketika masa kanak-kanak terutama sore hari saat memandang lepas ke laut, mantan Dekan Fakultas Ekologi Manusia ini selalu terpukau dengan siluet kapal layar yang bergerak beriringan. Ada yang mendekat dan ada yang menjauh.

Pemandangan masa kecil itu berubah total saat usia mahasiswa. Saat ke pantai, Arif tak lagi melihat kapal yang dilihatnya semasa kecil. Arif rindu kapal layar yang tersinari lembayung senja. 

“Kerinduan inilah yang membuat saya tertarik mendalami kelautan,” ujar Arif yang dikenal sebagai ahli kebijakan kelautan dan perikanan.

Satu-satunya profesi yang tidak ditanggalkannya selama menjabat rektor adalah menulis opini dan kolom di media massa.

Menulis, bagi Arif tak sekadar ajang curah gagasan tetapi juga sebagai medium yang membuatnya dikenal banyak orang dan tersambung dengan jejaring di masyarakat dan dunia internasional. 

“Networking saya ini salah satunya terbangun lewat pergaulan dan juga kegemaran saya menulis di media massa,” ujar peraih Anugerah Kekayaan Intelektual Luar Biasa 2009 Bidang Ilmu Pengetahuan dari Mendiknas.

Di tengah kesibukan apalagi setelah menjabat rektor, kapan saat menulis bagi Arif? Rupaya, selain sebelum dan selepas Subuh, ritual menulis yang menyenangkan bagi Arif ketika dalam penerbangan. “Simpel saja, tidak ada yang mengganggu,” tuturnya.

,’;\;\’\’
Tags: Arif SatriaIPBKabinet JokowiMenteri Pertanian
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia’s $100 Billion Nickel Bet Faces a New Threat as Global EV Battery Technology Shifts
  • U.S. Pushes Indonesia’s Nuclear Ambitions
  • New War on Corruption: Philippines Overhauls Public Finance System
  • Now for Climate: Young Indonesians Take Action for the Planet
  • Australia Triples LPG Exports to Indonesia as Hormuz Disruption Reshapes Energy Flows
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.