• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Friday, June 26, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home STUDY AND ENVIRONMENT

Riset : Terpapar Polusi Udara Tingkatkan Risiko Depresi hingga Bunuh Diri

by Redaksi Asiatoday
December 21, 2019
in STUDY AND ENVIRONMENT
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Polusi Udara Jakarta Melebihi Singapura, Bangkok dan Thailand

Polusi Udara di Jakarta. Ist

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Sebuah penelitian di University College London mengungkap resiko besar yang dialami manusia yang terpapar polutan.

Orang yang tinggal di kawasan dengan polusi udara yang tinggi kemungkinan besar berisiko mengalami depresi hingga bunuh diri.

Eksposur udara yang mengandung polutan seringkali membuat orang yang menghirupnya merasa depresi.

RelatedPosts

Now for Climate: Young Indonesians Take Action for the Planet

As Heatwave Sweeps Europe, Study Warns of Growing Toll on Household Incomes

UNDP Hails Indonesia as Regional Model for Green Growth After High-Level Visit

Partikel polusi yang dianalisa untuk studi ini adalah limbah rumah tangga dan industri. Peneliti menambahkan penelitian ini dilakukan untuk membuktikan pernyataan World Health Organization (WHO) bahwa udara yang kotor adalah ‘silent public health emergency’.

“Kami diperlihatkan kalau polusi udara bisa menyebabkan bahaya untuk kesehatan mental kita,” jelas peneliti Isobel Braithwaite yang memimpin penelitian ini, melansir The Guardian, Sabtu (21/12/2019).

Menurut WHO, ada lebih dari 264 juta jiwa saat ini yang mengalami depresi. Jika masalah pulosi udara bisa terselesaikan, dampaknya sangat besar bagi keberlangsungan hidup masyarakat.

“Kita tahu bahwa partikel udara paling kecil pun bisa masuk ke otak melalui hidung dan penbuluh darah. Dan polusi udara bisa menyebabkan inflamasi otak, merusak sel saraf dan mengubahnya menjadi hormon stres, yang berhubungan dengan kesehatan mental,” papar Isobel.

Penelitian ini dipublikasikan di jurnal Environmental Health Perspectives, dengan menggunakan kriteria kualitas udara di 16 negara yang sangat ketat untuk studi ini.

Studi ini meneliti hubungan depresi dengan paparan polusi partikel lebih kecil dari 2,5 mikrometer atau yang biasa disebut PM2,5. Orang yang menghirup untuk ukuran PM2,5 pada level lebih dari 10 mikrogram per meter kubik seperti yang terjadi di New Delhi, India kemungkinan besar akan membuat masyarakatnya depresi.

Peluang peningkatan depresi yang diteliti memang hanya mencapai 2 persen. Namun peneliti mengatakan sekecil apapun angkanya dapat berdampak buruk, karena 90 persen orang total populasi global saat ini menghirup polutan. (ATN)

,’;\;\’\’
Tags: Polusi di AsiaPolusi UdaraUniversity College LondonWHO
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia Accelerates US$20 Billion Masela Gas Project to Reinforce Energy Security Amid Global Turmoil
  • Indonesia Challenges Singapore and Dubai as It Unveils Ambitious Global Financial Center Strategy
  • Indonesia’s $100 Billion Nickel Bet Faces a New Threat as Global EV Battery Technology Shifts
  • U.S. Pushes Indonesia’s Nuclear Ambitions
  • New War on Corruption: Philippines Overhauls Public Finance System
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.