• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Thursday, June 4, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home Business

Saatnya Rumput Laut Indonesia Kuasai Pasar Global

Proyeksi permintaan rumput laut negara-negara Asia Pasifik mencapai USD23,04 miliar di tahun 2027

by Redaksi Asiatoday
June 16, 2021
in Business
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Saatnya Rumput Laut Indonesia Kuasai Pasar Global

Seaweed Farmers in Indonesia. Doc

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Indonesia sudah saatnya bangkit dan bergerak menguasai pasar Rumput Laut global. Hal ini cukup beralasan karena kekayaan Rumput Laut Indonesia sangat melimpah.

Menurut Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP), Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Artati Widiarti, Rumput Laut merupakan salah satu sumber daya hayati yang sangat melimpah di perairan Indonesia. Bahkan jumlahnya mencapai 8,6 persen dari total biota di laut. Luas wilayah habitat Rumput Laut di Indonesia mencapai 1,2 juta hektare atau terbesar di dunia.

“Ini baru dari komoditas Rumput Laut, potensi sektor kelautan dan perikanan sudah sedemikan luar biasa,” kata Artati saat berbicara di forum webinar Tropical Seaweed Innovation Network (TSIN) series bertajuk “Mengenal Lebih Dekat Keanekaragaman Rumput Laut di Indonesia”, Selasa (15/6/2021).

RelatedPosts

Indonesia–France Business Council Launched to Drive US$3.5 Billion in New Investments

HIPMI Jaya Holds 2026 Regional Leadership Training

Kana Cooperative Opens New PIK2 Branch to Strengthen Business Ecosystem

Tak hanya itu, mengutip paparan Tri Handayani, peneliti dari Pusat Penelitian Oseanografi LIPI yang menyebutkan bahwa saat ini Indonesia memiliki kekayaan makroalga  sebanyak 89 suku (familia), 268 marga (genus)  dan 911 jenis (species).

Dari sekian jenis, Rumput Laut dari kelas alga merah (Rhodophyta) menempati urutan terbanyak dari jumlah jenis yang tumbuh di perairan laut Indonesia yaitu sekitar 564  jenis, disusul alga hijau (Chlorophyta) sekitar 201 jenis dan alga coklat (Ochrophyta) sekitar 146.

“Keberlimpahan sumber daya hayati Rumput Laut ini tentunya merupakan anugerah bagi bangsa Indonesia yang dapat didayagunakan sebagai penggerak ekonomi nasional, penyedia lapangan kerja, penghasil devisa serta menjadi sumber pangan dan gizi nasional,” jelas Artati.

Dalam kesempatan ini, Artati menegaskan riset dan inovasi adalah kunci peningkatan daya saing di pasar global. Karenanya, keberadaan TSIN yang beranggotakan para peneliti, pakar dan praktisi Rumput Laut di Indonesia, bisa menjadi kekuatan guna menjembatani antara inovasi dan industri, agar komersialisasi hasil riset dan inovasi rumput laut dan dapat terwujud.

“Untuk memperkuat posisi dan peran TSIN dalam Perumput Lautan Indonesia perlu diupayakan agar TSIN menjadi sebuah lembaga yang akan mengawal percepatan industrialisasi dan peningkatan daya saing Rumput Laut Indonesia,” tegasnya.

Melalui sinergitas riset, inovasi dan penerapan di lapangan, Artati meyakini Indonesia bisa menjadi pemain utama dalam industri Rumput Laut dunia. Terlebih proyeksi permintaan rumput laut negara-negara Asia Pasifik sebagai pasar terbesar, mencapai USD23,04 miliar di tahun 2027.

Lonjakan permintaan terjadi karena meningkatnya permintaan untuk industri pangan, pakan, obat-obatan dan kosmetik.

“Pasar menurut Fortune Business Insights akan terus tumbuh dengan meningkatnya permintaan dan produksi dari negara-negara seperti China, Korea Selatan, India dan Jepang, termasuk Indonesia untuk bahan pangan, kosmetik, farmasi, bahan perekat dan gel,” jelas Artati.

Sementara itu, Direktur Pemasaran Ditjen PDSPKP, Machmud menyebutkan bahwa pemanfaatan rumput laut untuk konsumsi manusia menyumbang lebih dari 77 persen dari keseluruhan pangsa pasar global. Kebutuhan ini diproyeksikan meningkat di masa mendatang karena perubahan lifestyle kebiasaan makan yang sehat, dan meningkatnya populasi penduduk.

Khusus untuk pasar Amerika Serikat, Machmud menyebut nilai industri Rumput Laut sebesar USD311,4 juta pada tahun 2019. Jumlah ini diperkirakan berkembang pesat dengan meningkatnya pemanfaatan untuk industri farmasi. Selain itu, kebutuhan rumput laut merah pada 2020 – 2027 diprediksi akan tumbuh 9,2 persen  dengan produk utama semi-olahan dan olahan, khususnya karaginan.

“Permintaan pasar Rumput Laut di AS didominasi oleh jenis merah, diikuti oleh cokelat dan hijau,” tandas Machmud. (AT Network)

Tags: Ekspor rumput lautRumput LautTropical Seaweed Innovation Network
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia: UN Experts Condemn Military Trial in Acid Attack Case Targeting Human Rights Defender Andrie Yunus
  • Indonesia’s Rupiah Hits Record Low as OECD Warns Economy Is Falling Behind Vietnam
  • Indonesia’s Massive Free Meals Program Set to Reach 85 Million Beneficiaries
  • Corruption Scandal Hits Indonesia’s Free Meals Program as Former Nutrition Chiefs Are Jailed
  • Indonesian Nickel Downstreaming: IPIP Pomalaa Urged to Avoid IMIP and IWIP Pitfalls
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.