ASIATODAY.ID, WELLINGTON – Kementerian Kesehatan Selandia Baru merilis laporan terbaru mengenai penyebaran virus corona (covid-19) di negeri itu.
Hingga Minggu ini, 14 Juni 2020, Kemenkes Selandia Baru mencatat bahwa kasus covid-19 sudah tidak lagi muncul di seantero negeri selama 23 hari berturut-turut.
Dikutip dari Bernama, total kasus terkonfirmasi covid-19 di Selandia Baru tak berubah di angka 1.154. Namun jika ditambah dengan kasus dugaan covid-19, maka angkanya mencapai 1.504.
Angka kematian akibat covid-19 di Selandia Baru juga tidak berubah sejak lama, dan tetap bertahan di angka 22. Sementara jumlah pasien sembuh berada di angka 1.482.
Sementara itu, Kemenkes Selandia Baru telah merilis aplikasi seputar covid-19 bernama NZ COVID Tracer pada 20 Mei. Sejauh ini, tercatat sudah ada 554 ribu orang yang melakukan pendaftaran di aplikasi tersebut.
Kemenkes Selandia Baru mendorong semua perusahaan dan tempat usaha untuk selalu menampilkan kode QR dalam semua transaksi. Dengan kode QR tersebut, Selandia Baru dapat melihat rekam jejak warga yang menggunakan aplikasi NZ COVID Tracer.
Sejumlah laboratorium di Selandia Baru telah menyelesaikan 2.487 tes covid-19 pada Sabtu kemarin. Tambahan tersebut menjadikan total tes covid-19 di Selandia Baru mencapai 310.297.
Senin 8 Juni lalu, Pemerintah Selandia Baru mengumumkan kesembuhan pasien terakhir covid-19. Dengan tidak adanya lagi kasus aktif, maka Selandia Baru sudah terbebas dari covid-19.
“Ini merupakan berita yang sangat bagus bagi seluruh warga Selandia Baru,” kata Direktur Jenderal Kesehatan Ashley Bloomfield kala itu.
Selandia Baru pertama kali mencatat kemunculan kasus covid-19 pada 28 Februari.
“Tidak adanya lagi kasus aktif untuk kali pertama sejak 28 Februari merupakan pencapaian signifikan dalam perjalanan kita semua. Tapi seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, kewaspadaan terhadap covid-19 tetap merupakan hal penting,” ungkap Bloomfield.
Pasien terakhir yang sembuh dari covid-19 di Selandia Baru adalah perempuan berusia 50-an tahun asal Auckland. Ia merupakan bagian dari klaster penyebaran covid-19 di rumah peristirahatan St Margaret di Auckland. (ATN)
