ASIATODAY.ID, JAKARTA – Menteri Kesehatan dan Kesejahteraan Taiwan Shih-Chung Chen berharap Taiwan bisa ikut berpartisipasi dalam setiap kegiatan yang digelar oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), termasuk pertemuan Majelis Kesehatan Dunia (World Health Assembly/WHA), di Jenewa, Swiss, pada 22-28 Mei 2022.
Sebab, dalam semangat “Tujuan Pembangunan Berkelanjutan 2030” Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), tidak satu negarapun yang harus tertinggal.
“Kami mendesak WHO dan pihak terkait untuk mendukung diterimanya Taiwan dalam WHO dan mengizinkan Taiwan untuk berpartisipasi penuh dalam pertemuan, mekanisme, dan kegiatan WHO. Taiwan akan terus bekerja dengan seluruh dunia untuk memastikan bahwa semua menikmati hak asasi manusia atas kesehatan sebagaimana diatur dalam Konstitusi WHO,” ungkap Chung Chen dalam siaran pers yang diterima di Jakarta Kamis (19/5/2022).
Selama lima tahun terakhir, Taiwan tidak diundang untuk berpartisipasi dalam WHA.
Untuk memastikan Taiwan tidak ketinggalan dan tidak ada gap coverage dalam kesehatan global, ujar Chen, Taiwan terus berupaya untuk berpartisipasi dalam WHA tahun ini secara profesional dan pragmatis, sehingga dapat memberikan kontribusi sebagai bagian dari upaya global untuk mewujudkan visi WHO.
“Dua tahun masa pandemi Covid-19, lebih dari 510 juta kasus yang dikonfirmasi dan lebih dari 6,25 juta kematian telah dilaporkan di seluruh dunia. Saat semua negara terus memerangi pandemi, pencapaian Taiwan yang memiliki populasi 23,5 juta telah diakui secara luas,” ujar Chen.
Menurut Chen, sistem Asuransi Kesehatan Nasional (NHI) Taiwan, yang diluncurkan pada 1995, telah memainkan peran penting dalam memerangi pandemi. Sistem NHI menyediakan layanan kesehatan yang komprehensif dan berkualitas tinggi, mencapai cakupan universal, yakni 99,9%.
Sistem perawatan kesehatan dan NHI Taiwan yang kuat telah melindungi masyarakat dan memastikan stabilitas sosial selama pandemi Covid-19. Selain itu, basis data NHI yang komprehensif dan sistem informasi terkini lainnya sangat penting dalam memastikan keberhasilan penerapan teknologi digital untuk pencegahan penyakit. Sistem perawatan kesehatan Taiwan menduduki peringkat kedua di dunia pada 2021 menurut CEOWorld.
Chen juga menegaskan, pada tahap awal pandemi Covid-19, Februari 2020, demi mengurangi risiko penularan masyarakat, pemerintah menerapkan Sistem Karantina Masuk dengan mengintegrasikan database NHI, imigrasi, dan bea cukai untuk memungkinkan analisis big data.
Data diperkenalkan ke Sistem Pelacakan Pagar Digital, yang menggunakan sistem penentuan posisi pada ponsel untuk memantau keberadaan orang-orang yang dikarantina atau diisolasi di rumah.
“Untuk memastikan bahwa semua penduduk mendapatkan masker dan dapat menikmati akses yang adil karena permintaan yang meningkat, warga diharuskan menggunakan kartu NHI mereka untuk membeli masker di bawah Sistem Distribusi Masker Berbasis Nama. Ini membantu mencegah ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan,” kata Chen.
Menkes Chen juga menjelaskan, negaranya telah menerapkan sistem layanan kesehatan digital, salah satunya melalui aplikasi NHI Express. Aplikasi ini menawarkan sejumlah fitur, seperti janji vaksinasi, data kesehatan pribadi, catatan medis, catatan vaksinasi Covid-19, dan hasil tes.
“Taiwan bergabung dengan program Sertifikat Covid-19 Digital UE pada akhir 2021 dan mengizinkan warganya untuk mengajukan sertifikat vaksinasi digital dan sertifikat tes. Warga Taiwan dapat memasuki 64 negara, termasuk negara anggota Uni Eropa dengan menggunakan sertifikat tersebut,” ujar Chen.
Dikatakan pula, Taiwan mampu menangani pandemi sambil membuat orang menjalani kehidupan normal dan mencapai pertumbuhan ekonomi yang positif melalui penggunaan teknologi yang tepat, transparansi informasi, kontrol perbatasan yang ketat, dan penyaringan yang akurat, serta investigasi kasus.
Namun, dengan penyebaran varian Omicron ke seluruh dunia sejak akhir 2021, penularan komunitas juga mulai meningkat di Taiwan. Varian ini tampaknya jauh lebih menular tetapi hanya menyebabkan gejala ringan atau tanpa gejala.
Penerapan untuk memblokir penularan setiap kasus akan menjadi upaya sia-sia yang akan sangat mempengaruhi mata pencaharian masyarakat. Oleh karena itu, pemerintah Taiwan telah memilih untuk menghilangkan kasus berat, mengelola kasus ringan, meminimalkan dampak keseluruhan, serta merawat kasus sedang dan berat sejak April 2022
“Model Taiwan baru ini berupaya memungkinkan orang menjalani kehidupan normal sementara tindakan pencegahan epidemi aktif tetap dilakukan,” ujarnya.
Lebih jauh, Menteri Chen mengatakan, dunia saat ini terus menghadapi tantangan pandemi, pasokan vaksin, dan pemulihan pascapandemi. Seluruh negara harus bekerja sama dan bersiap untuk kemungkinan pandemi di masa depan.
Taiwan kata dia, adalah mitra yang sangat diperlukan dalam memastikan keberhasilan pemulihan pascapandemi. Untuk mengatasi pandemi, Taiwan terus bekerja sama dengan negara lain dalam penelitian dan pengembangan vaksin dan obat-obatan Covid-19.
“Taiwan telah menyumbangkan pasokan medis, seperti masker medis dan obat-obatan ke negara-negara yang membutuhkan. Ini menunjukkan bahwa Taiwan bisa membantu, dan Taiwan akan terus membantu,” tandas Chen. (ATN)
