ASIATODAY.ID, TAIPEI – Taiwan secara seksama terus mengamati konflik Rusia-Ukraina di tengah meningkatnya ancaman invasi China terhadap negara pulau itu.
Ahli strategi militer Taiwan bahkan secara serius mulai mempelajari strategi perlawanan Ukraina dalam membendung gempuran militer Rusia.
Taiwan mempelajarinya untuk membuat strategi pertempuran mereka jika China suatu saat melakukan invasi.
Sejauh ini, Pemerintah Taiwan belum melaporkan adanya aktivitas tidak biasa dari militer China. Beijing menganggap Taipei sebagai bagian dari wilayah mereka sendiri.
Penggunaan rudal presisi Rusia, serta Ukraina yang secara taktik dipikirkan dengan baik melalui perlawanan meski pun kalah awak dan persenjataannya, sedang diawasi dengan cermat di lingkaran keamanan di Taiwan, yang pasukannya sendiri juga dikerdilkan oleh China.
Presiden Taiwan Tsai Ing-wen telah memperjuangkan gagasan “perang asimetris,” untuk membuat pasukannya lebih sulit diserang, misalnya dengan rudal yang dipasang di kendaraan.
Ma Cheng-Kun, Direktur Institut Pascasarjana Studi Urusan Militer China di Universitas Pertahanan Nasional Taiwan, mengatakan Ukraina telah menggunakan konsep yang sama dengan senjata bergerak untuk menghalangi pasukan Rusia.
“Militer Ukraina telah memanfaatkan sepenuhnya perang asimetris, sangat efektif, dan sejauh ini berhasil menahan kemajuan pasukan Rusia,” kata Ma, dilansir dari Malay Mail, Rabu (9/3/2022).
“Itulah tepatnya yang dikembangkan secara proaktif oleh angkatan bersenjata kami,” ungkapnya.
Pernyataannya merujuk pada senjata seperti roket anti-armor yang diluncurkan dari Kestrel yang ringan, dan dikembangkan secara lokal. Senjata ini dirancang untuk peperangan jarak dekat.
“Dari penampilan Ukraina, kami bisa lebih percaya diri dengan penampilan kami sendiri,” sambung Ma.
Pekan lalu, Kementerian Pertahanan mengatakan pihaknya berencana untuk menggandakan lebih dari dua kali lipat kapasitas produksi rudal tahunan menjadi hampir 500 tahun ini. Penggandaan alutsista antara lain versi upgrade dari rudal Hsiung Feng IIE, rudal serangan darat jarak jauh Hsiung Sheng yang disebut mampu mencapai target lebih jauh ke pedalaman di China.
Kementerian Pertahanan Taiwan mengatakan bahwa pihaknya memiliki ‘pegangan erat’ terhadap situasi keamanan internasional. Mereka menambahkan, pihaknya bekerja keras untuk meningkatkan persenjataan dan kemampuan tempur pertahanan nasionalnya sepanjang waktu. (ATN)
