• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Friday, June 5, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

Tentang Black Out, Mantan Dirut PLN Dahlan Iskan Tulis Catatan Penting

by Redaksi Asiatoday
August 9, 2019
in News
Reading Time: 6 mins read
A A
0
PLN Mencatat 21,3 Juta Pelanggan Terdampak Black Out

ASIATODAY.ID, Jakarta — Black Out atau listrik padam serentak yang menggelapkan separuh Pulau Jawa pada Minggu (4/8/2019) dan Senin sungguh berdampak luas. Plt Ditektur Utam PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) Sripeni Inten Cahyani jadi sorotan publik.

Senin pagi Presiden Jokowi menyambangi kantor PLN. Marah lalu bergegas pergi. Selasa Sripeni Inten Cahyani dipanggil Komisi VI DPR, dan setelah itu, malamnya, dibahas di ILC.

Black out sampai 7-10 jam dengan skala luas itu pun mengundang banyak perhatian, umpatan, sampai pada adanya gugatan akibat matinya banyak ikan koi milik konsumen.

RelatedPosts

Indonesia: UN Experts Condemn Military Trial in Acid Attack Case Targeting Human Rights Defender Andrie Yunus

Indonesia’s Rupiah Hits Record Low as OECD Warns Economy Is Falling Behind Vietnam

Indonesia’s Massive Free Meals Program Set to Reach 85 Million Beneficiaries

Mantan Dirut PLN Dahlan Iskan pun ikut menuliskan catatannya. Menteri BUMN di era Presiden SBY itu pun bertanya mengenai banyak hal. Berikut catatan lengkap Dahlan Iskan:

Sengon 1 Triliun

Oleh: Dahlan Iskan

SEPELE sekali. Kelihatannya. Hanya gara-gara satu pohon sengon. Listrik seluruh Jakarta padam. Juga Jabar. Dan sebagian Jateng. Minggu-Senin lalu.

Pohon sengonnya ada di Desa Malon. Nun jauh di Gunung Pati, 28 km selatan Semarang. Mati listriknya sampai Jakarta.

Maka pohon sengon itu perlu diabadikan. Fotonya. Untuk dipasang di seluruh kantor PLN. Sebagai monumen. Yang harus diajarkan turun-temurun. Dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Betapa mahalnya pohon sengon itu. Sampai membuat berjuta-juta orang menderita. Pun kereta bawah tanah. Yang masih baru. Ikut lumpuh. Penumpangnya harus dievakuasi. Presiden Jokowi sampai marah karenanya.

Bahkan PLN sendiri sampai harus mengeluarkan ganti rugi kepada konsumen. Nilainya sampai Rp 1 triliun.

Satu pohon sengon. Di sebuah desa. Mampu menggegerkan mayapada.

Pohon sengon itu tidak salah. Tumbuhnya di dalam pagar penduduk. Tapi menjulang sangat tinggi.

Tinggi tiang SUTET itu 40 meter. Tapi bentangannya menggelayut. Tinggi 18 meter. Tinggi sengon itu sekitar 15 meter. Sudah mencapai medan magnet SUTET.

Tapi sengon itu juga berhak bertanya:

  • Mengapa dibiarkan tumbuh tinggi di situ?
  • Mengapa tidak ada yang tahu?
  • Apakah tidak ada lagi anggaran untuk patroli pohon?
  • Mengapa ada kebijakan anggaran ini —bahwa biaya operasi dan pemeliharaan harus di bawah anggaran SDM?
  • Mengapa SUTET itu begitu rapuh? Hanya kesenggol satu pohon sudah pingsan?

Itulah. Mengapa tidak boleh ada pohon
dekat SUTET (Saluran Utama Tegangan
Ekstra Tinggi). Jangankan sampai
nyenggol. Memasuki medan magnetnya
pun sudah mengganggu. Bisa
korsleting. Yang mengakibatkan arus
listrik terhenti.

Mengapa yang korsleting di selatan
Semarang, padamnya di Jakarta dan
Jabar?

Orang Jakarta itu makan listriknya paling
besar. Apalagi ditambah daerah industri
sekitarnya: Tangerang, Bogor, Bekasi,
Karawang.

Padahal pembangkit listrik terbesarnya
ada di Jatim. Di Paiton.

Maka harus ada pengiriman listrik dalam
jumlah besar. Dari Jatim ke Jakarta.
Sekitar 3000 MW. Tepatnya saya sudah
lupa.

Listrik sebesar itu hanya bisa dikirim
lewat SUTET —yang tegangannya 500
kVA. Ibarat kirim air, selangnya harus
sangat besar.

Kian tinggi tegangannya kian luas medan
magnetnya. Karena itu harus ada
sempadan yang lebar. Di sepanjang jalur
SUTET tidak boleh ada tanaman tinggi.
Dalam istilah listrik sempadan itu disebut
ROW —Right of Way.

Dulu selalu ada patroli. Yang mengawasi
ROW itu —apakah mulai ada gejala
pohon yang mengganggu. Tidak harus
tiap hari. Pohon tidak bisa mendadak
tinggi.

Pertanyaannya: apakah anggaran patroli
masih ada? Atau manajemen patrolinya
yang lemah? Atau patroli sudah
dilakukan, laporan sudah dibuat, tapi
tidak ada anggaran penebangan pohon?

Sesederhana itu.

Tapi ada juga unsur nasib.

Jawa itu sebenarnya sudah aman. Biar
pun sebagian besar pembangkitnya ada
di Jatim. Di Jawa sudah punya dua jalur
SUTET. Jalur Utara (yang lewat Ungaran,
Semarang itu) dan jalur tengah.
Membentang dari ujung timur ke ujung
barat Jawa.

Kalau pun ada gangguan di jalur utara
seperti itu sebenarnya tidak ada masalah.
Arus listriknya bisa otomatis pindah ke
SUTET jalur tengah.

Pohon sengon itu bukan satu-satunya
tersangka.

Memang nasib PLN lagi apes. Terutama
Plt Dirutnya. Masih baru. Belum 24 jam.

Hari Minggu itu ada perbaikan SUTET
jalur tengah. Di timur Tasikmalaya.
SUTET-nya dimatikan. Dengan
pertimbangan sangat rasional: pada hari
Minggu beban listrik di sekitar Jakarta
turun drastis. Cukup dilayani jalur utara.

Sayang, kok sengon itu begitu jahatnya—
bergoyang di hari Minggu itu.

SUTET Utara kena sengon. SUTET tengah
lagi diperbaiki.

Akibat hilangnya pasokan dari dua
SUTET tadi beban listrik kacau sekali.

Pembangkit-pembangkit listrik di wilayah
barat mati satu-persatu.

Terjadilah bencana itu.

Kenapa begitu lama? Ini sudah
menyangkut manajemen recovery. Hanya
PLN yang tahu.

Ada pertanyaan kecil: ke mana pasukan
‘Kopassus’-nya P2B? Yang dibentuk dulu
itu? Yang bisa memelihara SUTET tanpa
harus mematikan sistem itu?

Dibubarkan? Tidak diteruskan? Tidak
cukup? Tidak dikembangkan? Tidak ada
anggaran?

Saya masih ingat. Peresmian pasukan itu
dilakukan besar-besaran. Di Monas.
Dengan demo cara-cara memelihara
SUTET. Tanpa mematikannya.

Memang sangat berisiko. Peralatannya
khusus. Bajunya khusus. Kepandaiannya
khusus. Karena itu kita juluki ‘Kopassus’-
nya PLN.

Di PLN juga ada satu departemen
khusus: namanya P2B. Itulah yang
mengatur seluruh sistem listrik di Jawa.
Isinya orang-orang istimewa. Ahli-ahli
listrik.

Saya menyebutnya ‘otak’-nya listrik.
Lembaga itulah yang mengatur seluruh
sistem di Jawa. Kadang saya dikritik.
Terlalu mengistimewakan P2B. Saya tidak
peduli. Saya sudah biasa
mengistimewakan redaksi. Dalam seluruh
organisasi surat kabar.

SUTET di bawah P2B itu. Tapi P2B di
bawah siapa?

Organisasi PLN sekarang sudah beda. Di
Jawa ada tiga direksi. Direktur Jatim/Bali,
Direktur Jateng/DIY dan direktur Jabar/
DKI.

P2B bisa punya posisi yang tidak jelas —di
bawah koordinasi direktur yang mana.
Mungkin sudah diatur. Orang luar seperti
saya tidak bisa melihat.

P2B itu perlu terus berkoordinasi. Tiap
tiga bulan mereka harus rapat. Untuk
evaluasi perkembangan sistem di Jawa.

Adakah rapat itu masih ada? Atau sudah
ditiadakan? Rapat-rapat P2B tidak boleh
dianggap rapat biasa —yang bisa dihapus
demi penghematan.

Demi laba.

Memang ironi: listrik itu baru diingat
justru di saat ia mati. (Dahlan Iskan)

,’;\;\’\’
Tags: Blackout
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia Secures OECD Backing, Trade Gains, and Strategic Partnerships with Major Economies
  • Global Markets Warn Indonesia’s Nickel Industry: Prove It’s Green or Risk Losing Access
  • Indonesia: UN Experts Condemn Military Trial in Acid Attack Case Targeting Human Rights Defender Andrie Yunus
  • Indonesia’s Rupiah Hits Record Low as OECD Warns Economy Is Falling Behind Vietnam
  • Indonesia’s Massive Free Meals Program Set to Reach 85 Million Beneficiaries
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.