• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Friday, July 17, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

Terpapar Covid-19, Ekonomi Indonesia Diproyeksi Hanya Tumbuh 3,5 Persen

by Redaksi Asiatoday
March 27, 2020
in News
Reading Time: 2 mins read
A A
0
DBS : Pertumbuhan Ekonomi Indonesia di 2020 hanya 4,4 Persen

Pertumbuhan ekonomi Indonesia. Ilustrasi

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksi akan melambat seiring perlambatan ekonomi global akibat imbas pandemi global wabah coronavirus (Covid-19).

“Kita memperkirakan ekonomi Indonesia hanya akan tumbuh dikisaran angka 3,5-4,5 persen tahun ini,” terang Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede, melalui keterangan tertulisnya, Jumat (27/3/2020).

Menurut Joshua, tekanan ekonomi dalam negeri dan global secara langsung disebabkan oleh pandemi Covid-19.

RelatedPosts

Wempi Saputra Appointed ADB Vice-President

Indonesia Joins Global AI Alliance

Danantara Indonesia Enters Global Sovereign Wealth Fund Network

Sementara dampak dari global ditransmisikan melalui volume perdagangan yang semakin rendah mengingat wabah ini menghambat permintaan dan harga komoditas dunia. Perlambatan ekonomi global turut menghambat investasi Indonesia akibat terganggunya rantai pasok global di seluruh dunia.

Dari sisi domestik, covid-19 juga akan mengganggu produksi maupun konsumsi. Industri yang akan terkena dampak secara langsung di antaranya sektor manufaktur, pariwisata, serta perdagangan.

“Ketiga sektor tersebut menjadi sektor yang paling terdampak sehubungan dengan keterkaitan sektor tersebut dengan mobilitas barang ataupun manusia, yang sangat terbatasi akibat covid-19 ini,” jelasnya.

Josua menambahkan sektor-sektor tersebut, terutama sektor manufaktur, akan mendorong adanya penurunan pasokan secara umum di perekonomian Indonesia dan menyebabkan adanya tekanan supply shock.

Dari sisi konsumsi, wabah ini men-disinsentif masyarakat untuk berpergian karena sifat penyebaran virus yang masif, sehingga mendorong adanya demand shock dari permintaan agregat.

“Kombinasi dari adanya supply shock dari sisi produksi dan demand shock dari sisi konsumsi ini akan mendorong perlambatan perekonomian secara agregat di Indonesia,” jelasnya.

Joshua memandang, dengan banyaknya kebutuhan pengeluaran untuk penghentian wabah dan stimulus ekonomi, maka sangat wajar apabila legislatif melalui Badan Anggaran (Banggar) memberikan rekomendasi untuk memperlebar ketentuan batas defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dari sebelumnya tiga persen menjadi lima persen khusus di tahun ini.

“Hal tersebut perlu diberlakukan agar pemerintah mempunyai ruang fiskal yang lebih luas agar wabah dan dampak negatifnya dapat diantisipasi,” tandasnya. (ATN)

,’;\;\’\’
Tags: Corona IndonesiaCOVID-19Pertumbuhan EkonomiResesi EkonomiResesi Global
No Result
View All Result

Terbaru

  • Wempi Saputra Appointed ADB Vice-President
  • Indonesia’s Gold Ambition: Building a Global Bullion Ecosystem Beyond Mining
  • Indonesia Joins Global AI Alliance
  • Danantara Indonesia Enters Global Sovereign Wealth Fund Network
  • OPEC+ Builds New Energy Alliance
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.