• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Thursday, July 16, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home STUDY AND ENVIRONMENT

Timur Tengah Dilanda Suhu Panas Ekstrem, Ancaman Kematian Meningkat

by Redaksi Asiatoday
June 9, 2021
in STUDY AND ENVIRONMENT
Reading Time: 1 min read
A A
0
Kota-kota di Asia Pasifik Dominasi Daftar Paling Layak Huni di Dunia

Gelombang panas di Uni Emirat Arab (UEA). Ilustrasi

ASIATODAY.ID, ABU DHABI – Gelombang panas ekstrem melanda kawasan Timur Tengah dengan suhu melampaui 50 derajat celcius. Suhu panas itu memecahkan rekor panas sepanjang tahun ini.

Empat negara di kawasan Timur Tengah yang paling terkena dampak diantaranya Oman, Iran, Kuwait dan Uni Emirat Arab (UEA).

Laporan Washington Post Sabtu kemarin, suhu panas mencapai 51 derajat celcius terjadi di Sweihan, sebuah kota kecil sekitar 80km timur Abu Dhabi di UEA. Omidieh di barat daya Iran juga naik ke 51 derajat celcius, sementara Jahra, di Kuwait mencapai 50,88 derajat celcius. Sunaynah, sebuah kota gurun pedalaman di Oman utara mencatat suhu 50,11 derajat celcius.

RelatedPosts

Pacific Climate Crisis: Papua’s Last Glacier Nears Extinction

Indonesia Leads Southeast Asia’s Push for Deep-Sea Research Independence

Australia and Indonesia Lead Regional Ocean Conservation Initiative

“Suhu yang naik mendekati atau di atas 49 derajat celcius dapat melelehkan krayon, membelokkan rel kereta api, melunakkan aspal dan memperpanjang jarak lepas landas pesawat,” demikian laporan surat kabar AS itu dilansir dari Middle East Eye, Rabu (9/6/2021).

Pada hari Minggu, Sweihan mencatat suhu yang lebih tinggi, pada 51,77 derajat celcius, menandai suhu Juni terpanas yang pernah terlihat di UEA dan mengikat rekor di negara Teluk. Panas ekstrem seperti itu telah didokumentasikan sebagai peningkatan frekuensi yang signifikan di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara.

Tahun lalu, sebuah penelitian yang diterbitkan di Science Advances, menyatakan bahwa bagian Timur Tengah, khususnya Teluk, mungkin tidak dapat dihuni manusia jika tren saat ini berlanjut.

Pekan lalu, temuan yang diterbitkan di Nature Climate Change, menemukan bahwa lebih dari sepertiga kematian terkait panas musim panas disebabkan oleh perubahan iklim, memperingatkan jumlah kematian yang lebih tinggi saat suhu global naik.

Kuwait termasuk di antara setengah lusin negara dalam laporan di mana ditemukan bahwa persentase kematian terkait panas yang disebabkan oleh perubahan iklim adalah 60 persen atau lebih. (ATN)

Tags: Climate ChangeClimate CrisisClimate EmergencyGlobal WarmingPemanasan GlobalPerubahan IklimSave EarthTimur Tengah
No Result
View All Result

Terbaru

  • Danantara Indonesia Enters Global Sovereign Wealth Fund Network
  • OPEC+ Builds New Energy Alliance
  • AMMAN Targets 16 Tons of Gold Output in 2026
  • Saudi Arabia’s New Tariffs Create Fresh Opportunities for Indonesia’s Export Growth
  • Gold’s Safe-Haven Era Faces a New Test
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.