• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Friday, June 26, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home STUDY AND ENVIRONMENT

Timur Tengah Dilanda Suhu Panas Ekstrem, Ancaman Kematian Meningkat

by Redaksi Asiatoday
June 9, 2021
in STUDY AND ENVIRONMENT
Reading Time: 1 min read
A A
0
Kota-kota di Asia Pasifik Dominasi Daftar Paling Layak Huni di Dunia

Gelombang panas di Uni Emirat Arab (UEA). Ilustrasi

ASIATODAY.ID, ABU DHABI – Gelombang panas ekstrem melanda kawasan Timur Tengah dengan suhu melampaui 50 derajat celcius. Suhu panas itu memecahkan rekor panas sepanjang tahun ini.

Empat negara di kawasan Timur Tengah yang paling terkena dampak diantaranya Oman, Iran, Kuwait dan Uni Emirat Arab (UEA).

Laporan Washington Post Sabtu kemarin, suhu panas mencapai 51 derajat celcius terjadi di Sweihan, sebuah kota kecil sekitar 80km timur Abu Dhabi di UEA. Omidieh di barat daya Iran juga naik ke 51 derajat celcius, sementara Jahra, di Kuwait mencapai 50,88 derajat celcius. Sunaynah, sebuah kota gurun pedalaman di Oman utara mencatat suhu 50,11 derajat celcius.

RelatedPosts

Now for Climate: Young Indonesians Take Action for the Planet

As Heatwave Sweeps Europe, Study Warns of Growing Toll on Household Incomes

UNDP Hails Indonesia as Regional Model for Green Growth After High-Level Visit

“Suhu yang naik mendekati atau di atas 49 derajat celcius dapat melelehkan krayon, membelokkan rel kereta api, melunakkan aspal dan memperpanjang jarak lepas landas pesawat,” demikian laporan surat kabar AS itu dilansir dari Middle East Eye, Rabu (9/6/2021).

Pada hari Minggu, Sweihan mencatat suhu yang lebih tinggi, pada 51,77 derajat celcius, menandai suhu Juni terpanas yang pernah terlihat di UEA dan mengikat rekor di negara Teluk. Panas ekstrem seperti itu telah didokumentasikan sebagai peningkatan frekuensi yang signifikan di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara.

Tahun lalu, sebuah penelitian yang diterbitkan di Science Advances, menyatakan bahwa bagian Timur Tengah, khususnya Teluk, mungkin tidak dapat dihuni manusia jika tren saat ini berlanjut.

Pekan lalu, temuan yang diterbitkan di Nature Climate Change, menemukan bahwa lebih dari sepertiga kematian terkait panas musim panas disebabkan oleh perubahan iklim, memperingatkan jumlah kematian yang lebih tinggi saat suhu global naik.

Kuwait termasuk di antara setengah lusin negara dalam laporan di mana ditemukan bahwa persentase kematian terkait panas yang disebabkan oleh perubahan iklim adalah 60 persen atau lebih. (ATN)

Tags: Climate ChangeClimate CrisisClimate EmergencyGlobal WarmingPemanasan GlobalPerubahan IklimSave EarthTimur Tengah
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia Accelerates US$20 Billion Masela Gas Project to Reinforce Energy Security Amid Global Turmoil
  • Indonesia Challenges Singapore and Dubai as It Unveils Ambitious Global Financial Center Strategy
  • Indonesia’s $100 Billion Nickel Bet Faces a New Threat as Global EV Battery Technology Shifts
  • U.S. Pushes Indonesia’s Nuclear Ambitions
  • New War on Corruption: Philippines Overhauls Public Finance System
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.