• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Thursday, June 4, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home GREEN ENERGY

Transisi Energi Hijau, Dunia Bisa Hemat USD12 Triliun

by Redaksi Asiatoday
September 20, 2022
in GREEN ENERGY
Reading Time: 1 min read
A A
0
ADB Siapkan Dana USD80 Miliar untuk Aksi Iklim di Asia Pasifik

Pengembangan energi hijau di Asia Pasifik, salah satu program Aksi Iklim yang sedang didorong oleh ADB. Dok ADB

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Sebuah studi yang dilakukan oleh Universitas Oxford menyebutkan bahwa peralihan penggunaan bahan bakar fosil ke energi baru terbarukan (EBT) dapat menghemat sebanyak USD12 triliun di 2050.

Meskipun upaya peralihan tersebut juga membutuhkan biaya yang tak sedikit.

Harga gas dunia saat ini melonjak di tengah meningkatnya kekhawatiran atas pasokan energi. Tetapi para peneliti mengatakan transisi hijau sekarang masuk akal secara ekonomi karena turunnya biaya energi terbarukan.

RelatedPosts

Bpfilters Launches Innovative B50 Biodiesel Filter Product

Indonesia Launches Asia’s Largest Cooperative-Based Renewable Energy Initiative

ASEAN Power Grid Gets Real: ADB Unleashes New Fund to Fast-Track Regional Energy Integration

“Kesimpulan utama kami adalah harus ada peralihan yang cepat dalam transisi energi hijau karena itu akan menghemat uang kami,” kata Doyne Farmer dari Institut Pemikiran Ekonomi Baru di Oxford Martin School, Selasa (20/9/2022).

Temuan laporan ini didasarkan pada data harga historis untuk energi terbarukan dan bahan bakar fosil dan kemudian memodelkan kemungkinan perubahannya di masa depan.

Data bahan bakar fosil berasal pada 2020 menunjukkan, setelah memperhitungkan inflasi dan volatilitas pasar, harganya tidak banyak berubah. Sedangkan dengan adanya perbaikan terus-menerus dalam teknologi, biaya tenaga surya dan angin, tercatat telah turun dengan cepat yang mendekati 10 persen per tahun.

“Penelitian terbaru kami menunjukkan peningkatan teknologi hijau utama akan terus menurunkan biayanya, dan semakin cepat kita melakukannya, semakin banyak yang akan kita hemat,” kata Rupert Way, penulis utama laporan dari Smith School of Enterprise and the Environment.

Pembangkit listrik dari angin dan matahari sudah menjadi pilihan termurah untuk proyek pembangkit listrik baru, tetapi masih ada pertanyaan tentang cara terbaik untuk menyimpan daya dan menyeimbangkan jaringan listrik ketika perubahan cuaca menyebabkan penurunan output terbarukan.

Menteri Keuangan Inggris Philip Hammond pada 2019 menulis kepada Perdana Menteri Inggris untuk mencapai emisi gas rumah kaca nol bersih di 2050, membutuhkan biaya lebih dari satu triliun poundsterling.

Laporan ini menyebut dengan taksiran biaya itu akan memberatkan investasi di Inggris. (ATN)

Tags: Green EnergyTransisi Energi
No Result
View All Result

Terbaru

  • Corruption Scandal Hits Indonesia’s Free Meals Program as Former Nutrition Chiefs Are Jailed
  • Indonesian Nickel Downstreaming: IPIP Pomalaa Urged to Avoid IMIP and IWIP Pitfalls
  • Securing Carbon Credits for Smallholder Farmers
  • Indonesia Accelerates OECD Membership Bid and Ratification of I-EU CEPA
  • Indonesia Deepens Mineral Cooperation with China Amid Global Race for Critical Resources
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.