• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Friday, June 26, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

Usai Sri Lanka, Risiko dan Krisis Utang Kini Mengancam Negara Berkembang

by Redaksi Asiatoday
June 28, 2022
in News
Reading Time: 1 min read
A A
0
Varian Delta Merusak Stabilitas dan Pemulihan Ekonomi di Asia Pasifik

Markas World Bank. Dok

ASIATODAY.ID, JAKARTA — World Bank mengingatkan bahwa negara berkembang saat ini menghadapi tekanan utang yang terus menumpuk dengan cepat menyusul kenaikan suku bunga acuan berbagai bank sentral.

Menurut Kepala Ekonom World Bank Group Carmen Reinhart, dunia saat ini semakin dekat dengan risiko utang dan krisis utang.

“Krisis utang perlu dipecahkan melalui pengurangan utang yang signifikan. Jika tidak, layaknya plester, itu adalah plester yang cepat habis,” ungkapnya pada televisi Bloomberg, seperti pada Selasa (28/6/2022).

RelatedPosts

New War on Corruption: Philippines Overhauls Public Finance System

Indonesia Expands De-Dollarization Drive, Targets India and South Korea for Local Currency Trade Deals

Indonesia Deepens Legal Alliance With Russia, Approves Extradition of Russian Citizen

Hal senada diungkapkan oleh Goldman Sachs Group Inc.

Menurutnya, ekonomi negara berkembang sedang memasuki siklus baru gagal bayar, dimana Sri Lanka kemungkinan menjadi yang pertama.

Rusia juga telah mencapai default untuk pembayaran surat utang negara dalam mata uang asing pada Senin.

Di samping itu, Reinhart mengatakan bank-bank sentral lambat dalam upaya untuk mendinginkan inflasi yang sebagian besar didorong oleh kemacetan rantai pasok dan perang Rusia di Ukraina.

“Harapan besar adalah bank sentral dan ekonomi utama akan dapat merancangnya dengan mulus. Namun saya ragu,” kata Reinhart.

Sementara itu, bank sentral di Zimbabwe melakukan langkah paling agresif dengan mengkerek suku bunga lebih dari dua kali lipat menjadi 200 persen dari sebelumnya 80 persen.

“Komite kebijakan moneter sangat prihatin dengan kenaikan inflasi baru-baru ini. Komite mencatat bahwa peningkatan inflasi merusak permintaan dan kepercayaan konsumen dan bahwa, jika tidak dikendalikan, itu akan membalikkan keuntungan ekonomi yang signifikan yang dicapai selama dua tahun terakhir,” kata Gubernur John Mangudya, sebagaimana dilaporkan Bloomberg, Selasa (28/6/2022).

Sebagai catatan, tingkat inflasi tahunan Zimbabwe melonjak menjadi 192 persen pada Juni, level tertinggi dalam setahun terakhir. Hal ini disebabkan oleh kenaikan harga makanan lebih dari tiga kali lipat.

Kenaikan harga telah didorong oleh depresiasi tajam dalam dolar Zimbabwe, yang telah kehilangan lebih dari dua pertiga nilainya terhadap dolar AS tahun ini.

Kondisi ini menempatkan mata uang Zimbabwe dengan kinerja terburuk di Afrika. (ATN)

Tags: UtangWorld Bank
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia’s $100 Billion Nickel Bet Faces a New Threat as Global EV Battery Technology Shifts
  • U.S. Pushes Indonesia’s Nuclear Ambitions
  • New War on Corruption: Philippines Overhauls Public Finance System
  • Now for Climate: Young Indonesians Take Action for the Planet
  • Australia Triples LPG Exports to Indonesia as Hormuz Disruption Reshapes Energy Flows
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.