• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Friday, June 26, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

Varian Delta Merusak Stabilitas dan Pemulihan Ekonomi di Asia Pasifik

by Redaksi Asiatoday
September 28, 2021
in News
Reading Time: 1 min read
A A
0
Varian Delta Merusak Stabilitas dan Pemulihan Ekonomi di Asia Pasifik

Markas World Bank. Dok

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Varian delta telah merusak stabilitas ekonomi global termasuk di kawasan Asia Pasifik.

Menurut World Bank, kondisi ini bisa mengakibatkan terjadinya ketimpangan di kawasan itu.

Kegiatan ekonomi mulai melambat pada kuartal kedua tahun 2021 dan perkiraan pertumbuhan turun pada sebagian besar negara di kawasan ini, menurut laporan terbaru Ekonomi Musim Gugur 2021 Asia Timur dan Pasifik World Bank

RelatedPosts

Indonesia Challenges Singapore and Dubai as It Unveils Ambitious Global Financial Center Strategy

New War on Corruption: Philippines Overhauls Public Finance System

Indonesia Expands De-Dollarization Drive, Targets India and South Korea for Local Currency Trade Deals

Sementara, ekonomi China diproyeksikan tumbuh sebesar 8,5 persen, wilayah lainnya diperkirakan tumbuh hanya 2,5 persen atau hampir 2 poin persen lebih rendah dari perkiraan pada April 2021, menrut World Bank.

“Pemulihan ekonomi negara berkembang Asia Timur dan Pasifik menghadapi pembalikan nasib,” kata Manuela Ferro, Wakil Presiden World Bank untuk Asia Timur dan Pasifik dikutip dari CNA, Selasa (29/9/2021).

Laporan tersebut memperkirakan sebagian besar negara di kawasan itu, termasuk Indonesia dan Filipina, dapat memvaksinasi lebih dari 60 persen populasi mereka pada paruh pertama tahun 2022.

Langkah itu tidak akan menghilangkan infeksi Virus Corona, namun secara signifikan mengurangi kematian sehingga memungkinkan dimulainya kembali kegiatan ekonomi.

Kerusakan yang diakibatkan oleh gelombang Covid-19 kemungkinan akan mengganggu pertumbuhan dan meningkatkan ketidaksetaraan dalam jangka panjang, menurut Bank Dunia.

“Vaksinasi dan pemeriksaan yang dipercepat untuk mengendalikan infeksi Covid-19 dapat menghidupkan kembali kegiatan ekonomi di negara-negara yang sedang berjuang pada paruh pertama tahun 2022, dan menggandakan tingkat pertumbuhan mereka tahun depan,” kata Kepala Ekonom World Bank Asia Timur dan Pasifik, Aaditya Mattoo.

Tetapi dalam jangka panjang, hanya reformasi yang lebih dalam yang dapat mencegah pertumbuhan yang lebih lambat dan meningkatnya ketidaksetaraan. Hal itu merupakan kombinasi pemiskinan yang belum pernah terjadi di kawasan itu pada abad ini, katanya.

World Bank mengatakan kawasan itu perlu melakukan upaya serius di empat bidang untuk menghadapi peningkatan Virus Corona termasuk mengatasi keraguan atas vaksin dan keterbatasan kapasitas distribusi. (ATN)

Tags: Pertumbuhan AsiaPertumbuhan EkonomiVarian DeltaWorld Bank
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia Challenges Singapore and Dubai as It Unveils Ambitious Global Financial Center Strategy
  • Indonesia’s $100 Billion Nickel Bet Faces a New Threat as Global EV Battery Technology Shifts
  • U.S. Pushes Indonesia’s Nuclear Ambitions
  • New War on Corruption: Philippines Overhauls Public Finance System
  • Now for Climate: Young Indonesians Take Action for the Planet
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.