• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Friday, June 5, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home Business

Moody’s : Prospek Kelayakan Kredit di Asia Pasifik Negatif

by Redaksi Asiatoday
January 10, 2020
in Business
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Moody’s : Ekonomi Indonesia Tidak Capai 5 Persen Hingga 2021

Kantor pusat Moody's di Amerika Serikat. ist

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Moody’s Investor Service menyatakan bahwa prospek untuk kelayakan kredit negara-negara Asia Pasifik (APAC) pada tahun ini adalah negatif.

Hal ini disebabkan oleh laju pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat, lingkungan eksternal yang bergejolak, serta kapasitas beberapa pemerintah untuk menanggapi guncangan terpantau berkurang.

Dalam keterangan resmi Moody’s, Kamis (9/1/2020) dijelaskan bahwa perlambatan pertumbuhan global secara bertahap, diperburuk oleh ketegangan perdagangan AS-China, akan membatasi kualitas kredit dari negara-negara APAC yang termasuk dalam daftar peringkat.

RelatedPosts

Indonesia Centralizes Strategic Commodity Exports Under Single-State Gateway

Indonesia’s Nickel Crisis Deepens: Weda Bay Mine Shutdown Puts 11,700 Jobs at Risk

China’s Nickel Giants Look to Africa as Policy Uncertainty Puts Indonesia’s Dominance at Risk

Wakil Presiden dan Senior Credit Officer Moody’s Martin Petch memandang, terlepas dari kesepakatan dagang fase satu, prospek AS dan China untuk sepakat pada masalah jangka panjang seperti kebijakan industri, kekayaan intelektual, dan pasar akses tetap sangat tidak pasti.

Akibatnya, hubungan perdagangan AS-China tetap akan menjadi sumber ketidakpastian dan volatilitas pada 2020.

Laporan tersebut juga menggarisbawahi melemahnya perdagangan turut menghambat investasi, yang jika terus berlanjut akan mengurangi potensi pertumbuhan dan memperkuat tantangan struktural yang sudah lama ada, termasuk kerentanan fiskal dan perubahan demografis.

Di Asia Pasifik, ketegangan perdagangan tidak lagi hanya memperburuk pelambatan global volume perdagangan.

Dampaknya sekarang juga meluas ke investasi, di mana pelaku bisnis menunda rencana ekspansi di tengah ketidakpastian ekonomi, politik dan kebijakan, yang akan merusak pertumbuhan pendapatan, daya saing dan produktivitas dalam jangka panjang.

Secara rata-rata di seluruh kawasan APAC, Moody’s memperkirakan pertumbuhan PDB sebesar 4 persen pada 2019-2021. Meski lambat dari 4,4 persen selama 2014-2018, tetapi masih kuat dengan standar global.

“Terbatasnya ruang kebijakan fiskal di tengah upaya pemerintah untuk menahan guncangan pertumbuhan eksternal dan domestik akan menjadi risiko bagi beberapa negara,” paparnya.

Bagi pemerintah di India, China, Pakistan, dan Srilanka, prospek pertumbuhan yang melambat akan meningkatkan kapasitas otoritas untuk mendukung ekonomi mereka. Sebaliknya, beberapa wilayah lainnya, termasuk Hong Kong, Korea Selatan, dan Singapura memiliki fleksibilitas fiskal yang jauh lebih besar.

Selain itu, pertumbuhan yang lebih lemah akan menambah tantangan struktural di kawasan ini, seperti laju penuaan populasi yang cepat hingga tantangan pengadaan lapangan kerja untuk memenuhi permintaan dari angka populasi muda yang besar dan sedang tumbuh di negara-negara seperti Filipina, Indonesia, serta Malaysia.

Di tengah meningkatnya ketidakpastian, pasar perbatasan APAC rentan terhadap perubahan selera investor yang dapat berubah secara tiba-tiba.

Sebanyak 19 dari 25 negara APAC yang masuk dalam peringkat Moody’s memiliki prospek yang stabil, sedangkan 4 negara lain memiliki prospek negatif dan 2 dengan prospek positif. (ATN)

,’;\;\’\’
Tags: Asia PasifikEkonomi Asia PasifikMoodyPertumbuhan AsiaPertumbuhan Ekonomi
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia Centralizes Strategic Commodity Exports Under Single-State Gateway
  • Indonesia-Based International Love Scam Ring Busted After Stealing $2.5 Million From Victims
  • No Escape: Singapore Court Rejects Paulus Tannos’ Challenge, Extradition Looms
  • Indonesia’s Nickel Crisis Deepens: Weda Bay Mine Shutdown Puts 11,700 Jobs at Risk
  • China’s Nickel Giants Look to Africa as Policy Uncertainty Puts Indonesia’s Dominance at Risk
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.