• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Friday, June 5, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home Business

Tak Ingin Digilas Fintech, Pegadaian harus Berinovasi

by Redaksi Asiatoday
July 27, 2019
in Business
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Tak Ingin Digilas Fintech, Pegadaian harus Berinovasi

ASIATODAY.ID, YOGYAKARTA – Era digital telah menciptakan kemunculan Finansial Technology dimana-dimana, bahkan telah menyasar Industri Pegadaian.

Menghadapi kompetisi itu, PT Pegadaian (Persero) harus bertransformasi jika tidak ingin tergilas. Sejumlah strategi pun disiapkan oleh perseroan agar bisa bertahan di era digitalisasi.

Menurut Direktur Pemasaran dan Pengembangan Produk Pegadaian Harianto Widodo, pola bisnis pegadaian yang tradisional harus berubah. Pasar milenial yang kini bertumbuh pesat harus mampu diikuti perusahaan.

RelatedPosts

Indonesia Centralizes Strategic Commodity Exports Under Single-State Gateway

Indonesia’s Nickel Crisis Deepens: Weda Bay Mine Shutdown Puts 11,700 Jobs at Risk

China’s Nickel Giants Look to Africa as Policy Uncertainty Puts Indonesia’s Dominance at Risk

“Model gadai tradisional itu sudah turun pertumbuhannya, karena ada perilaku milenial. Di samping juga semakin banyaknya pemain di industri gadai,” terangnya dalam media gathering & workshop di Pesonna Hotel, Yogyakarta, Jumat (26/7/2019).

Dikatakan, persaingan industri gadai semakin ketat karena berkembangnya teknologi finansial atau fintech, di mana adanya layanan fintech peer to peer (P2P) lending. Terlebih adanya perubahan regulasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang kini lembaga pembiayaan (multifinance) bisa memberikan layanan refinancing, jika sebelumnya hanya pembiayaan kendaraan saja.

“Jadi regulasi di industri perbankan, multifinance, gadai, semakin lama overlap-nya semakin tinggi. Artinya ujung-ujungnya siapa yang mempunyai layanan terbaik, dan yang harganya kompetitif maka akan eksis di industri itu,” jelasnya.

Untuk bisa bertahan, Pegadaian pun memiliki strategi lewat transformasi perusahaan di lima hal atau yang disebut G-Star. Pertama grow core yaitu fokus di bisnis utama sebagai pemain industri gadai, lalu grab new yaitu mengembangkan bisnis-bisnis baru.

“Termasuk pengembangan di Syariah yang terima agunan tanah. Secara ketentuan ini dibolehkan,” katanya.

Ketiga groom talent yaitu meningkatkan kualitas pekerja di perseroan. Lalu Gen Z Technology yaitu mengembangkan bisnis pegadaian dengan digitalisasi, sehingga bisa mengimbangi perkembangan teknologi.

Terakhir, great culture ini fundamental mendasari semuanya. Tanpa kultur yang baik dan dipahami semua elemen maka hasil (transformasi) akan kurang optimal. (Lis)

,’;\;\’\’
Tags: FintechIndustri GadaiPegadaian
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia’s $9 Million Immigration Scandal Tarnishes the Nation’s Global Reputation
  • Indonesia Centralizes Strategic Commodity Exports Under Single-State Gateway
  • Indonesia-Based International Love Scam Ring Busted After Stealing $2.5 Million From Victims
  • No Escape: Singapore Court Rejects Paulus Tannos’ Challenge, Extradition Looms
  • Indonesia’s Nickel Crisis Deepens: Weda Bay Mine Shutdown Puts 11,700 Jobs at Risk
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.