ASIATODAY.ID, JAKARTA – Lembaga pemeringkat Moody’s Investment Service mengungkapkan, tingkat risiko gagal bayar (default risk) perusahaan-perusahaan nonfinansial di Asia Pasifik akan meningkat pada 2020.
Pasalnya, pandemi coronavirus (Covid-19) kian membebani kualitas kredit perusahaan.
Berdasarkan Moody’s Credit Transition Model, tingkat gagal bayar perusahaan nonfinansial dengan yang memberikan imbal hasil tinggi (high yield) 12 bulan di Asia Pasifik berpotensi naik menjadi 6,4 persen per akhir 2020.
Angka berdasarkan skenario baseline tersebut meningkat dari estimasi sebelumnya yakni 2,4 persen, begitu pula jika dibandingkan dengan tingkat default pada tahun sebelumnya yakni 1,1 persen.
Menurut Moody’s Group Credit Officer and Senior Vice President Clara Lau, pandemi virus corona (Covid-19) telah memicu kontraksi pada supply and demand secara simultan, yang akan kemudian menekan pendapatan perusahaan.
Meskipun kegiatan ekonomi mulai kembali berjalan pada kuartal kedua nanti, proses pemulihan tetap tidak akan mudah dan kondisi ekonomi masih akan sangat menantang.
“Karena itu kami khawatir masih tetap meningkatkan risiko gagal bayar,” ujar Lau dikutip dari laporan Moody’s.
Moody’s menyebutkan bank sentral di negara-negara besar akan melanjutkan langkah-langkah kebijakan fiskal dan moneter terkoordinasi mereka sampai tahun 2020.
Namun, langkah-langkah tersebut hanya akan mengurangi tekanan pembiayaan kembali diantara perusahaan untuk sementara dan tidak mencegah penurunan kualitas kredit.
Di antara negara Asia Pasifik, perusahaan-perusahaan di China, India dan Indonesia dengan tingkat utang tinggi atau akses likuiditas yang lemah disebut lebih rentan terhadap risiko gagal bayar di tengah lingkungan ekonomi yang menantang seperti saat ini.
Moody’s memperkirakan distressed exchanges atau kondisi dimana penerbit surat utang menawarkan paket sekuritisasi baru pada pembeli obligasi akan meningkat seiring dengan melambungnya risiko gagal bayar perusahaan.
Perusahaan yang likuiditasnya rendah atau tengah di bawah tekanan finansial akan berusaha melakukan restrukturisasi kewajiban mereka untuk mengurangi tekanan dan menghindari gagal bayar.
Sepanjang Q1/2020, Moody’s telah mencatat tiga kejadian gagal bayar dan ketiganya menawarkan distress exchanges. Sebagai hasilnya, tingkat risiko gagal bayar untuk perusahaan nonfinansial dengan yield tinggi 12 bulan naik ke level 2,3 persen di akhir Maret 2020. (ATN)
