• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Saturday, June 13, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home Business

OECD: Ekonomi Global Bisa Terkontraksi Hingga 7,6 Persen

by Redaksi Asiatoday
June 11, 2020
in Business
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Genjot Investasi Asing, Indonesia Berjuang Jadi Anggota OECD

Negara-negara anggota OECD. Foto : dok OECD

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi atau Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) memproyeksikan, dalam skenario terburuk kinerja ekonomi global bisa terkontraksi hingga 7,6 persen dengan catatan gelombang kedua Covid-19 kembali muncul.

Sebaliknya, bila gelombang kedua bisa dihindari, kontraksi ekonomi global hanya akan terjadi di level 6 persen.

Dalam laporan Economic Outlook terbarunya, OECD menyebutkan bahwa pandemi Covid-19 telah memicu resesi paling parah dalam hampir seabad dan menyebabkan kerusakan besar pada kesehatan, pekerjaan dan kesejahteraan manusia.

RelatedPosts

Bank Jakarta and Blibli Launch Engagement Store at Jakarta Fair 2026

Indonesian Cooperatives Minister Backs Cooperative-Led Sugarcane Downstreaming

Indonesia Moves to Control Global Nickel Pricing With New National Minerals Exchange

OECD mencatat dampak ekonomi dari lockdown yang sangat ketat di Eropa akan sangat keras. PDB kawasan Euro diperkirakan akan turun 11,5 persen tahun ini jika gelombang kedua pecah dan lebih dari 9 persen bahkan jika gelombang kedua dihindari.

Sementara PDB di Amerika Serikat akan menerima pukulan masing-masing sebesar 8,5 persen dan 7,3 persen, dan Jepang 7,3 persen dan 6 persen.

“Ketidakpastian jelas ekstrem. Dalam konteks saat ini, implikasinya terhadap kebijakan ekonomi makro tidak simetris. Para pembuat memang tidak terlalu lambat dalam memperkenalkan tindakan darurat, dan mereka harus berjaga-jaga agar tidak terlalu cepat untuk menariknya,” papar Sekjen OECD Angel Gurria dalam keterangan resmi, Kamis (11/6/2020).

Menurut Gurria, negara-negara berkembang seperti Brasil, Rusia dan Afrika Selatan, menghadapi tantangan khusus. Sistem kesehatan ditambah jatuhnya harga komoditas, dan ekonomi telah menjadi pukulan telak.

OECD memperkirakan tahun 2020 perekonomian negara-negara tersebut akan anjlok masing-masing sebesar 9,1 persen, 10 persen, dan 8,2 persen dalam kasus skenario gelombang kedua dan 7,4 persen, 8 persen dan 7,5 persen jika gelombang kedua bisa dihindari.

“PDB China dan India akan relatif lebih sedikit terpengaruh, dengan penurunan masing-masing 3,7 persen dan 7,3 persen untuk gelombang kedua dan 2,6 persen dan 3,7 persen;” tulis laporan itu.

Sementara itu, Kepala Ekonom OECD Laurence Boone mengatakan kebijakan luar biasa diperlukan untuk menghadapi tantangan menuju pemulihan. Namun menurutnya memulai kembali kegiatan ekonomi sambil menghindari wabah kedua membutuhkan pembuatan kebijakan yang fleksibel dan gesit.

Menurutnya, jaring pengaman dan dukungan yang saat ini disediakan untuk sektor-sektor yang paling parah perlu diadaptasi untuk membantu bisnis dan pekerja pindah ke kegiatan baru.

Selain itu utang publik yang lebih tinggi tidak dapat dihindari, tetapi pengeluaran yang dibiayai utang harus tepat sasaran untuk mendukung masyarakat yang paling rentan dan menyediakan investasi yang dibutuhkan untuk transisi ke ekonomi yang lebih tangguh.

“Pemerintah harus memanfaatkan kesempatan ini untuk membangun ekonomi yang lebih adil, menjadikan kompetisi dan regulasi lebih cerdas, memodernisasi pajak, pengeluaran pemerintah, dan perlindungan sosial,” tandasnya. (ATN)

Tags: Ekonomi DuniaOECDOrganisation for Economic Co-operation and DevelopmentPertumbuhan EkonomiResesi EkonomiResesi Global
No Result
View All Result

Terbaru

  • Bank Jakarta and Blibli Launch Engagement Store at Jakarta Fair 2026
  • Mass Student Protest Erupts in Indonesia Over Cost-of-Living Crisis
  • Indonesian Navy Intercepts Billion-Dollar Rare Earth Shipment With Radioactive Content
  • Indonesian Students Revive Reform-Era Protests, Mounting Pressure on Prabowo Government
  • Ceria Corp, Indonesia’s Green Nickel Pioneer, Restores 200 Hectares of Former Mine Land Through ESG Initiatives
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.