ASIATODAY.ID, JAKARTA – Hasil riset
Asian Development Bank (ADB) pada tahun 2020 menunjukkan bahwa, inovasi dan digitalisasi di Indonesia masih jauh tertinggal dibandingkan dengan negara-negara lain di ASEAN.
ADB mencatat tingkat inovasi dan digitalisasi Indonesia hanya 0,08 jauh di bawah Thailand dan Vietman yang masing-masing diangka 0,62 dan 0,44.
Indonesia juga berada dibawah Filipina dan Kamboja yang masng-masing berada diangka 0,14 dan 0,12. Sementara secara rata-rata inovasi dan digitalisasi negara-negara ASEAN berada pada level 0,70.
Staf Khusus Bidang Perumusan Kebijakan Fiskal Regional Titik Anas mengungkapkan hal itu dalam forum Webinar Strategi Pemulihan Ekonomi Pasca Covid-19 dan Peningkatan Kemudahan Berusaha Indonesia, Selasa (20/10/2020).
“Inovasi dan digitalisasi Indonesia masih jauh tertinggal di ASEAN,” ujarnya.
Selain itu, Indonesia juga dihadapkan pada masalah produktivitas yang rendah.
Berdasarkan data Productivity Database 2019 Asian Productivity Organization (APO), total factor productivity terus mengalami penurunan sejak 2012. APO juga mencatat capital productivity Indonesia menurun.
Menurut Titik, data-data tersebut menunjukkan ekonomi Indonesia tidak efisien. Bahkan, ekonomi Indonesia tidak bergerak sejak 25 tahun terakhir.
“25 tahun terakhir Indonesia konstan di dunia. Indonesia adalah eskportir kecil, di tahun 1994 juga eksportir kecil, sekarang juga eksportir kecil. Beda misalnya China dari kecil jadi besar. Beberapa negara lain juga ada yang bertransformasi,” jelasnya.
Titik memandang, Indonesia perlu menciptakan faktor-faktor yang bisa lebih mendukung transformasi ekonomi, misalnya efisiensi pasar tenaga kerja, peningkatan infrastruktur, perbaikan institusi, diversifikasi produk, hingga peningkatan inovasi.
Ini penting agar Indonesia bisa keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap), menjadi negara maju sehingga terwujud masyarakat yang sejahtera.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Ekonom Center for Strategic and International Studies (CSIS) Yose Rizal Damuri mengatakan saat ini Indonesia sedang menjalani transformasi teknologi dan digital.
Di masa pandemi Covid-19, transformasi digital semakin dibutuhkan dan akan berjalan dengan sangat cepat. Penggunaan teknologi akan bisa mendorong peningkatan produktifitas.
“Pemerintah Indonesia perlu mendorong ini,” imbuhnya.
Menurut Yose, dari sisi pendidikan, sebagian besar tenaga kerja di Indonesia masih belum siap dalam penggunaan teknologi meski akan sangat berdampak pada produktivitas.
“Masih banyak hal yang harus diperbaiki terkait dengan ketenagakerjaan di Indonesia, yang harus diterjemahkan dalam bentuk kebijakan yang dapat meningkatkan keahlian dan kompetensi tenaga kerja,” imbuhnya. (ATN)
