• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Saturday, June 6, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

Kekuasaan Monarki di Ujung Tanduk, Oposisi di Parlemen Desak PM Thailand Mundur

by Redaksi Asiatoday
October 26, 2020
in News
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Ditekan Gelombang Demonstrasi, PM Thailand Tolak Mundur

Gelombang Demonstrasi massa pro demokrasi di Kota Bangkok, Thailand. Ist

ASIATODAY.ID, BANGKOK – Kekuasaan monarki di Thailand kini di ujung tanduk.

Partai oposisi terbesar di Thailand mendesak Perdana Menteri Prayuth Chan-o-cha untuk mengundurkan diri. Seruan disampaikan ketika parlemen membuka sesi khusus yang digelar perdana menteri untuk membahas protes.

“Perdana menteri adalah penghalang dan beban utama bagi negara. Mohon mundur dan semuanya akan berakhir dengan baik,” kata pemimpin partai oposisi Pheu Thai, Simping Amornvivat, dilansir dari CNA, Senin (26/10/2020).

RelatedPosts

Indonesia’s $9 Million Immigration Scandal Tarnishes the Nation’s Global Reputation

Indonesia-Based International Love Scam Ring Busted After Stealing $2.5 Million From Victims

No Escape: Singapore Court Rejects Paulus Tannos’ Challenge, Extradition Looms

Demonstrasi yang dipimpin mahasiswa yang awalnya menuntut pengunduran diri Prayuth dan konstitusi baru semakin mengalihkan perhatian mereka ke monarki. Mereka menyerukan reformasi untuk mengekang kekuasaan Raja Maha Vajiralongkorn.

Prayuth mengadakan sesi sidang parlemen pekan ini setelah memberlakukan tindakan darurat 15 Oktober lalu untuk mengakhiri demonstrasi. Tindakannya hanya mengobarkan kemarahan dan membawa puluhan ribu orang ke jalan-jalan Bangkok.

“Saya yakin hari ini, terlepas dari perbedaan pandangan politik kita, semua orang masih mencintai negara ini,” kata Prayuth dalam pidatonya.

Namun, lawan dan pemimpin protes skeptis sesi parlemen akan menyelesaikan krisis. Para pendukungnya memiliki mayoritas di parlemen yang seluruh majelis tinggi dipilih oleh bekas pemerintahan militernya.

Prayuth menjadi perdana menteri sejak menggulingkan pemimpin sebelumnya, Yingluck Shinawatra, saudara perempuan dari Thaksin Shinawatra, pada 2014 silam.

Para pengunjuk rasa menuduh Prayuth merekayasa pemilu tahun lalu untuk menjaga cengkraman militer pada kekuasaannya. Namun, menurut Prayuth, pemilu tahun lalu sangat adil. (ATN)

Tags: Reformasi ThailandThailand
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia’s $9 Million Immigration Scandal Tarnishes the Nation’s Global Reputation
  • Indonesia Centralizes Strategic Commodity Exports Under Single-State Gateway
  • Indonesia-Based International Love Scam Ring Busted After Stealing $2.5 Million From Victims
  • No Escape: Singapore Court Rejects Paulus Tannos’ Challenge, Extradition Looms
  • Indonesia’s Nickel Crisis Deepens: Weda Bay Mine Shutdown Puts 11,700 Jobs at Risk
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.