ASIATODAY.ID, JAKARTA – Pemerintah Indonesia siap melakukan dialog dengan seluruh mitra, baik di tingkat regional maupun global, untuk menolak perlakuan diskriminatif yang dikaitkan dengan isu keberkelanjutan terhadap produk kelapa sawit Indonesia.
“Indonesia berberkomitmen untuk memenuhi ke-17 target Sustainable Development Goals (SDGs) 2030 dan telah berhasil mencapai perkembangan yang signifikan. Dalam hal ini, Indonesia menolak perlakuan diskriminatif yang dikaitkan dengan isu keberkelanjutan terhadap produk kelapa sawit Indonesia, di tengah upaya kita untuk meningkatkan standar yang lebih ketat,” kata Wakil Menteri Luar Negeri Mahendra Siregar, dikutip dari keterangan resminya, Jumat (15/1/2021).
Komitmen tersebut dikatakan Mahendar dalam webinar “Keberkelanjutan Minyak Nabati: Peluang untuk Peningkatan Perdagangan Dua Arah” yang diselenggarakan Perwakilan RI di Stockholm.
Kegiatan webinar ini diselenggarakan oleh KBRI Stockholm dalam rangka mendorong diskusi seputar topik keberkelanjutan minyak nabati, serta dilatarbelakangi kesepakatan antara negara-negara anggota Uni Eropa (UE) dan ASEAN dalam meningkatkan hubungan dari Kemitraan Dialog menjadi Kemitraan Strategis.
Diskusi ini juga diselenggarakan setelah pembentukan Joint Working Group on Vegetable Oil pada Pertemuan Tingkat Menteri UE-ASEAN ke-23 yang diadakan pada tanggal 1 Desember 2020.
Dubes RI Stockholm Kamapradipta Isnomo mengajak seluruh pemangku kepentingan di Indonesia serta masyarakat Uni Eropa dan ASEAN untuk memanfaatkan momentum pada awal tahun ini menyambut diluncurkannya Joint Working Group menuju peningkatan perdagangan minyak nabati dua-arah.
“Komitmen dari kedua belah pihak untuk bentuk sebuah Joint Working Group mengindikasikan adanya kesamaan visi untuk menyelesaikan tantangan dan isu-isu lingkungan hidup di sektor minyak nabati dalam perspektif yang lebih obyektif dan non-diskriminatif,” ujar Dubes Kamapradipta.
Kelapa sawit dan produk turunannya merupakan salah satu komoditas unggulan Indonesia yang diekspor ke Swedia. Dalam 3 tahun terakhir, nilai impor kelapa sawit Swedia dari Indonesia terus meningkat dari USD14,5 juta pada 2017 menjadi USD32,3 juta pada 2019.
Upaya percepatan pemulihan ekonomi nasional, perdagangan minyak nabati, terutama ekspor kelapa sawit ke luar negeri, menjadi semakin penting bagi pemerintah di tengah pandemi Covid-19. (ATN)
