• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Friday, June 5, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

Jakarta Keluar dari Daftar 10 Besar Kota Termacet Dunia

by Redaksi Asiatoday
January 17, 2021
in News
Reading Time: 1 min read
A A
0
Imbas Covid-19, Ekonomi Jakarta Rontok 40 Persen

Pusat Ekonomi Indonesia, DKI Jakarta. Foto : rivaldi_penzol

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengumumkan bahwa tingkat kemacetan di wilayah Ibu Kota menurun drastis di tahun 2020.

Pasalnya, perusahaan teknologi navigasi yang berbasis di Belanda TomTom Traffic Index menempatkan DKI Jakarta di urutan ke-31 sebagai kota termacet di dunia beberapa waktu lalu.

“Menurut TomTom Traffic Index terbaru, Jakarta keluar dari 10 besar kota termacet di dunia. Kini, Jakarta berada di posisi ke 31 dari total 416 kota lain, yang berarti kemacetan semakin berkurang,” tulis Pemprov DKI Jakarta melalui akun Instagram resminya pada Minggu (17/1/2021).

RelatedPosts

Indonesia-Based International Love Scam Ring Busted After Stealing $2.5 Million From Victims

No Escape: Singapore Court Rejects Paulus Tannos’ Challenge, Extradition Looms

Indonesia’s Immigration Corruption Scandal: Deputy Minister Suspended as KPK Uncovers $9 Million Extortion Scheme

Berdasarkan, pencatatan TomTom Traffic Index, tingkat kemacetan di DKI Jakarta sebesar 36 persen pada tahun lalu. Angka itu cenderung menurun drastis jika dibandingkan dengan tiga tahun sebelumnya.

Pada tahun 2019, DKI Jakarta masuk ke dalam 10 besar kota termacet di dunia dengan tingkat kemacetan mencapai 53 persen.

Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi sebelumnya menuturkan kemacetan lalu lintas di perkotaan diidentifikasi sebagai salah satu penghambat pertubumbuhan ekonomi.

Akibat kemacetam, peningkatan satu persen urbanisasi di Indonesia hanya bisa meningkatkan 1,4 persen PDB per kapita. Angka itu terbilang rendah jika dibandingkan degnan peningkatan PDB per kapita di China sebesar tiga persen dan negara-negara di kawasan Asia Timur sebesar 2,7 persen.

“Selain itu, kerugian ekonomi akibat kemacetan lalu lintas adalah 65 triliun per tahun menurut World Bank di tahun 2019,” jelas Budi saat memberi keterangan dalam webinar SBM ITB, bulan Agustus lalu.

Berdasarkan data Bappenas tahun 2019, Pangsa angkutan umum di wilayah DKI Jakarta, Bandung dan Surabaya saat ini masih di sekitar 20 persen atau tertinggal dari Kuala lumpur dan Singapura yang sudah melebihi 20 persen.

“Angkutan umum adalah suatu keniscayaan. Oleh karena itu, pemerintah terus berkomitmen membangun angkutan umum masal yang terintegrasi karena dapat memengaruhi preferensi masyarakat untuk memilih angkutan umum,” imbuhnya. (ATN)

Tags: DKI JakartaJakartaKota Macet Dunia
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia Centralizes Strategic Commodity Exports Under Single-State Gateway
  • Indonesia-Based International Love Scam Ring Busted After Stealing $2.5 Million From Victims
  • No Escape: Singapore Court Rejects Paulus Tannos’ Challenge, Extradition Looms
  • Indonesia’s Nickel Crisis Deepens: Weda Bay Mine Shutdown Puts 11,700 Jobs at Risk
  • China’s Nickel Giants Look to Africa as Policy Uncertainty Puts Indonesia’s Dominance at Risk
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.