• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Saturday, June 6, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

Rezim Hasil Kudeta di Myanmar Mulai Represif, Warga Sipil Ditangkap

by Redaksi Asiatoday
February 9, 2021
in News
Reading Time: 1 min read
A A
0
Rezim Hasil Kudeta di Myanmar Mulai Represif, Warga Sipil Ditangkap

Gelombang aksi rakyat sipil memprotes kudeta militer di Myanmar. Ist

ASITODAY.ID, YANGON – Rezim hasil kudeta militer di Myanmar mulai bertindak represif.

Dikutip dari Malay Mail, Selasa (9/2/2021), warga sipil yang berunjukrasa menyuarakan protes terhadap rezim saat ini harus menghadapi polisi yang menembakkan meriam air dan menangkap lebih dari dua lusin orang.

Kudeta yang dilakukan pada 1 Februari dan penahanan pemimpin sipil terpilih Aung San Suu Kyi telah menimbulkan aksi protes selama empat hari berturut-turut di negara Asia Tenggara yang berpenduduk 53 juta jiwa itu.

RelatedPosts

Indonesia’s $9 Million Immigration Scandal Tarnishes the Nation’s Global Reputation

Indonesia-Based International Love Scam Ring Busted After Stealing $2.5 Million From Victims

No Escape: Singapore Court Rejects Paulus Tannos’ Challenge, Extradition Looms

Polisi Myanmar menembakkan meriam air ke arah pengunjuk rasa damai di ibu kota negara Naypyitaw untuk hari kedua, ketika kerumunan menolak untuk bubar, menurut video yang diunggah di Facebook.

Video di Bago, di timur laut pusat komersial Yangon, juga menunjukkan polisi menembakkan meriam air dan menghadapi kerumunan besar.

Polisi menangkap sedikitnya 27 demonstran di kota terbesar kedua Mandalay, termasuk seorang jurnalis, kata organisasi media setempat.

Kerusuhan tersebut telah menghidupkan kembali ingatan hampir setengah abad pemerintahan militer yang berlangsung hingga 2015.

“Kudeta selalu muncul di pikiran kami, setiap kali kami makan, bekerja, bahkan saat istirahat,” kata penduduk Yangon, Khin Min Soe.

“Kami sangat kecewa dan sedih setiap kali kami memikirkan mengapa hal ini menimpa kami lagi,” tambahnya.

“Kami akan terus berjuang,” kata sebuah pernyataan dari aktivis pemuda Maung Saungkha, yang menyerukan pembebasan tahanan politik dan runtuhnya kediktatoran. (ATN)

Tags: Krisis Myanmar
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia’s $9 Million Immigration Scandal Tarnishes the Nation’s Global Reputation
  • Indonesia Centralizes Strategic Commodity Exports Under Single-State Gateway
  • Indonesia-Based International Love Scam Ring Busted After Stealing $2.5 Million From Victims
  • No Escape: Singapore Court Rejects Paulus Tannos’ Challenge, Extradition Looms
  • Indonesia’s Nickel Crisis Deepens: Weda Bay Mine Shutdown Puts 11,700 Jobs at Risk
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.