• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Saturday, June 6, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home Business

China Gusur AS Sebagai Mitra Dagang Utama Eropa

by Redaksi Asiatoday
February 17, 2021
in Business
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Uni Eropa Desak China Buka Akses Pasar dan Investasi Asing

Konferensi video yang mempertemukan Kanselir Jerman Angela Merkel, Ketua KTT Uni Eropa Charles Michel, Ketua Komisi Eropa Ursula von der Leyen dan Presiden China Xi Jinping. Foto: Xinhua

ASIATODAY.ID, JAKARTA – China sukses menggusur Amerika Serikat (AS) sebagai mitra dagang utama Eropa pada tahun lalu. Hal ini terkuak dari data Kantor Statistik Eropa.

Tercatat, ekspor Uni Eropa ke China  tumbuh 2,2 persen pada tahun lalu dan impor naik 5,6 persen. Sebagai perbandingan, ekspor ke AS turun 8,2 persen dan impor turun 13,2 persen.

Angka terbaru yang dirilis Eurostat, Selasa (16/2/2021) menunjukkan bahwa China sekarang memiliki peran yang lebih besar dalam kinerja ekonomi Eropa.

RelatedPosts

Indonesia Centralizes Strategic Commodity Exports Under Single-State Gateway

Indonesia’s Nickel Crisis Deepens: Weda Bay Mine Shutdown Puts 11,700 Jobs at Risk

China’s Nickel Giants Look to Africa as Policy Uncertainty Puts Indonesia’s Dominance at Risk

“Alasan di baliknya jelas jika fakta bahwa China/Asia adalah satu-satunya wilayah yang mengalami pemulihan yang bagus,” kata Ekonom di ING Jerman Carsten Brzeski dikutip dari CNBC.

Pandemi global Covid-19 memang berdampak ke ekonomi global. Namun dampak yang diberikan tidak proporsional di negara-negara di dunia.

Faktanya, China yang menjadi tempat kasus Covid-19 pertama kali dilaporkan, justru belum kembali melakukan pembatasan sosial untuk kedua kalinya seperti yang terjadi di banyak negara Eropa.

Akibatnya, perekonomian China berkinerja sedikit mendekati level sebelum Covid-19 dibandingkan dengan bagian dunia lain, di mana pembatasan masih berdampak pada aktivitas masyarakat.

Bahkan, China diperkirakan akan mencatatkan tingkat pertumbuhan tertinggi kedua secara global pada 2021, menurut perkiraan dari Dana Moneter Internasional (IMF).

“Ke depan, pentingnya China bagi perdagangan Eropa juga merupakan dilema yang jelas,” kata Brzeski.

Dia menambahkan bahwa Eropa akan kesulitan membuat pilihan antara berdagang dengan China dan membantu AS di bidang teknologi.

AS dan UE sendiri memang sempat berselisih dengan Beijing mengenai 5G dan transfer teknologi. Ini ketika pemerintah negara itu meminta perusahaan asing untuk membagikan teknologi mereka dengan imbalan akses pasar.

Di saat yang sama, Washington D.C. dan Brussels juga menyoroti hak asasi manusia di China.

“Resikonya adalah bahwa kompromi dan keseimbangan antara keduanya akan menghambat pertumbuhan di masa depan,” kata Brzeski.

Namun, Uni Eropa nampaknya ingin memperkuat hubungan ekonomi dengan China. Keduanya bahkan mencapai kesepakatan investasi baru pada bulan Desember yang bertujuan mempermudah perusahaan Eropa untuk beroperasi di Beijing.

Kesepakatan, yang tampaknya telah disepakati sebelum pelantikan Joe Biden pada akhir Januari, melarang China menghentikan akses atau memperkenalkan praktik diskriminatif baru di sektor manufaktur dan beberapa sektor jasa.

“Krisis saat ini tidak memberi kami pilihan lain selain bekerja sama dengan mitra global kami, termasuk China,” tegas Kepala perdagangan Eropa, Valdis Dombrovskis.

“Dengan bekerja sama kita dapat pulih lebih cepat secara ekonomi, dan membuat kemajuan di bidang-bidang yang menjadi kepentingan bersama seperti hubungan perdagangan dan investasi,” katanya dalam sebuah pernyataan.

Perjanjian tersebut belum disetujui oleh anggota parlemen Eropa, beberapa di antaranya mengkritik pemerintah China dan enggan menandatanganinya. (ATN)

Tags: Amerika SerikatAsia EropaChinaUni Eropa
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia’s $9 Million Immigration Scandal Tarnishes the Nation’s Global Reputation
  • Indonesia Centralizes Strategic Commodity Exports Under Single-State Gateway
  • Indonesia-Based International Love Scam Ring Busted After Stealing $2.5 Million From Victims
  • No Escape: Singapore Court Rejects Paulus Tannos’ Challenge, Extradition Looms
  • Indonesia’s Nickel Crisis Deepens: Weda Bay Mine Shutdown Puts 11,700 Jobs at Risk
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.