• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Saturday, June 6, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

Para Influencer Mode Protes Kejahatan Rasial Anti-Asia di AS

by Redaksi Asiatoday
February 19, 2021
in News
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Para Influencer Mode Protes Kejahatan Rasial Anti-Asia di AS

Para Influencer Mode Protes Kejahatan Rasial Anti-Asia di AS. Dok

ASIATODAY.ID, NEW YORK – Sejumlah influencer mode menyuarakan keprihatinan dan protes atas gelombang kejahatan rasial anti-Asia di Amerika Serikat (AS) dalam beberapa pekan terakhir

Melansir laman CNN, Kamis (18/2/2021), dalam 24 jam terakhir, suara-suara berpengaruh, seperti editor in chief Majalah Allure, Michelle Lee, dan desainer Phillip Lim telah menggema, di mana mereka mengunggah video di Instagram untuk berbagi pengalaman pribadi tentang rasisme. Mereka juga, meningkatkan kesadaran dengan menggunakan tagar #StopAsianHate.

“Banyak dari (tindak kekerasan) ini disebabkan kebencian dan kemarahan yang salah tempat dan frustrasi atas pandemi, hingga orang tua kita diserang secara random,” kata Lee.

RelatedPosts

Indonesia’s $9 Million Immigration Scandal Tarnishes the Nation’s Global Reputation

Indonesia-Based International Love Scam Ring Busted After Stealing $2.5 Million From Victims

No Escape: Singapore Court Rejects Paulus Tannos’ Challenge, Extradition Looms

“Ini bukan hanya pelecehan dan pemanggilan nama ‘kung flu,’ sekarang telah berpindah ke orang-orang yang diserang dan dibunuh,” tuturnya. “Kami telah meneriakkannya selama berbulan-bulan dan orang-orang tampaknya tak peduli.”

Kemudian dalam unggahannya, Lim mengatakan, ia telah menonton video viral tentang serangan dan kejahatan yang menargetkan bisnis Asia. Setelah menghubungi teman dan kolega Asia-Amerika, ia mulai mendengar cerita mereka.

Dalam keterangannya, teman dan kolega sang desainer merasa “diintimidasi, dilecehkan, dan diserang” di lingkungan mereka sendiri, selama sebulan terakhir. Banyak komunitas Asia menyebut, serangan yang tampaknya tak beralasan ini sebagai kejahatan rasial.

Council of Fashion Designers of America (CFDA), minggu ini juga telah mengeluarkan pernyataan tentang “tak ada toleransi untuk kejahatan rasial dalam bentuk apa pun.”

“Saya yakin kalian punya cerita keluarga sendiri dengan berbagai detail pengorbanan. Tapi, saya percaya semua dengan tujuan yang sama, untuk mencari kehidupan lebih baik,” ujar Lim setelah menunjukkan foto-foto perjalanan keluarganya berimigrasi ke Amerika.

“Jadi, saya meminta Anda sebagai sesama Amerika, sesama manusia. Maukah Anda berdiri bersama saya, maukah Anda berdiri bersama kami, sesama orang Amerika, orang Asia-Amerika, untuk menghentikan kebencian ini?” imbuhnya.

Influencer lain yang berbicara di media sosial terkait gerakan ini, termasuk direktur mode Instagram, Eva Chen, dan jurnalis mode Inggris Susie Lau.

Kasus Diduga Kejahatan Rasial

Penyerangan demi penyerangan diperkirakan dipicu rasisme dan diskriminasi terhadap orang Asia selama pertempuran melawan virus corona baru di Amerika Serikat. Ditambah bahasa yang menghasut, seperti “virus China” dan “kung flu” yang disuarakan mantan Presiden Donald Trump.

Menurut data yang dirilis Stop AAPI Hate pada 9 Februari, terdapat lebih dari 2,8 ribu laporan langsung dari kasus kekerasan anti-Asia di 47 negara bagian, termasuk serangan fisik, pelecehan verbal, dan dengan sengaja dibatukkan atau diludahi antara pertengahan Maret hingga akhir 2020.

Sejak akhir Januari, sejumlah serangan yang mencolok terhadap orang Asia-Amerika, khususnya lansia, telah membuat publik waspada, terutama selama liburan Imlek.

Di San Francisco, seorang imigran berusia 84 tahun dari Thailand meninggal setelah didorong dengan kasar saat jalan pagi oleh seorang pria 19 tahun.

Di dekat Pecinan Oakland, polisi mengatakan, seorang pria melukai seorang pria berusia 91 tahun, seorang pria berusia 60 tahun, dan seorang wanita berusia 55 tahun.

Seorang wanita 64 tahun dirampok di luar pasar Vietnam di San Jose, California. Meski sulit membuktikan insiden semacam itu semata-mata dimotivasi kefanatikan anti-Asia, banyak pendukung dan kelompok hak asasi memercayainya.

Pola ini juga dijelaskan menunjuk pada pola kebencian yang ditargetkan sejak awal pandemi COVID-19. (ATN)

Tags: Amerika SerikatAnti AsiarasisStopAsianHate
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia’s $9 Million Immigration Scandal Tarnishes the Nation’s Global Reputation
  • Indonesia Centralizes Strategic Commodity Exports Under Single-State Gateway
  • Indonesia-Based International Love Scam Ring Busted After Stealing $2.5 Million From Victims
  • No Escape: Singapore Court Rejects Paulus Tannos’ Challenge, Extradition Looms
  • Indonesia’s Nickel Crisis Deepens: Weda Bay Mine Shutdown Puts 11,700 Jobs at Risk
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.