• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Saturday, June 13, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

Teror Militer di Myanmar, Ribuan Warga Yangon Mengungsi

by Redaksi Asiatoday
March 17, 2021
in News
Reading Time: 1 min read
A A
0
Teror Militer di Myanmar, Ribuan Warga Yangon Mengungsi

Warga di Myanmar terus menyuarakan protes atas kudeta militer dan menuntut keadilan. Ist

ASIATODAY.ID, YANGON – Teror Militer di Myanmar menciptakan trauma bagi penduduk negeri.

Ribuan warga yang ketakutan terpaksa mengungsi untuk mencari tempat berlindung. Mereka meninggalkan kawasan industri di ibu kota komersial Yangon, Myanmar pada Selasa (16/3).

Pengungsian terjadi setelah kota itu ditetapkan sebagai wilayah darurat militer oleh junta militer yang berkuasa menyusul protes berdarah anti-kudeta selama akhir pekan.

RelatedPosts

Mass Student Protest Erupts in Indonesia Over Cost-of-Living Crisis

Indonesian Navy Intercepts Billion-Dollar Rare Earth Shipment With Radioactive Content

Indonesian Students Revive Reform-Era Protests, Mounting Pressure on Prabowo Government

“Di sini seperti zona perang, mereka menembak (militer) di mana-mana,” kata seorang penyelenggara buruh di distrik Hlaing Tharyar kepada Reuters, seraya menyebut sebagian besar penduduk terlalu takut untuk keluar.

Lebih dari 40 orang tewas oleh pasukan keamanan dalam protes di Hlaing Tharyar pada Minggu (14/3) dan beberapa pabrik China dibakar. Keluarga dari banyak korban menghadiri upacara pemakaman pada hari Selasa (16/3).

Myanmar berada dalam krisis politik sejak militer melancarkan kudeta terhadap pemerintah terpilih Aung San Suu Kyi pada 1 Februari. Militer menahan Suu Kyi dan anggota partainya lainnya, yang menimbulkan kecaman internasional yang meluas.

Prancis menyatakan Uni Eropa akan menyetujui sanksi terhadap orang-orang yang berada di balik kudeta tersebut pada Senin (22/3) depan.

Sementara itu, junta menuduh utusan internasional pemerintah yang digulingkan itu melakukan pengkhianatan karena mendorong kampanye pembangkangan sipil dan menyerukan sanksi, kata televisi yang dikelola militer. Tuduhan pembangkangan tersebut membawa kemungkinan sanksi hukuman mati.

Anggota parlemen Myanmar yang digulingkan junta, dokter Sasa yang tidak berada di negara itu, mengaku bangga telah didakwa.

“Para jenderal ini telah melakukan tindakan pengkhianatan setiap hari. Mengambil apa yang mereka inginkan untuk diri mereka sendiri, menyangkal hak-hak rakyat dan menindas mereka yang menghalangi mereka,” katanya.

Menurut kelompok aktivis Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik, lebih dari 180 pengunjuk rasa telah tewas ketika pasukan keamanan mencoba untuk menghancurkan gelombang demonstrasi. (ATN)

Tags: Krisis Myanmar
No Result
View All Result

Terbaru

  • Bank Jakarta and Blibli Launch Engagement Store at Jakarta Fair 2026
  • Mass Student Protest Erupts in Indonesia Over Cost-of-Living Crisis
  • Indonesian Navy Intercepts Billion-Dollar Rare Earth Shipment With Radioactive Content
  • Indonesian Students Revive Reform-Era Protests, Mounting Pressure on Prabowo Government
  • Ceria Corp, Indonesia’s Green Nickel Pioneer, Restores 200 Hectares of Former Mine Land Through ESG Initiatives
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.