• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Saturday, June 6, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home Business

Perusahaan Teknologi Asia Mulai Rambah Industri Bitcoin

by Redaksi Asiatoday
May 12, 2021
in Business
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Fantastis, Harga Bitcoin Mendekati Rp700 Juta

Bitcoin. Ist

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Geliat industri bitcoin kian meluas di dunia.

Setelah produsen mobil listrik Tesla hingga bank besar di Amerika Serikat (AS), sejumlah perusahaan di Asia mulai merambah industri bitcoin.

Dua Startup asal China dan Korea Selatan baru-baru ini mengumumkan nilai investasinya di Bitcoin dan beberapa mata uang kripto lainnya.

RelatedPosts

Indonesia Centralizes Strategic Commodity Exports Under Single-State Gateway

Indonesia’s Nickel Crisis Deepens: Weda Bay Mine Shutdown Puts 11,700 Jobs at Risk

China’s Nickel Giants Look to Africa as Policy Uncertainty Puts Indonesia’s Dominance at Risk

Di penghujung April, raksasa game online asal Korea Selatan, Nexon mengumumkan telah berinvestasi ke Bitcoin dengan berbelanja 1.717 bitcoin, dengan harga satu koin USD58.226 atau sekitar Rp840 juta.

Jika diakumulasikan, Nexon telah mengeluarkan dana USD100 juta atau sekitar Rp 1,4 triliun untuk berinvestasi di Bitcoin. Meski begitu, perusahaan menyebut ini hanya sekitar 2 persen dari total keuangan Nexon.

Perusahaan yang beroperasi di Jepang dan terdaftar di Bursa Efek Tokyo ini didirikan pada tahun 1994 oleh miliarder Korea Selatan Kim Jung-ju.

Nexon merupakan pengembang utama game PC dan seluler, dengan penggemar berat di negara-negara seperti Korea Selatan, Jepang, dan Cina.

“Pembelian bitcoin kami mencerminkan strategi disiplin untuk melindungi nilai pemegang saham dan untuk menjaga daya beli aset tunai kami,” kata CEO Nexon, Owen Mahoney dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip dari Nikkei Asia, Selasa (11/5/2021).

“Dalam lingkungan ekonomi saat ini, kami percaya bitcoin menawarkan stabilitas dan likuiditas jangka panjang, sambil mempertahankan nilai uang tunai kami untuk investasi masa depan,” tambahnya.

Jika seminggu lalu, Nexon baru mengumumkan bergabung dengan para penggemar Bitcoin, Startup asal China yang satu ini sudah lebih dulu.

Meitu, yang merupakan penyedia layanan aplikasi edit foto, menjadi salah satu perusahaan di Asia yang paling awal berinvestasi di sistem mata uang kripto, sejak awal April 2021.

Meitu diketahui menghabiskan USD100 juta untuk berbelanja dua mata uang kripto paling populer, Bitcoin dan Ethereum.

“Dewan menganggap ini sebagai demonstrasi kepada investor dan pemangku kepentingan bahwa grup tersebut memiliki visi dan tekad untuk merangkul evolusi teknologi, dan karenanya mempersiapkan merebutnya ke dalam industri blockchain,” sebut Meitu dalam pernyataan resminya.

Langkah signifikan dua perusahaan teknologi Asia tersebut menambah daftar perusahaan yang mulai mengadopsi sistem keuangan dengan kripto. Setelah sebelumnya sejumlah perusahaan di Amerika Serikat sudah berinvestasi, bahkan memakainya dalam transaksi mereka.

Salah satu yang paling terkenal adalah raksasa produsen mobil listrik Tesla. Elon Musk yang terkenal gemar mempromosikan sejumlah mata uang kripto diketahui telah mendorong perusahaannya berinvestasi di Bitcoin dengan nilai miliaran dolar beberapa bulan lalu.

Musk bahkan sempat menyebut perusahaannya akan menerima pembayaran dengan kripto.

“Kalian sekarang bisa membeli sebuah (mobil) Tesla dengan Bitcoin” tulis Musk dalam cuitannya di twitter.

Pada bulan Oktober tahun lalu, perusahaan layanan keuangan milik CEO Twitter, Jack Dorsery, Square Inc. mengumumkan telah berinvestasi ke Bitcoin sekitar USD50 juta atau lebih dari Rp 700 miliar.

Pada Maret lalu, salah satu raksasa perbankan investasi, Morgan Stanley juga dikabarkan telah menerbitkan memo internal tentang adopsi Bitcoin bagi nasabahnya.

Dalam memo tersebut, bank bakal memberi izin beberapa nasabahnya untuk berinvestasi di Bitcoin dengan sejumlah ketentuan. Terutama hanya bisa dilakukan oleh nasabah dengan nilai aset besar.

Adopsi mata uang kripto ini juga merambah ke sektor makanan cepat saji. Dua raksasa ritel makanan cepat saji, Restaurant Brands International yang merupakan induk dari Burger King, serta Yum! Brands yang merupakan induk KFC dan Pizza Hut  juga mulai mengadopsi Bitcoin sebagai alat transaksi.

Walau demikian, ketentuan pembayaran dengan Bitcoin baru dilakukan perusahaan di gerai mereka yang ada di Venezuela. Tujuannya untuk menggantikan transaksi dengan mata uang lokal mereka yang terlampau murah. (ATN)

Tags: Asia DigitalBitcoinCryptocurrencyKriptoTransaksi Digital
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia’s $9 Million Immigration Scandal Tarnishes the Nation’s Global Reputation
  • Indonesia Centralizes Strategic Commodity Exports Under Single-State Gateway
  • Indonesia-Based International Love Scam Ring Busted After Stealing $2.5 Million From Victims
  • No Escape: Singapore Court Rejects Paulus Tannos’ Challenge, Extradition Looms
  • Indonesia’s Nickel Crisis Deepens: Weda Bay Mine Shutdown Puts 11,700 Jobs at Risk
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.